UNDANGAN KESELAMATAN

Hari Minggu Biasa XXVIII/A (Yes 25:6-10; Flp 4:12-14, 19-20; Mat 22:1-14)

0 26

Dalam bacaan-bacaan suci hari ini, “makanan” digunakan sebagai gambaran mengenai kasih dan kehadiran Allah di antara umat-Nya. Baik dalam bacaan pertama maupun Injil, sukacita keselamatan dibandingkan dengan perjamuan yang kaya akan makanan lezat, minuman terbaik, dan tempat di meja bersama Tuhan yang Ilahi.

Nabi Yesaya, dalam bacaan pertama hari ini, dengan visi besar kenabiannya mengenai universalitas keselamatan, bernubuat tentang perjamuan Mesias di Gunung Sion: sebuah perjamuan dengan makanan yang lezat dan anggur terbaik bagi segala bangsa, di dalamnya Allah bertindak untuk mengoyakkan kain kabung yang diselubungkan kepada segala bangsa, meniadakan maut untuk selamanya, menghapus air mata dari setiap wajah, dan menjauhkan aib dari umatNya. Perjamuan ini pasti akan terjadi, tetapi Yahweh berencana untuk mengundang bukan hanya Umat Pilihan-Nya, melainkan semua bangsa yang, “pada Hari itu” akan bersorak-sorai bersama, “Inilah Allah kita yang kita nanti-nantikan, marilah kita bersorak-sorai dan bersukacita karena keselamatan yang diadakanNya”.

Dalam bacaan kedua, Santo Paulus yang sedang di penjara, menyampaikan rasa terima-kasihnya kepada jemaat Filipi yang telah memberikan bantuan finansial kepadanya. Namun Paulus segera menghubungkan semuanya ini  dengan imannya yang teguh akan Yesus Kristus yang memampukan dia menanggung segala perkara dalam hidupnya. Karena imannya, maka bagi Paulus, tidak ada bedanya, apakah dia hidup “dalam kekurangan atau kelimpahan, dalam kekenyangan atau kelaparan.” Seluruh eksistensinya telah diubah oleh persatuannya yang erat dengan Yesus dalam wafat dan Kebangkitan-Nya. Karena itu, Paulus pun berdoa kiranya Allah sendiri yang akan membalas kebaikan jemaat dan memenuhi segala keperluan mereka menurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus.

Dalam petikan Injil hari ini, Yesus menyampaikan perumpamaan tentang perjamuan yang diselenggarakan seorang Raja untuk pernikahan Anaknya. Pada intinya, Yesus menggunakan perumpamaan ini untuk menjelaskan hubungan kita dengan Allah. Penolakan awal oleh para tamu yang diundang mencerminkan bagaimana segelintir komunitas Yahudi (para pemuka agama dan tua-tua masyarakat) merespons pesan dan utusan-utusan Allah. Ketidakhadiran dalam perjamuan tersebut menggambarkan banyak peluang yang terlewatkan dan pengabaian panggilan ilahi. Selanjutnya, pemberian undangan kepada semua orang, tanpa memandang latar belakang atau perbuatan mereka, menunjukkan sifat inklusif Allah. Hal ini menggarisbawahi ide bahwa keselamatan dan kasih Allah tersedia bagi semua orang, tanpa kecuali. Namun, ada pesan tersembunyi di dalamnya yaitu bahwa tidaklah cukup hanya sekadar hadir. Seseorang juga harus datang dengan persiapan, baik secara rohani maupun mental, untuk mengambil bagian dalam perjamuan ilahi.Tamu yang tidak mengenakan pakaian pesta, menjadi sebuah kisah peringatan bagi kita: bahwasanya meskipun undangan itu terbuka bagi semua, namun persiapan yang layak serta ketulusan hati sangatlah penting. Hal ini bisa ditafsirkan sebagai kebutuhan akan iman yang tulus dan komitmen kepada Allah. Sama seperti menghadiri pernikahan memerlukan pakaian yang pantas, demikian pun merangkul kasih Allah memerlukan kesetiaan dan kesiapan yang tulus.

Sesungguhnya terdapat banyak kesamaan antara perumpamaan Injil dengan warta nabi Yesaya dalam bacaan pertama hari ini. Yesaya berbicara tentang pesta besar yang disiapkan oleh Tuhan, yang menjanjikan kepuasan dan kegembiraan, penghapusan kesedihan, dan pengangkatan beban. Sedangkan Matius menyajikan perumpamaan tentang pesta nikah, di mana seorang raja mengundang tamu-tamu untuk merayakan pernikahan anaknya. Keterkaitan antara kedua bagian ini mencerminkan kelanjutan cinta dan upaya Tuhan dalam menawarkan keselamatan kepada semua orang sepanjang sejarah perjanjian. Penolakan oleh para tamu yang awalnya diundang dalam perumpamaan Matius dapat dilihat sebagai cerminan bagi mereka di zaman Yesaya dan bahkan di zaman kita, sekarang dan di sini, yang seringkali mengabaikan atau menolak tawaran keselamatan Tuhan karena berbagai godaan atau perhatian berlebihan terhadap hal-ikwal dunia. Pesta Mesianis dalam Yesaya melambangkan janji keselamatan dan kebahagiaan abadi, namun banyak yang melewatkan kesempatan ilahi ini. Demikian pula, dalam Matius, undangan raja yang mewakili panggilan Tuhan, yang diabaikan atau diperlakukan dengan penghinaan, menyoroti kecenderungan manusia untuk mengabaikan kekayaan spiritual demi keuntungan dunia yang fana. Dari kedua bacaan suci hari ini, jelas bahwa undangan Tuhan yang penuh kemurahan tetap ada, merentang sepanjang waktu dan perjanjian. Tantangan yang diajukan kepada kita, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok ialah: bagaimana dan sejauh mana kita mengakui, menerima, dan bersiap terhadap momen-momen ilahi ini? Baik kemegahan pesta Mesianis dalam Yesaya maupun kesemarakan perjamuan nikah dalam Matius, keduanya menekankan pentingnya menjadi siap secara spiritual dan menerima panggilan abadi Tuhan.

Pesan-pesan yang dapat ditarik dari bacaan-bacaan suci hari ini untuk hidup kita antara lain:

Pertama, kita perlu bersyukur kepada Kristus atas undangan ke perjamuan surgawi. Sejak dibaptis, kita telah diundang ke Perjamuan Surgawi dan diberikan Pakaian Pesta Pernikahan berupa Rahmat Pengudusan. Segala hak istimewa dan berkat agung ini ditawarkan secara gratis kepada semua orang, dan diberikan kepada kita yang menerima karunia Iman oleh Allah yang penuh kasih. Undangan ilahi untuk keselamatan ini harus disambut dengan kerelaan untuk terus-menerus diubah oleh Rahmat Allah dan seturut kehendak-Nya. Namun, halangan yang sama yang mencegah orang-orang para pemuka agama Yahudi masuk dalam Kerajaan yakni kebanggaan, cinta terhadap dunia dengan segala kekayaan, kekuasaan, dan kenikmatannya, juga bisa menghambat kita. Karena itu, kita harus siap melawan kecenderungan kita yang biasa dan menawarkan diri kita dalam cinta dan pelayanan kepada Tuhan dan umat-Nya. Itulah caranya kita menjaga Pakaian Pesta Pernikahan kita tetap bersih, cerah dan bercahaya setiap saat. Menerima karunia-karunia Allah ini juga menuntut bahwa, ketimbang tetap menjadi anggota pinggiran dalam komunitas paroki, kita perlu memberikan kesaksian yang kelihatan terhadap keyakinan kita. Hendaklah kita memiliki keyakinan bahwa, meskipun sebagai anggota Gereja kita diharapkan untuk berkontribusi aktif dalam kehidupannya dan memberikan kesaksian, namun pengampunan dari Allah dan komunitas selalu tersedia bagi kita ketika kita gagal. Hendaklah kita berdoa agar kita dapat menjaga Pakaian Pesta Pernikahan kita tetap murni dan tak bercacat, dan agar kita menjadi murid-murid yang benar-benar mempraktikkan ajaran-ajaran Yesus. Hendaklah kita berdoa untuk Iman, Harapan, dan Kasih yang semakin dalam, serta semangat tanggung jawab yang semakin baik terhadap komunitas kita.

Kedua, kita perlu membuat “ruang perjamuan” kita penuh dan bersemangat. Apa yang harus kita lakukan untuk memastikan bahwa “ruang perjamuan” di gereja-gereja kita dipenuhi orang pada setiap hari Minggu? Apakah kita cukup peduli untuk melakukan sesuatu jika mereka tidak penuh dalam hidup? Bagian pertama dari perumpamaan Injil hari ini memiliki hubungan erat dengan ibadah kita. Bukankah Tuhan mengundang kita ke sana? Bukankah kita juga dipanggil untuk menjadi utusan Tuhan yang diperintahkan untuk pergi dan menyampaikan undangan ke seluruh dunia bahwa segalanya sudah siap? Ataukah kita absen karena mempunyai urusan “yang lebih mendesak”, yang kita anggap lebih penting? Apakah kita tetap terjebak dalam sikap-sikap yang menindas dan diskriminatif? Apakah kita lebih suka balas dendam daripada mengampuni? Dalam hal ini, semua perlu bekerja bersama Tuhan untuk membersihkan diri dari sikap-sikap semacam itu.

Ketiga, kita perlu mengenakan Pakaian Pesta ketika menghadiri perjamuan Ekaristi. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa Ekaristi adalah prarasa dari Pesta Mesias. Allah yang Menjadi Manusia menantikan kita di Rumah Ibadat-Nya, menawarkan Diri-Nya bagi kita di atas mezbah kita, dan mengundang kita ke Pesta yang mewah dari Tubuh dan Darah-Nya sendiri untuk memberi makan jiwa kita dalam Ekaristi Maha Kudus. Karena itu, kita tidak boleh mendekati Yesus dalam Komuni Kudus “dengan berpakaian tidak layak”, yaitu, tanpa berada dalam keadaan Rahmat yang diberikan kepada kita dalam Pembaptisan (Bdk. KGK 2837 dan 1415). Santo Paulus mengatakan, “Barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap Tubuh dan Darah Tuhan. Karena itu, hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya” (1Kor 11:27-29). Sama seperti Raja memberikan pakaian bagi para tamu, demikian pula Yesus memberikan Sakramen Tobat untuk membersihkan jiwa kita. Tetapi jika kita  menerima Komuni Kudus dalam keadaan tidak layak karena lalai menerima sakramen pendamaian, kita sama seperti orang dalam perumpamaan yang datang ke pesta dengan pakaiannya yang kotor, dan bukannya pakaian yang pantas yang telah disediakan tuan pesta. Menurut Santo Gregorius, pria dan wanita yang datang ke Pesta Pernikahan dengan kebencian di dalam hati mereka, tidak mengenakan pakaian yang dapat diterima sebagaimana disebutkan dalam perumpamaan hari ini. Pria dan wanita yang Iman dan kasih mereka dingin, yang hadir di gereja hanya untuk alasan sosial, untuk memamerkan pakaian dan perhiasan mereka, atau untuk bertemu dengan kenalan, tidak mengenakan Pakaian Pernikahan yang menyenangkan bagi Raja, yakni Kristus Yesus. Pakaian Pesta Pernikahan kita terbuat dari perbuatan keadilan, kasih, dan kesucian kita yang diberi Rahmat. Hendaklah kita memeriksa diri kita sendiri untuk melihat apakah kita telah sepenuhnya menerima undangan Allah ke pesta Mesias, dan hendaklah kita ingat bahwa Pesta Perjamuan Mesianis menyiratkan persahabatan dan kedekatan, kepercayaan, dan rekonsiliasi dengan Kristus yang mengasihi kita setiap saat dalam hidup kita. Selamat hari Minggu dan selamat merayakan perjamuan Ekaristi Mahakudus. Tuhan memberkati…..Amin!!!

Comments
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More