KISAH PASKA, KISAH KASIH DI BUMI SERAWAK

10 April 

Terbangun pukul 6.30. Astaga, bisa terlambat nih. Segera mandi dan mengatur beberapa hal sebelum misa pagi pukul 7.00, karena sesudah itu langsung berangkat ke bandara. Misa bersama Vikjen Keuskupan Miri. Beliau memimpin misa dalam bahasa Inggris. Saya mendampingi. Umat yang hadir sekitar 30 orang. Di sini tak ada tradisi misa paska kedua.

Usai misa saya langsung bergegas mengatur barang-barang. Romo Kevin telah mengurus boarding pass secara online sehingga saya tak perlu antri di konter Air Asia. Dia juga sudah menandatangani MoU untuk kerjasama dengan Fakultas Filsafat. Ini akan membantu FF dalam akreditasi nanti. Poin kerjasama internasional mencapai angka penuh. Inilah pula salah satu misi pelayanan saya ke Miri.

Air Asia membelah langit Miri menuju Kuala Lumpur. Dua jam penerbangan. Lumayan lama, dan dengan itu lima peristiwa Rosario didaraskan. Selanjutnya penantian panjang di bandara Kuala Lumpur selama 10 jam. Air Asia menggeser saya ke penerbangan jam 22.20 malam. Sambil menunggu saya doa novena Kerahiman ilahi di cafe CU. Sepasang suami istri dari Sabah memperhatikan saya doa novena hari keempat dan koronka. Setelah doa mereka menyapa saya pakai bahasa Inggris. “Anda katolik?” Saya mengiyakan. Kata mereka, “Kami juga katolik. Kami melihatmu berdoa pakai Rosario tadi. Kami dari Sabah.” Saya lalu menjelaskan bahwa saya baru pulang dari Miri dan mau kembali ke Indonesia. Mereka pamit duluan karena jadwal pesawat mereka sudah dekat. Saya merenung, ternyata tanda salib dan Rosario dapat menggerakkan orang seiman untuk saling berkomunikasi dan mengakui iman yang sama. Inilah sebentuk paska. Renungan hari ini saya tulis tentang Petrus yang berani bersaksi tentang iman paska. Saya juga dalam kepolosan membuat tanda salib dan berdoa koronka menggunakan Rosario. Ternyata kesaksian iman sederhana ini menggerakkan pasangan suami istri dari Sabah itu untuk berkomunikasi dengan saya. Tuhan memberkati mereka.

Di cafe itu disediakan air panas gratis. Tapi gelas harus dibeli. Saya beli gelas dan sendok plastik, lalu putar kopi ginseng dan minum sambil membuka laptop untuk mengirim renungan ke FB. HP tidak saya gunakan karena paket roaming sudah habis. Internet bisa dimanfaatkan pakai laptop, walaupun hanya bisa lihat FB.

Pukul 13.30, saya lapar. Saya beli mie goreng Sedap di cafe itu, lalu bikin sendiri pakai air panas gratis. Setelah makan, saya lanjutkan mengetik beberapa catatan pengalaman. Lelah juga. Akhirnya saya memilih masuk ke ruang check in. Saya cari tempat duduk dan istirahat selama satu jam lebih. Pukul 15.00 saya doa kerahiman. Masih lama untuk masuk ke ruang tunggu. Di layar monitor belum kelihatan jadwal pesawat ke Denpasar pukul 22.20. Saya jalan-jalan dan melihat di salah satu sudut ada timbangan dan penyusunan barang agar disesuaikan dengan aturan barang cabin seberat 7 kg. Saya timbang, ternyata 10 kg karena ada oleh-oleh dari Logan Bunut berupa ikan kasam, yaitu ikan danau Logan Bunut yang diasinkan. Saya cari akal. Saya keluarkan ikan itu dan pegang sebagai buah tangan. Saya timbang lagi, ternyata 7 kg. Gadis pengecek berat koper tersenyum dan angkat jempol pada saya. Dia tidak tahu, kalau setelah di dalam nanti saya isi kembali kantong itu ke koper.

Saya akhirnya diizinkan masuk walaupun belum saat masuk ke ruang tunggu. Syaratnya tidak boleh keluar lagi. Saya bergerak menuju ruang tunggu pintu Q11. Di sepanjang jalan itu ada kursi-kursi tersedia bagi penumpang untuk duduk sementara menanti penerbangan. Saya memilih salah satu kursi, lalu duduk istirahat dan kembalikan bungkusan ikan kasam ke dalam koper. Hampir satu jam saya duduk sambil tidur-tidur ayam. Pukul 17.20 saya bergerak menuju ruang tunggu. Masih di lantai 3. Jalan-jalan alias pusing-pusing dahulu mencari restoran dan melihat minuman alkohol berkelas walaupun tidak beli. Sekadar cuci mata menghabiskan waktu. Menjelang pukul 18.00 saya merasa lapar. Saatnya makan malam. Kebetulan di situ ada restoran Ahh Yumm berlogo ayam jago. Harganya selangit seporsi, tapi apa boleh buat. Saya pesan nasi ayam dan minumnya teh tarik. Total 42 RM. Sekitar 140.000 IDR. Setelah makan, saya masih duduk santai sambil menulis catatan harian. Kisah paska di Long Jegan.

Pukul 19.10 saya turun ke lantai 2 ke bagian ruang tunggu pintu Q11. Di ruang ini ada kursi dan tempat cas hp. Lantainya berkarpet. Banyak penumpang yang tidak kebagian kursi memilih sudut tertentu dan berbaring. Ada juga bule-bule Eropa, laki-laki maupun perempuan berbaring di lantai karpet. Nyaman juga. Saya juga memilih salah satu sudut dan duduk santai berselonjor kaki mengurangi keletihan. Freshcare menjadi bermanfaat di saat seperti ini. Kaki terasa hangat. Begitu pula punggung dan kepala. Pukul 20.30 saya bergerak menuju pintu Q11. Di bagian pemeriksaan, petugas melihat isi koper ada hal mencurigakan. Dia suruh buka. Saya buka dan tunjukkan barang yang mencurigakan. Ternyata kantong berisi obat, di antaranya madu HDI. Dia ambil madu itu dan tanya ini apa, saya jawab madu untuk obat. Dia katakan, ini ukurannya melebihi standar. Harus di bawah 100gram. Sedangkan madu ukurannya 500gram. Saya katakan, maaf saya tidak tahu tentang syarat itu. Setelah timbang-timbang sejenak, akhirnya dia loloskan madu itu. Hanya dia memberi peringatan agar lain kali jangan terjadi lagi. Saya mengucapkan mohon maaf dan terima kasih atas kebaikan. Syukurlah, madu tidak ditahan. Kalaupun ditahan, saya tidak kuatir. Yang saya kuatirkan justeru kalau dia menahan ikan kasam dari Logan Bunut. Sudah bawa jauh-jauh dari sana, sebagai oleh-oleh khas, baru ditahan? Rasanya seperti nano-nano. Tapi untunglah itu tidak terjadi. Ikan kasam tetap dibawa ke Indonesia.

Pukul 21.45 pintu Q11 dibuka, penumpang diizinkan masuk ke ruang tunggu khusus dengan pembagian zona. Saya mendapat posisi zona 2 sesuai nomor kursi 20A. Pesawat tiba terlambat 10 menit. Akhirnya boarding juga molor 10 menit. Penumpang diizinkan naik pesawat sesuai zona. Air Asia Indonesia meraung-raung menembus langit malam Kuala Lumpur membawa seratus lebih penumpang menuju Denpasar. Selamat tinggal Kuala Lumpur. Selamat tinggal, Malaysia. Sampai jumpa lagi.

Tiba di Denpasar pukul 01.00 dini hari. Alen telah menunggu dan membawa saya ke penginapan Kak Garden Inn, Kuta. Kamar nomor 4. Istirahat.

 

11 April

 

Bangun kesiangan. Pukul 07.30. Perut keroncongan. Pemilik penginapan membantu mengantar saya membeli makanan. Nasi campur. Ada ayam, tempe dan tahu.

Sepanjang hari istirahat saja karena kecapean. Rencananya sore nanti dijemput Alen ke rumah kakak Toi Saudale. Tertidur sampai pukul 13.20. Lapar sekali. Saya segera keluar mencari makan siang di warung. Pas, ada warung babi panggang dekat penginapan. Saya pesan nasi campur. Minumnya teh pucuk dan temulawak. Setelah makan siang saya kembali dan tidur lagi sampai sore. Pukul 18.00 Alen akan menjemput saya. Sambil menunggu dia, saya novena kerahiman hari kelima. Sekaligus mengisi catatan harian.

Alen tiba. Kami segera berangkat ke rumah kakak Toi Saudale. Setelah sekian tahun tidak jumpa, akhirnya kami berjumpa lagi. Untuk pertama kali saya datang ke rumah mereka. Pak Nengah dan kakak Toi menerima kami berdua. Seru sekali perjumpaan sore ini. Banyak kisah nostalgia bermunculan. Pengalaman di rumah kampung Meleset Soe, bersama bapak Me’a dan mama Nely. Kisah kasih di masa silam. Kakak Toi menjamu kami dengan goreng pisang hangat, serta makan malam berupa nasi merah, sayur dan daging ayam campur kentang. Sedap sekali. To’o Nikolas Saudale ditelpon. Mendengar suara saya dia berusaha datang ketemu. Sudah 37 tahun kami berpisah. Dia datang bersama kedua anaknya, Hendrik dan Natalia. Suasana makin ramai. Cerita nostalgia kembali bermunculan. Niko yang kocak munculkan beberapa cerita kenangan yang lucu. Kami semua tertawa terbahak-bahak. Itulah saudara saya, teman sepermainan waktu kecil, di Kapan, Nikolas Saudale alias Noko.

Dia sekarang menjadi semacam pemborong bangunan terutama kolam renang. Dia belajar dari nol. Mulai dari kerja mebel, instalasi listrik, pompa air, kolam renang, magang di Malang tentang air. Dasar otak encer. Semuanya dipelajari dengan cepat. Akhirnya dia kuasai ilmu membuat kolam renang yang bagus. Sekarang dia menjadi pemborong bangunan khususnya kolam renang. Saatnya kami berpisah. Saya dan Alen kembali ke penginapan. Tuhan memberkati keluarga kakak Toi dan Niko. Sampai jumpa lagi.

12 April

Hari ini kembali ke Kupang. Pukul 07.00 selepas sarapan, saya menunggu saat ke bandara. Masih banyak waktu. Saya isi dengan mengetik catatan harian. Rencananya, nanti tiba di Kupang, misa sore sekalian novena hari keenam. Pukul 08.30, saya minta pemilik penginapan mengantar saya ke bandara. Tidak sampai 5 menit kami tiba di bandara. Saya check in di mesin untuk penumpang yang tidak bawa bagasi. Dapat nomor 34C. Masuk ke ruang tunggu. Pesawat ke Kupang di gate 6, pukul 11.05. Namun seperti biasa, selalu molor. Lion memang lain.

Akhirnya tiba juga saat boarding setelah boring menunggu lewat waktu. Di atas pesawat saya berdoa rosario lima peristiwa. Setelah itu menulis catatan harian di hp. Lumayan juga karena asyik menulis, tak terasa akhirnya tiba di Kupang. Lion Air mendarat dengan sekali hentak. Selamat kembali ke Pulau Timor, saya membatin dan membuat tanda salib. Terima kasih, Tuhan. Fr. Pier telah menunggu di pintu kedatangan. Akhirnya tiba kembali di seminari, di kamar unit Ibrani. Sweet room, sweet home. Puji Tuhan! Tuhan itu baik!

Syukur kepada Tuhan dan terima kasih kepada semua yang memungkinkan saya mengalami kisah paska, kisah kasih ini di bumi Serawak. Tuhan memberkati kita semua. Buona Pasqua!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *