7 April 2023
Jumat Agung. Saya bangun pukul 5.30 pagi. Hari ini akan memimpin ibadat di Long Jegan A dan B. Saya mengatur persiapan yang perlu. Lalu ke dapur untuk siapkan sarapan sendiri. Pater Philip belum bangun. Saya bikin nasi goreng telur. Sarapan dengan segelas kopi ginseng. Setelah sarapan saya mandi dan siap menunggu jemputan. Karena masih agak lama, saya isi waktu dengan menyusun renungan harian di laptop, sekalian mengisi catatan harian. Sepuluh menit sebelum jam keberangkatan, saya matikan laptop dan mengambil tas untuk mengisi Sakramen yang akan dibawa ke stasi. Jubah sudah siap. Bapak Paulus datang menjemput. Pater Philip juga sudah bangun. Saya pamitan dan kami berangkat ke Sungai Tinjar, ke pangkalan perahu, setelah singgah di gereja mengambil sakramen. Kami berdua saja. Saya duduk di kursi yang disediakan di perahu, dengan sakramen dalam tas melekat erat di dada. Deru motor speedboat membelah kesunyian pagi. Tak ada perahu lain. Juga tak ada percakapan karena bunyi motor yang meraung-raung. Maka saya isi dengan doa rosario lima peristiwa. Kami bergerak ke hulu, melawan arus. Sungai Tinjar berkelok-kelok dan ada banyak kayu mengapung, sehingga bapak Paulus dengan cekatan zig-zag mencari rute yang aman. Kami melaju dengan cepat, melewati beberapa kampung kecil. Di setiap kampung ada tambatan perahu. Di beberapa titik ada satu dua orang menjala ikan. Akhirnya berpapasan juga dengan satu perahu yang memuat seorang bule perempuan. Rupanya turis. Pemandangan alam sangat indah di kiri dan kanan. Burung belibis putih beterbangan kala perahu mendekat. Indah sekali.

45 menit berlalu. Akhinya kami tiba di kampung Long Jegan A. Gereja dekat sekali dengan tambatan perahu. Begitu turun langsung kelihatan gereja dan umat yang baru saja selesai jalan salib dan siap memasuki gereja. Kami berdua mencuci kaki dan masuk ke dalam gereja. Oya, di sini, tak perlu gunakan sepatu. Pastor dan umat semua telanjang kaki. Sepatu, sandal, kasut semuanya dilepas di depan pintu masuk. Gereja terbuat dari kayu seluruhnya, dalam bentuk rumah panggung. Umat yang hadir banyak, sehingga gereja kelihatan penuh. Di sini ibadat Jumat Agung bukan pada pukul 15.00 petang, tetapi pagi hari tergantung jam kedatangan pastor. Maka kami ibadat pukul 9.30.

Sebelum ibadat, saya tanya petugas liturgi semua, juga bagian-bagian berupa doa umat meriah, aklamasi umat saat perarakan salib, pasio, dll. Ternyata mereka tidak mengenal tradisi menyanyikan aklamasi. Semuanya didaraskan saja, termasuk doa umat meriah. Pastor di sini rupanya tidak terbiasa menyanyikan bagian imam. Maka saya tawarkan doa umat meriah dinyanyikan. Jawaban umat sederhana saja yaitu amin dengan nada yang sama dengan nada terakhir pastor. Kami latihan sejenak dan mereka setuju. Untuk pertama kali mereka mengikuti doa umat meriah yang dinyanyikan. Sedangkan bagian “Lihat salib, di sini tergantung Penebus dunia,” saya coba latih, tetapi mereka kesulitan menyanyikan bagian umat. Akhirnya kami sepakat didaraskan saja. Pasio dibacakan saja seluruhnya. Para petugas maju ke depan altar, saya memberkati mereka dan mereka mengambil posisi di panti imam bersama saya. Dalang atau narator seorang bapak yang berjuang membaca teks dengan susah payah. Rupanya dia kesulitan dalam persiapan, sehingga saat mulai, dia tidak langsung membaca Inilah kisah sengsara Yesus Kristus dan seterusnya tetapi malah dia membaca petugas pasio, “Dalang, Yesus, Yudas, Pilatus…”. Langsung katekis membisikinya untuk langsung ke bagian inti, bukan rubrik. Umat juga bereaksi. Saya senyum saja dan memberi isyarat ke katekis untuk menunjukkan teks. Saya bayangkan, Tuhan Yesus yang menderita juga tersenyum melihat kepolosan iman umatNya.
Pada saat pengormatan salib, saya ke belakang untuk mengambil salib yang dibungkus kain ungu dan mengarak ke depan. Di bagian belakang, saya membuka bagian kepala Yesus dan mendaraskan “Lihat salib, tempat bergantung Yesus Penebus”. Umat menjawab bagiannya. Mereka belum terbiasa menyanyikan bagian ini. Saya coba latihan sebelum ibadat tetapi dirasa berat, maka didaraskan saja. Di bagian tengah gereja saya membuka bagian tangan Yesus. Di depan altar saya membuka selurh kain, dan langsung terkejut. Ternyata bukan salib, melainkan patung Yesus kebangkitan ang membuka tanganNya. Segera saya membisik kepda katekis Paulus untuk mengambil salib dan menggantinya. Saya terima salib dari uncle Paulus lalu menempatkannya pada bantal di tangga panti imam. Penghormatan salib dimulai. Saya duluan dan diikuti oleh seluruh umat. Akhirnya semua berjalan baik. Setelah ibadat umat meminta foto sejenak. Lalu singgah minum di salah satu rumah umat, dan bersiap berangkat lagi ke kampung Long Jegan B.

Di sana umat telah menunggu untuk ibadat. Umat dari kampung Long Jegan C, biasanya datang bergabung di gereja ini. Gerejanya baru dibangun. Gedung tembok berlantai keramik. Sebelum ibadat saya tanya petugas liturgi dll seperti sebelumnya di Long Jegan A. Perayaan berjalan baik dan lancar. Sebagaimana di Long Jegan A, musik tetap dipakai yaitu gitar yang disambung dengan speaker. Petugas liturgi menjalankan tugas mereka dengan baik. Narator di sini lebih lancar membaca, nyaris tanpa kesalahan, kecuali setiap rubrik yaitu judul tiap bagian dibacanya juga. Rupanya dia berlatih dengan baik. Sehabis ibadat kami foto bersama. Lalu makan siang di rumah penghulu atau kepala desa. Menunya ikan kuah asam, ikan yang ditangkap dari sungai Tinjar. Ikannya enak sekali. Ada juga ikan kecil yang digoreng. Sayurnya tumis sawi dan kol. Sambil makan kami ngobrol tentang kampung Long Jegan. Ketiga kampung ini merupakan satu keturunan. Mereka berkerabat dan menjadi tuan tanah di situ sejak awal mula. Mereka suku berbahasa Berawan, yang berbeda dengan bahasa Iban, Kenya dan Kayan.
Setelah makan kami duduk di teras rumah panjang sambil minum minuman ringan lagi. Di sini tak ada silentium. Saya ikut saja kebiasaan yang ada. Salah seorang umat memainkan alat musik tradisional yang disebut “sape”. Lalu beberapa mama mulai menari. Saya juga ikut menari. Ketua stasi juga ikut menari tarian tradisional suku Berawan. Setelah itu kami berdua bapak Paulus kembali ke Lapok, pakai speedboat yang sama. Kembali terasa lebih cepat karena mengikuti arus sungai ke hilir. Sekitar 40 menit kemudian kami tiba di pangkalan perahu di Lapok. Saya ke gereja, menyimpan kembali sakramen, dan menuju pastoran untuk istirahat. Malamnya pukul 19.30, saya memberikan penjelasan kitab suci dan tanah suci kepada umat. Banyak yang hadir malam ini untuk mendengarkan penjelasan. Mereka ternyata haus akan pengetahuan iman. Saya tunjukkan foto tanah suci dan jelaskan kaitannya dengan teks kitab suci. Setelah presentasi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Ada banyak pertanyaan, di antaranya mengenai Betlehem, Bunda Maria, Bait Allah, kapela Yesus naik ke surga, gereja Kotbah di bukit, danau Galilea, kelahiran Yesus tanggal 25 Desember. Saya jelaskan semua pertanyaan itu dengan bertolak dari teks kitab suci. Saya mengajak mereka membuka teks, membaca dan membantu mereka menemukan dan memahami sendiri apa yang tertulis dalam teks. Kemudian barulah diberikan penjelasan tambahan untuk mendapat pengetahuan dan pemahaman lebih komprehensif.