6 April 2023
Bangun pagi pukul 5.45. Masih gelap. Saya segera ke dapur dan mengurus sarapan pagi sebagaimana telah saya pelajari kemarin. Pagi ini saya masak mie sendiri dan merebus telur dua butir. Sambil menunggu telur matang, saya memberi makan ayam yang mulai ribut di sekeliling pastoran. Setelah itu, saya seduh kopi ginseng yang saya bawa. Hmmmm…. sedap sekali aromanya. Di pagi yang sejuk, saya sarapan mie panas dan kopi panas. Romo Joseph bangun dan mengurus beberapa hal di gereja. Kedua pater masih istirahat. Setelah sarapan, saya mandi dan masuk kapel untuk berdoa.
Pagi ini seharusnya misa Pontifikal. Di Keuskupan Miri telah dibuat pekan lalu. Di Keuskupan Agung Kupang dibuat hari Selasa dalam pekan suci. Saya tidak sempat ikut di Kupang karena Romo Kevin mengatur jadwal penerbangan ke Miri tanggal 3, supaya tanggal 4 kegiatan bersama umat dan tanggal 5 ada pelayanan pengakuan untuk umat. Tapi rencana awal itu berubah karena uskup Richard meminta saya melayani di Lapok. Maka sehari setelah tiba di Miri saya diantar ke Lapok. Karena rencana berubah maka pagi ini, di kapel saya berdoa khusus untuk imamat saya. Pas di kapel ada buku misale dalam bahasa Inggris. Saya buka pada Kamis pagi dalam pekan suci. Ada rumusan misa Pontifikal. Saya baca semua doa dan bacaan. Lalu meditasi bacaan dalam perspektif imamat. Sungguh, imamat ini adalah karunia indah. Saya ingat kata-kata Santo Paulus, “Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat.” Anugerah ini diterima dalam kerapuhan manusiawi, bejana tanah liat yang rapuh. Tetapi Tuhan yang memilih dan menetapkan adalah setia. Yang terpenting adalah spiritualitas pengolahan hidup yang bersnambungan sepanjang hidup, dengan menjadikan Yesus Kristus sebagai pusat hidup. Saya bersyukur, karena imamat ini, maka saya bisa sampai di Lapok dan melayani umat yang sederhana ini. Tuhan itu baik. Saya lalu membaca pembaharuan janji imamat dalam teks misale. Saya berusaha resapkan apa yang saya baca dalam teks. Dialog imajiner di hadapan Bapa Uskup yang bertanya dan saya menjawab. Setidak-tidaknya melalui cara ini, saya juga membaharui janji imamat saya dan merefleksikan imamat saya di hari imamat ini.
Romo Joseph dan Pater Antony akan berangkat ke Stasi terjauh siang ini dan baru akan kembali Minggu paska. Keduanya memasak di dapur untuk makan siang bersama sebelum berangkat. Menunya ayam kari dan sayur tumis kangkung. Kami berempat merayakan pesta imamat dengan makan siang bersama. Romo Joseph memimpin doa dengan intensi syukur atas anugerah imamat dan berkat atas makanan. Alangkah indahnya persaudaraan dalam imamat. Sehabis makan keduanya berbenah untuk berangkat. Pater Philip mencuci piring. Saya masuk kamar dan mengambil selendang Timor. Romo Joseph sedang mengatur perlengkapan misa di kapel. Saya ke kapel dan memberikan kenang-kenangan selendang Timor kepadanya. Sesudah itu saya istirahat. Terbangun pukul 16.00. Romo Joseph dan Pater Antony telah berangkat ke Stasi. Tinggal saya dan Pater Philip. Malam ini saya memimpin misa di pusat paroki, sedangkan Pater Philip ke stasi terdekat yaitu Bakong.

Misa berlangsung cukup meriah dengan gaya liturgi yang menjadi kebiasaan di sini. Beda jauh dengan di Timor atau NTT pada umumnya. Lagu-lagu liturgi masih jauh dari standar karena beberapa lagu pop rohani dinyanyikan pula. Alat musiknya gitar yang disambung ke sound-system, dan dipakai dari lagu pembuka sampai lagu penutup. Mereka tidak mengenal silentium untuk Jumat Agung. Tak ada kebiasaan perarakan sakramen. Juga tak ada kebiasaan malam berjaga dan berdoa di depan sakramen. Sehabis misa semua kembali ke rumah. Umat yang hadir tidak banyak karena sepanjang hari hujan. Sakramen dipindahkan ke sakristi. Tempat pun belum disiapkan, maka sebelum misa saya segera mengatur sebisa mungkin tempat yang layak. Sederhana yang penting pantas. Tak ada misdinar, tak ada ukup. Misa dilaksanakan secara sederhana. Saya tidak bisa menyanyikan rumusan tanda salib karena umat tidak bisa menjawab dengan lagu yang benar. Mereka belum memiliki kebiasaan menyanyi. Maka semua bagian imam dibaca saja.
Dua belas rasul sudah ditentukan, tetapi beberapa tidak datang karena hujan. Akhirnya dicari pengganti saat pembasuhan kaki akan dilaksanakan. Beberapa relawan pengganti maju. Di antara para rasul itu ada empat ibu. Dibantu katekis Paulus dan seorang pemuda, saya membasuh kaki para rasul dan menyeka dengan handuk kecil yang disiapkan sebanyak dua belas helai. Setiap rasul mendapat satu handuk untuk mengeringkan kaki. Setiap kaki yang dibasuh saya doakan secara khusus. Tuhan memberkatinya dan keluarganya. Sesudah misa, dua katekis yang membantu membagi komuni, membantu saya juga untuk mengosongkan altar dan memindakan sakramen ke sakristi. Misa berakhir, sebagian umat kembali, sebagian masih menanti saya untuk foto bersama. Di sini tidak ada tradisi berjaga-jaga sambil berdoa tuguran di depan sakramen mahakudus. Saya kembali ke pastoran dan istirahat.