KISAH PASKA, KISAH KASIH DI BUMI SERAWAK

9 April

Minggu paska. Pagi-pagi benar, saya telah bangun dan bersiap-siap untuk dijemput. Hari ini saya misa Paska bersama umat di Long Jegan A dan B. Mereka akan menjemput saya pagi-pagi. Kali ini tidak melalui sungai tapi melalui jalan darat. Sambil menunggu jemputan, saya sarapan sebutir telur rebus, telur paska yang diberikan umat semalam. Minumnya kopi ginseng. Karena jemputan belum datang juga, saya lalu doa novena Kerahiman ilahi hari ketiga. Pater Philip belum bangun. Selesai doa saya lanjutkan bekerja mengetik catatan harian dan menyusun renungan harian. Sepuluh menit sebelum jemputan tiba, Pater Philip bangun. Saya manfaatkan hotspot melalui HP-nya supaya bisa kirim renungan ke FB. Lumayanlah isi waktu beberapa menit. Selesai kirim, katekis Paulus bersama penjemput dari Long Jegan tiba. Saya langsung bersiap dan kami berangkat. Pater Philip akan pimpin misa di Lapok dan lanjut di Bakong.

Jalan menuju Long Jegan ternyata belum diaspal. Masih jalan tanah sehingga licin kalau hujan. Untung mobilnya cocok untuk medan seberat ini. Toyota Hilux dobel cabin. Perjalanan memakan waktu satu jam. Ketika tiba, umat telah bersiap-siap ke gereja. Gereja terletak persis di depan rumah panjang sehingga langsung kelihatan umat berdatangan ke gereja.

Misa Paska berlangsung meriah. Sebelum misa saya melatih mereka jawaban umat yang dinyanyikan seperti “Dan bersama rohmu”, “Terpujilah Kristus”, “Sudah kami arahkan”, “Sudah layak dan sepantasnya”, “Syukur kepada Allah, alleluya, alleluya.” Mereka belum terbiasa dengan jawaban umat yang dinyanyikan karena pastor terbiasa mendaraskan saja. Dengan penuh semangat mereka berlatih hal-hal baru. Biarpun nada terkadang sedikit melenceng, tidak apa-apa. Dalam misa mereka berjuang menyanyikan bagian umat tersebut. Banyak melenceng dari saat latihan. Tapi kami semua senang. Inilah paska. Setidak-tidaknya mereka telah belajar sesuatu yang baru.

Setelah misa saya memberkati anak-anak. Beberapa orangtua terutama yang sakit datang meminta berkat pula. Saya menumpang tangan dan memberkati mereka masing-masing sesuai intensi mereka. Beberapa mengajak foto bersama setelah berkat.

Ibu ketua liturgi mengingatkan bahwa sesudah ini ada pemberkatan tempat pembangunan gereja baru. Saya ke lokasi. Semua sudah siap. Saya pimpin upacara pemberkatan lokasi pembangunan gereja dan semua material yang tersedia di situ. Para tukang maju ke depan dan mohon berkat pula. Saya doakan kelima tukang itu. Semoga pembangunan gereja baru berjalan lancar. Tuhan memberkati.

Sesudah itu kami semua menuju rumah panjang untuk makan bersama. Luar biasa persiapan umat. Makan berlimpah. Saya diminta berdoa untuk makan bersama dan membagikan telur paska untuk anak-anak. Semua anak mendapat sebutir telur. Ketua kampung dan beberapa umat memberikan kenangan berupa kalung khas orang hulu. Juga manik-manik tangan berupa gelang pakai benang, sebagai tanda penerimaan saya sebagai bagian dari mereka. Saya dianggap anggota keluarga besar mereka dan mereka berharap saya kelak datang lagi.

Rumah panjang Long Jegan A

Setelah itu kami bergegas menuju Long Jegan B untuk misa lagi di sana. Umat telah menunggu pula. Sebelum misa saya latih mereka beberapa aklamasi umat. Hasilnya sama juga. Biar melenceng karena mereka lupa apa yang dilatih, tapi kami semua bersukacita. Kristus telah bangkit. Dalam kedua misa tersebut, saya berkotbah tentang kebangkitan Yesus, berdasarkan ketiga bacaan dan menarik pesan tentang kebangkitan kita sebagai pengikut Kristus. Bangkit dari hidup lama, cara berpikir lama, cara bertindak lama. Hidup baru dengan terarah kepada Kristus yang bangkit dan duduk di sisi kanan Bapa.

Setelah misa kami berkumpul di rumah panjang untuk makan bersama. Kepala Desa atau penghulu masyarakat bernama bapak Patrick meminta saya berdoa syukur di rumahnya atas terpilihnya sebagai penghulu, dan mohon berkat atas seluruh keluarga. Begitu pula ketua kampung Long Jegan B, bapak Dennis meminta saya doa berkat rumahnya. Saya pimpin doa syukur dan pemberkatan itu. Selanjutnya acara makan bersama. Setengah dari lorong panjang di depan rumah panjang dengan 43 pintu itu dipenuhi umat. Saya menyerbu ikan kuah asam yang lezat sekali. Ikan sungai. Semua larut dalam sukacita paska.

Setelah makan, uncle Paulus minta saya untuk mengajar menari tebe. Kami menari bersama poco-poco, tebe dan cha-cha-cha. Bapak Patrick dan bapak Dennis juga tak ketinggalan ikut menari bersama. Inilah sukacita paska secara sederhana di pedalaman Serawak. Suasana kekeluargaan sungguh terasa sekali. Orang-orang hulu ini sederhana dan polos, tapi tulus dan murah hati. Mereka merasakan paska kali ini berbeda karena kehadiran seorang pastor asing yang dirasakan sebagai bagian dari mereka. Bahasa Indonesia yang saya gunakan dipahami dengan baik karena mereka paham bahasa Malaysia. Selain itu acara sinetron Indonesia selalu diikuti lewat parabola. Ini membuat mereka memahami kotbah-kotbah saya, dan mereka bersyukur sekali.

Akhirnya tiba saatnya untuk berpisah. Saya harus kembali ke Miri. Uncle Frederik dan aunty Dora siap mengantar saya dengan Mitsubhisi dobel cabin. Sampai jumpa di lain waktu. Kalau ada jarum yang patah, jangan disimpan di dalam peti, kalau ada kata yang salah jangan disimpan di dalam hati. Kalau ada sumur di ladang, bolehlah kita menumpang mandi. Kalau ada umurku panjang, bolehlah kita berjumpa lagi. Saya mendapat hadiah topi dan kalung manik-manik beberapa untai.

Kami singgah di pastoran Lapok, ambil barang-barang saya, pamit dengan Pater Philip lalu berangkat ke Miri. Pasangan suami istri Frederik dan Dora ini ternyata keluarga beriman dan murah hati. Mereka dikaruniai empat putri. Yang sulung telah bekerja di Sabah. Yang lain masih sekolah. Keduanya bekerja di kanton sekolah. Ternyata uncle Frederik seorang master chef. Jago masak. Sebelumnya dia bekerja di kapal pesiar untuk masak. Makanya dia keliling sampai ke Singapura, Indonesia, Vietnam, Filipina dll. Karena alasan kesehatan dia minta berhenti. Dia berasal dari Sabah, menikah dengan ibu Dora. Kini mereka tinggal di Long Jegan, mengurus kantin sekolah, dan juga memiliki kebun sawit yang cukup luas. Keduanya berbahagia menikmati hidup apa adanya. Mereka murah hati dan suka membantu. Juga selalu tekun berdoa. Mereka berdevosi kerahiman ilahi pula. Sepanjang jalan kami sharing banyak hal. Sebelum diantar ke pastoran mereka mentraktir saya makan mie dan minum kopi di Cafe Seven dekat paroki. Sambil makan kami sharing iman. Senang sekali mengenal pasangan suami istri ini. Tuhan memberkati keluarga ini.

Uncle Frederik dan Aunty Dora

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *