8 April
Pagi ini terlambat bangun karena semalam tidur telat. Seperti biasa, selalu sayalah yang bangun duluan. Sarapan pagi ini adalah mie goreng dan telur rebus, minumnya kopi ginseng K-Link yang selalu dibawa ke manapun. Setelah itu saya menyapu ruang pendopo dan dapur. Hari ini akan bertamasya ke Danau Logan Bunut.
Pater Philip bangun dan bersiap-siap juga untuk ikut tamasya. Sebelum dijemput saya manfaatkan hotspot dari hp Pater Philip untuk kirim renungan ke FB. Sekalian pula saya menyelesaikan beberapa pekerjaan di laptop dan menulis catatan harian. Syukur pada Tuhan, tangan kiri makin membaik. Saya sudah bisa gunakan dua jari untuk mengetik sehingga lebih lancar. Kalau jari mulai ngilu, saya istirahatkan dan pakai jalur lambat: satu tangan saja.
Pukul 10.00 jemputan tiba. Saya berbenah dan kami berangkat. Yang jemput adalah Dony, anak dari bapak Jalin Luta, pemilik tanah Logan Bunut dan pengelola rumah makan di taman nasional Logan Bunut. Pemandangan sangat indah. Danau ini lumayan luas dan banyak jenis ikan di dalamnya. Biasanya turis mancanegara mengunjungi tempat ini. Pas masuk 10 RM. Untunglah kami bertiga dengan uncle Paulus dihitung sebagai keluarga dari bapak Jalin, sehingga biaya-biaya lain tidak dikenakan.
Kami duduk di pendopo rumah makan sambil menikmati alam tasik yang indah. Suara aneka burung dan binatang hutan meningkahi suasana siang itu. Saya mendengarkan dan berusaha membedakan bunyi setiap burung. Ternyata banyak juga jenis burung di sini.
Kami ngobrol tentang tasik ini. Katanya banyak buaya juga. Makanya dipasang pengumuman dekat danau, Berbahaya! Ada buaya. Hati-hati. Lalu uncle Paulus menjelaskan tentang beberapa pengalaman perjumpaan dengan buaya saat berperahu. Begitu pula tuan pemilik rumah makan. Umumnya buaya tidak mengganggu manusia selama manusia tidak mengusiknya. Satu kisah, seorang nelayan sedang menjala ikan di tasik. Dekat tempat menjala ternyata ada buaya. Biaya itu melihat ke arah perahu. Nelayan itu berbicara dalam bahasa Berawan, “Engkau mencari makan di sini, saya juga mencari makan di sini. Kita tidak saling mengganggu.” Buaya itu segera menyelam dan pergi entah ke mana. Nelayan itu menuju tempat buaya tadi berada dan menebarkan jalanya. Hari itu dia mendapatkan banyak sekali ikan. Ikan itu dijual sekilo 10 RM. Kisah ini membuat saya membayangkan cerita tentang Santo Fransiskus Assisi yang bisa bercakap-cakap dengan binatang dan makhluk ciptaan lainnya.
Mama telah memasak untuk makan siang. Aneka masakan ikan dan ayam. Sayurnya labu dan paria. Ikannya enak sekali. Hasil dari danau. Ada sekitar empat jenis ikan yang dimasak dengan pelbagai cara. Saya menikmati ikan saja. Daging ayam saya tidak makan. Sedap sekali makan siang bersama. Setelah makan, keluarga meminta saya doa berkat untuk istri dari Dony yang sedang sakit, dan juga tantenya. Sekalian pula berkat rumah makan. Saya memimpin ibadat singkat untuk pemberkatan orang sakit dan rumah usaha ini. Tuhan melihat dan memberkati.
Setelah itu kami bersiap-siap untuk keliling danau pakai perahu. Bapak Jalin memberi kami masing-masing jaket pelampung. Sungguh pengalaman mengasyikkan. Kami diantar ke tempat monumen kayu untuk menghormati leluhur penghuni generasi pertama di Logan Bunut. Dua kayu ukiran yang telah pudar dimakan usia. Katanya sudah sekitar 200 tahun. Dari situ kami bergerak berputar menyusur danau ke bagian penangkapan ikan kala air surut. Di bagian itu biasanya nelayan menangkap banyak sekali ikan. Lalu kami berputar menuju bukit tengah tempat penguburan dahulu kala. Di sebelahnya hutan tempat pemujaan suku ini sebelum menjadi Katolik. Di tempat itulah setiap tahun ada upacara adat suku.
Dari situ kami bergerak memutar ke tempat penangkapan ikan milik keluarga bapak Jalin. Rumah ikan ini pun ternyata menjadi tempat wisata yang menarik. Beberapa turis bermalam di rumah ini menikmati alam. Menangkap sendiri ikan dan memanggangnya. Semua peralatan masak tersedia. Di sinilah keluarga ini menangkap ikan berbagai jenis dan menjualnya. Bapak Jalin bercerita, pernah sekali dia mendapat banyak ikan dan menjualnya. Hasilnya mencapai 1.000 RM. Ikan itu tidak dibawa ke pasar. Dia cukup menelpon pelanggan dan mereka sendiri datang membelinya di Logan Bunut. Kami mencoba dua kali memasang jala tetapi cuma mendapat seekor ikan kecil. Seekor ikan besar yang semula terperangkap di jala melompat keluar. Setelah menikmati alam beberapa saat di situ kami kembali. Saya diminta doa berkat rumah penangkapan ikan ini. Tuhan memberkati rumah usaha ini. Pukul 15.30 kami pamit kembali ke pastoran karena malam akan misa Malam Paska. Terima kasih kepada keluarga bapak Jalin. Tuhan memberkati selalu.
Di pastoran saya istirahat sampai pukul 18.10. Misa malam ini pukul 19.30. Pater Philip telah siap menuju Bakong. Saya segera bersiap-siap. Uncle Paulus datang menanyakan beberapa hal untuk misa. Saya hanya katakan, ikut saja kebiasaan di sini. Api unggun belum bisa dinyalakan karena hujan. Sebagian umat telah berdatangan. Uncle Dennis berjuang sampai api alam bernyala. Puji Tuhan. Hujan gerimis dan perlahan reda. Pukul 19.30 kami berkumpul di api unggun dan memulai upacara cahaya. “Cahaya Kristus” selama ini biasanya didaraskan saja. Kali ini saya nyanyikan dan dijawab oleh umat dengan baik.
Saat pujian paska, saya nyanyikan dari teks yang disiapkan. Pakai not balok. Sebelumnya saya telah berlatih dengan Father Joseph. Dia juga ingin menyanyikan pujian paska, karena selama ini dia hanya baca saja. Saya bimbing dia menyanyikan pujian paska, selama satu jam di hari Kamis pagi sebelum dia berangkat ke Stasi. Baru kali ini mereka mengikuti pujian paska yang dinyanyikan paderi.
Kebiasaan di sini, saat kemuliaan barulah altar dihias dan dipasang lilin. Jadi saat kemuliaan dinyanyikan petugas yang telah ditentukan memasang kain altar, anak-anak berpakaian putih berarak membawa bunga dan dipasang, lampu dinyalakan. Semua terang benderang. Berubah dari kegelapan ke cahaya kebangkitan. Simbol yang bagus sekali. Peralihan dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru. Peralihan dari kematian kepada kebangkitan Kristus.
Setelah misa kami lanjut dengan acara paska bersama di aula paroki. Nama aula ini adalah Dewan Tuhan Yesus Lapok. Seluruh umat diundang juga untuk makan bersama. Sebagian kecil umat pulang. Menunya daging ayam, ikan dan sayuran. Saya lebih memilih ikan. Sehabis makan ada acara “patah pinggang”. Poco-poco dll. Ternyata mereka ikuti di YouTube. Saya pun ikut menari bersama. Saya cari lagu tebe Malaka dan ajar mereka tebe bersama. Seru sekali. Begitu pula cha-cha-cha. Pengalaman hari ini luar biasa. Sukacita paska sangat terasakan. Perwakilan umat, ibu Juliana atas nama umat dan pengurus paroki dalam sambutannya mengucapkan terima kasih atas kehadiran saya dalam perayaan paska kali ini. Mereka sangat senang. Saya pun mengungkapkan hal yang sama. Sungguh berkesan pengalaman paska kali ini. Tuhan itu baik.