UNDANGAN KESELAMATAN

. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa Ekaristi adalah prarasa dari Pesta Mesias. Allah yang Menjadi Manusia menantikan kita di Rumah Ibadat-Nya, menawarkan Diri-Nya bagi kita di atas mezbah kita, dan mengundang kita ke Pesta yang mewah dari Tubuh dan Darah-Nya sendiri untuk memberi makan jiwa kita dalam Ekaristi Maha Kudus. Karena itu, kita tidak boleh mendekati Yesus dalam Komuni Kudus “dengan berpakaian tidak layak”, yaitu, tanpa berada dalam keadaan Rahmat yang diberikan kepada kita dalam Pembaptisan (Bdk. KGK 2837 dan 1415).

KEPUTUSAN AKHIR YANG KRUSIAL

Bagaimanapun, anak kedua yang pada akhirnya menyesal dan melaksanakan perintah ayahnya, dianggap lebih baik dari anak pertama. Yang ideal seharusnya dia yang sejak awal menyatakan ‘Ya’ terhadap permintaan ayahnya dengan taat dan hormat, dan selanjutnya melaksanakan semuanya itu dengan rela dan sukacita, tanpa bersungut-sungut. Karena itu, tidak heran jika William Barclay, seorang Ahli Kitab Suci Protestan ternama memberi judul atas perumpamaan hari ini, ‘Yang Terbaik dari Dua Anak Yang Buruk’.

RANCANGANKU BUKAN RANCANGANMU!

Di dalam Kerajaan Allah, kita bersyukur bahwa Allah memilih untuk bermurah hati. Apa yang sebenarnya pantas kita terima karena dosa-dosa kita adalah kematian. Kita juga belajar bahwa dalam pelayanan Allah, kita memiliki tugas yang berbeda-beda untuk dilaksanakan, dan tidak peduli seberapa sepele tugas tersebut, kita semua akan dibayar dengan ganjaran kekal yang sama. Di mata Allah, kita semua setara. Pada akhir hari, kita semua dibayar dengan jumlah yang tepat. Di dalam Gereja, kita semua adalah rekan-rekan kerja, dan karena itu, kita semua menerima apa yang benar dari Allah yang sangat murah hati dan dermawan. Inilah “rahmat”, yakni “cinta-kasih cuma-cuma” yang Allah tunjukkan kepada kita melalui wafat dan Kebangkitan Putra-Nya yang tunggal, Yesus Kristus.

PENGAMPUNAN: SEBUAH KEBAJIKAN

kita teringat juga akan salah satu isi dari doa “Bapa Kami” yang berbunyi, “…..dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni orang yang bersalah kepada kami….”. Ini berarti bahwa syarat mendapatkan pengampunan dan belaskasih dari Allah Bapa ialah kesediaan kita untuk mengampuni, memaafkan dan berbelaskasih terhadap sesama yang bersalah kepada kita. Sangat sederhana, tetapi sekaligus sangat sulit. Karena ternyata bahwa manusia sering susah sekali untuk memaafkan dan mengampuni sesamanya sendiri yang bersalah kepadanya; lebih cenderung menaruh amarah dan dendam kesumat terhadap orang lain yang menyakiti hatinya; apalagi yang sudah dianggap sebagai musuh dan lawannya sendiri.

CORRECTIO FRATERNA

Dalam Injil hari ini (Mat.18 :15-20), Yesus mengajarkan bahwa kasih Kristiani yang sejati mengharuskan seorang Kristen untuk membantu mengoreksi atau memperbaiki mereka yang telah merusak komunitas melalui dosa-dosa publik. Jika orang yang bersalah menolak koreksi kasih dari pihak yang dirugikan, maka seorang Kristen harus mencoba melibatkan lebih banyak orang: pertama, “satu atau dua orang lain,” dan akhirnya “jemaat” sebagai persekutuan kaum beriman. Akhirnya, Yesus menyebutkan efektivitas doa komunitas dalam menyelesaikan masalah seperti ini, karena Kristus hadir dalam komunitas Kristen yang berdoa.

MENYANGKAL DIRI, MEMIKUL SALIB DAN MENGIKUTI YESUS

Yesus memutuskan bahwa saatnya telah tiba bagiNya untuk menghadapi kekuatan-kekuatan jahat dari para ahli Taurat dan kaum Farisi di tempat kekuasaan mereka, yakni di Yerusalem, dengan sepenuhnya menyadari konsekuensi besar yang akan terjadi. Dan konsekuensi itu tidak lain daripada sengsara yang berujung pada tragedi salib, wafat dan kebangkitanNya yang mulia, demi ketaatanNya kepada kehendak BapaNya dan demi penunaian tugas penyelamatan yang diembankan kepadaNya. Kiranya kita pun sebagai para murid Kristus, senantiasa siap menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti Dia di sepanjang “via dolorosa et via crucis” (jalan sengsara dan jalan salib), demi kasih dan kesetiaan kita kepada Tuhan dan sesama.

UNIVERSALITAS KESELAMATAN

Seringkali kita mendirikan tembok yang memisahkan kita dari Allah dan sesama. Injil hari ini mengingatkan kita bahwa cinta dan rahmat Allah diperluas kepada semua yang berseru kepadaNya dengan iman dan kepercayaan, tak peduli siapapun mereka. Dengan kata lain, perhatian Allah melampaui batas-batas suku, ras dan bangsa menuju hati dari semua yang hidup, dan Rumah Allah dimaksudkan menjadi Rumah doa bagi semua bangsa. Karena itu, pantaslah kita berdoa agar tembok-tembok yang dihasilkan oleh kebanggaan, arogansi, intoleransi, ketakutan, dan prasangka kita, dapat runtuh. Selanjutnya, kita mesti bersyukur kepada Allah atas segala berkat yang kita terima.