KISAH PASKA, KISAH KASIH DI BUMI SERAWAK

5 April 2023

Semalam tidur nyenyak. Tangan juga semakin menguat. Saya sudah bisa gunakan untuk mengetik, walaupun belum semua jari digunakan. Para romo yang lain belum bangun. Jam 5 saya sudah bangun dan mulai menyapu ruangan. Lalu masak mie. Romo Joseph heran melihat saya sudah bangun pagi sekali. Saya katakan, sudah biasa di seminari bangun pagi. Dia menunjukkan cara menyalakan kompor gas, merebus air dan memasak mie. Saya merebus pula sebutir telur dicampur dengan mie rebus. Sarapan pagi sederhana. Kedua pater Claretian belum bangun. Romo Joseph menunjukkan kapela dan mengatakan kalau mau misa, silakan atur saja sendiri. Mereka tidak terbiasa misa harian bersama. Setiap orang urus masing-masing, bisa di kapel pastoran, bisa juga di gereja paroki. Saya masuk ke kapel dan melihat banyak debu. Rupanya sudah lama ditinggalkan. Saya ambil sapu dan bersihkan ruangan kapel. Setelah itu saya mencari perlengkapan misa dan lain-lain. Semua tersedia tapi lama tidak digunakan. Saya siapkan semuaya dan merayakan misa sendiri. Intensi untuk semua umat di Keuskupan Miri dalam persiapan perayaan paska, juga untuk para imam dan Uskup, terutama untuk kami berempat di Lapok bersama seluruh umat paroki Lapok. Tuhan memberkati kami dalam perayaan Paska tahun ini.

Saya minta kesempatan kepada Romo Joseph untuk memberikan ceramah kitab suci kepada umat. Romo dengan senang hati mengatur agar pertemuan bisa terjadi malam ini pukul 19.30. Dia segera kontak umat, siapa yang bisa hadir, silakan hadir malam ini di gereja untuk mendengarkan penjelasan kitab suci dari Romo Sipri. Selanjutnya saya mengisi waktu dengan menyusun draft surat panitia Pertemuan Delkit Nusra dan menyelesaikan rangkuman bahan sidang tingkat 6 fratres KAK. Kedua pater Claretian telah bangun dan mulai aktivitas harian mereka. Untuk sarapan, tiap orang mengatur sendiri-sendiri. Keduanya minum kopi dan makan beberapa potong biskuit. Sama dengan Romo Joseph. Saya melanjutkan pekerjaan sampai tangan pegal. Lalu masuk kamar dan istirahat sejenak.

Pukul 11.30, Pater Antony masuk dapur dan mulai masak. Saya ke dapur juga dan menanyakan apa yang bisa saya bantu. Dia katakan, “Tidak apa-apa, Father lanjutkan saja pekerjaan.” Dia meracik bumbu. Rupanya dia akan masak sup ayam. Nasi sudah dijerang. Romo Joseph datang dan membantu membuat tumis kangkung. Pater Philip mengurus cuciannya yang menumpuk beberapa hari. Saya tidak tahu apa yang harus dilakukan, maka saya putuskan untuk doa rosario. Saya ke kapel, nyalakan lilin di depan patung Bunda Maria dan berdoa rosario. Pukul 12.30, semua sudah beres. Makanan sudah siap. Pater Philip mengatur meja makan. Kami berempat makan bersama, diawali doa yang dipimpin oleh Romo Joseph. Sambil makan kami bercerita banyak hal, pakai bahasa Inggris dan bahasa Malaysia. Selesai makan kami istirahat. Pater Philip mencuci piring. Saya masuk kamar dan istirahat.

Pukul 15.30 saya terbangun. Ternyata telah lewat jam kerahiman. Meski demikian saya tetap ke kapel dan berdoa koronka. Hawa panas sekali. Setelah doa saya kembali ke kamar dan istirahat lagi. Tidur sampai pukul 17.00. Romo Joseph telah bangun dan pergi mengontrol pengecatan lapangan badminton di aula. Pater Antony jalan-jalan sore di seputaran gereja. Pater Philip masih di kamar. Saya merasa gerah karena udara yang panas. Maka saya putuskan mandi duluan. Sementara mandi kedua pater telah duduk di pendopo dan minum sore. Saya pun gabung setelah mandi dan berganti pakaian. Kami bertiga minum teh jahe dan makan biskuit Roma. Ngobrol aneka hal dalam bahasa Inggris. Saya sulit menangkap bahasa Inggris bergaya India. Apalagi kalau bicara terlalu cepat. Meski demikian, ini kesempatan berlatih bahasa Inggris saya. Setelah minum saya masuk kamar dan mempersiapkan diri untuk ceramah malam ini. Saya diberitahu Pater Philip bahwa kegiatan mulai pukul 19.30 malam. Sebelum jam 19.00 malam, saya dengar di dapur ramai sekali. Ternyata ketiganya sibuk masak. Menunya nasi goreng campur telur dan daging babi. Sup ayam tadi siang masih ada sehingga dipanaskan lagi. Pater Philip membagi nasi ke dalam empat piring dengan porsi jumbo. Saya terkejut. “Too much for me!”. Pater Philip tertawa. Oke, nanti dikurangi saja sesuai kemampuan. Katanya sambil membawa piring lain untuk dibagi. Saya membagi dua nasi bagian saya. Hmmmm, lezat juga masakan mereka, tetapi harus diakui, terlalu asin. Saya sampai ambil air hangat dan minum seteguk setiap kali menelan makanan beberapa sendok.

Pukul 19.35, saya pamit duluan meninggalkan meja makan. Umat telah menunggu di gereja. Saya ke sana dan memberikan materi berupa pengenalan umum kitab suci katolik dan penggunaannya dalam liturgi. Sekitar 45 orang hadir dalam pertemuan ini. Saya perkenalkan diri dan seminari tinggi Santo Mikhael. Mereka heran akan banyaknya frater di seminari tinggi. Untuk Keduskupan Agung Kupang saja, jumlah frater 80 orang. Jika ditambah dengan yang berada di tempat TOP sebanyak 31 orang, maka total calon imam KAK sebanyak 111 orang. Tahun ini, jika tidak ada halangan, akan ditahbiskan Diakon, 10 orang frater KAK. Bagi mereka hal ini luar biasa. Mereka tiap tahun tidak ada calon. Tidak ada tahbisan uga. Uskup sedang meminta para pastor dan umat berdoa untuk panggilan menjadi imam.

Selanjutnya saya jelaskan kitab suci secara umum, Perjanjian Lama dan Baru, jumlah kitab, nama kitab, khusus mengenai Deuterokanonika, dan penggunaan dalam liturgi. Mereka mendengarkan dengan saksama dan bisa paham bahasa Indonesia yang saya gunakan. Pada sesi pertanyaan beberapa umat bertanya tentang Deuterokanonika, tentang kitab Wahyu, tentang kitab Amsal, tentang Pentateukh. Ada juga yang bertanya tentang Alkitab yang digunakan karena ternyata yang dibeli adalah alkitab untuk umat Protestan, yang tidak ada Deuterokanonika. Setelah mendapat penjelasan, mereka baru memahami, dan menyesal karena telanjur beli yang bukan Deuterokanonika. Ada juga yang menunjukkan Alkitab dalam bahasa Iban, maupun Malaysia. Hanya persoalannya juga sama, tidak ada Deuterokanonikanya. Kemudian salah seorang gadis menunjukkan alkitabnya. Saya cek dan ternyata berbahasa Malaysia dengan Deuterokanonika. Saya katakan, ini yang pas untuk umat katolik. Dengan pengetahuan dan pemahaman baru ini, umat kini dapat membedakan alkitab yang dipakai untuk umat katolik dan berusaha membeli yang baru sesuai penjelasan saya.

Romo Joseph yang mengikuti kegiatan ini menanyakan satu pertanyaan pula terkait ucapan Yesus di atas kayu salib, “Eli, Eli lama sabkhtani”. Saya jelaskan tentang teks itu dan penafsiran teologis tentang kehadiran Bapa dalam kesunyian. Bapa tidak meninggalkan Putra. Selanjutnya Romo Joseph menyatakan terima kasih atas materi yang disajikan. Sangat membantu umat dalam memahami kitab suci. Selama ini tidak pernah ada kegiatan semacam ini. Umat sangat senang mendapat pencerahan seperti ini. Romo mengakui kalau dalam hal pengetahuan iman, umat di Lapok yang terpencil ini memang masih sangat kurang. Maka apa yang dilakukan malam ini merupakan anugerah bagi umat. Sebenarnya ada banyak pertanyaan tapi karena terbatas waktu maka kegiatan diakhiri dan umat masih sambung dengan latihan menyanyi. Saya kembali ke pastoran dan istirahat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *