4April 2023
Misa pagi pukul 07.00 bersama umat di kapel. Cukup banyak yang hadir. Rm. Kevin memimpin misa, saya ikut sebagai konselebran. Setelah misa langsung berbenah lagi karena akan diantar ke paroki Lapok di pedalaman. Saya akan membantu merayakan Paska di Lapok, sekitar 115 km dari Miri. Kami mampir sarapan lebih dahulu di sebuah warung. Ternyata ada juga umat yang sarapan di situ. Mereka menyalami Rm. Kevin dan saya. Saya pesan nasi campur. Di antara umat yang sarapan itu, ada sepasang suami istri. Diam-diam mereka membayar untuk kami. Mereka selesai makan duluan dan pamitan. Kami mengucap terima kasih atas kemurahan hati mereka. Suami istri yang baik hati. Tuhan memberkati.
Perjalanan ke Lapok lumayan jauh ditempuh sekitar satu jam lebih. Itupun karena masih singgah di salah satu paroki mengunjungi salah satu imam senior di situ. Ngobrol sekitar setengah jam lalu kami meneruskan perjalanan ke Lapok. Ketika tiba, pastor paroki Rm Joseph Ding tidak berada di tempat. Katanya ada pelayanan orang mati. Kami disambut dua imam Claretian yang menjadi pastor rekan di Lapok. Pater Antony dan Pater Philip, dari India. Keduanya belum lancar berbahasa Malaysia. Ada juga Jenifer, seorang katekis datang dan menyambut kami, mengurus minuman dll. Tak lama kemudian datang pula bapak Paulus yang akan menemani saya dalam perayaan Jumat Agung dan Minggu Paska di dua stasi. Kami bicarakan beberapa hal menyangkut program perayaan. Tinggal menunggu kedatangan pastor paroki, tapi ternyata dia belum datang juga karena ada misa pemakaman salah seorang umat. Rm Kevin dan Aziz akhirnya putuskan untuk pamit kembali ke Miri.
Saya masuk pada situasi baru. Situasi tanpa sinyal hp, apalagi internet. Lapok memang udik dan cukup tertinggal dalam pembangunan. Jalan raya, listrik, air minum, baru dibangun belum lama. Jaringan internet timbul tenggelam. HP saya tidak berfungsi. Saya dengan tenang dapat beristirahat dan fokus menulis. Saya mendapat sebuah kamar yang besar. Kamar tamu yang jarang ditempati. Jenifer segera mengurus beberapa hal untuk melengkapi kamar. Saya menikmati semua keadaan itu. Lalu istirahat selama satu jam. Suara asing terdengar di luar. Saya duga itu suara pastor paroki yang sudah tiba. Ternyata benar. Dia, Rm. Joseph Ding. Teman baik dengan Rm. Yono sewaktu di Roma. Dia studi Sejarah Gereja di Gregoriana, Roma. Kami ngobrol ke sana kemari, sampai makan siang yang dipesan datang. Kami berempat makan bersama. Nasi ayam.
Setelah makan kami istirahat. Saya masuk ke kamar dan tidur lagi sampai pukul 16.00 sore. Sunyi, tak ada orang. Saya jalan-jalan ke gereja mencari sinyal. Ternyata tetap tidak ada. Saya kembali dan tidur lagi sampai pukul 17.30. Bangun tidur saya mandi, lalu jalan-jalan ke lapangan, menonton anak-anak bermain bola kaki. Pater Antony datang menemani nonton bola sambil ngobrol pakai bahasa Inggris. Dia katakan bahwa malam ini kita diundang makan di rumah panjang, milik keluarga ibu katekis Lidwina Sigim. Dengan senang hati saya mengiyakan.
Malam pukul 19.00 kami berangkat, mampir lebih dahulu menjemput ibu Jenifer dan ibu Sigim. Untuk pertama kalinya saya masuk ke rumah panjang. Rumah panjang ini memiliki sekitar 40 pintu, artinya ada 40 keluarga menghuni rumah panjang ini, yang terbuat dari kayu dan berbentuk rumah panggung. Bagian depan berupa koridor yang panjang tanpa sekat, terbuka dari ujung ke ujung. Biasanya kalau ada gawai, semua berkumpul di koridor panjang ini dan makan bersama seluruh keluarga besar rumah panjang. Bagian berikutnya ruang keluarga, dari ruang tamu, kamar tidur, dapur hingga toilet. Setiap keluarga memiliki bagian lengkap dari depan hingga belakang. Kami masuk ke bagian keluarga yang kami kunjungi, keluarga dari ibu Sigim. Kami disambut kakak perempuan ibu Sigim bersama suaminya, bapak Jalin Luta, juga saudara dan saudarinya bersama para ponaan. Mama yang sedang di kursi roda pun ikut dalam perjumpaan persaudaraan ini. Kami ngobrol aneka hal, sambil makanan disiapkan. Mama meminta doa berkat. Saya mendoakan dia secara khusus bersama seluruh keluarga besar. Tuhan memberkati keluarga ini. Sesaat sebelum makanan disiapkan, saya minta ibu Sigim keliling rumah panjang ini untuk melihat-lihat. Dia mengantar saya ke keluarga abang dan kakaknya perempuan. Mereka 8 bersaudara, empat laki-laki dan empat perempuan. Sigim anak bungsu. Beberapa abangnya tinggal di tempat lain. Bapaknya telah meninggal. Rumah panjang adalah rumah keluarga besar. Setiap anggota keluarga yang telah menikah dapat menempati satu bagian yang lengkap dengan ruang tamu, empat kamar tidur, dapur dan kamar mandi serta toilet.
Makan malam menunya sederhana, dan disajikan secara kebiasaan setempat. Mula-mula disajikan sayur dalam mangkok, lalu nasi, lauk ikan, piring. Semuanya diletakkan di lantai. Yang makan, duduk bersila mengelilingi sajian dan menikmati hidangan. Sendok dan garpu ditaruh di baskom berisi air panas. Tiap orang memilih piring, lalu mengambil makanan yang disajikan. Pater Antony memimpin doa makan dalam bahasa Iban. Sesudah itu kami makan bersama sambil ngobrol aneka hal. Sesekali mama menimpali dengan seloroh segar. Kami tertawa gembira. Sehabis makan, mama mulai menyanyikan lagu tradisional berupa pantun yang isinya menyatakan terima kasih. Lagu itu disambung oleh anak angkatnya yang katekis di gereja, tapi dinyanyikan dalam bahasa Malaysia. Isinya terima kasih bagimu semua yang telah datang berkunjung ke rumah kami. Dinyanyikan bersahut-sahutan. Ada refreinnya dan ada solo yang dinyanyikan oleh katekis atau mama, lalu semua sambung, baik dalam bahasa Malaysia maupun bahasa Iban refreinnya. Akhirnya tiba saat berpisah. Kami kembali ke pastoran. Dua ponaan ibu Sigim, yaitu Tata dan Misel berusaha merangkul saya seolah tak mau pisah. Saya menggendong keduanya satu per satu dan memberkati mereka. Bapak Jalin sakit mata, dia meminta saya memberkatinya supaya proses pemulihan berjalan baik. Saya memberkatinya. Sampai jumpa.