Yeremias Dimu Pengusaha Muda dari Wanokaka

Yeremias Dimu, berasal dari Rua, Wanokaka. Masih muda. Baru menikah, setelah yakin telah mapan dalam ekonomi. Meskipun lulusan Fakultas Sastra Inggris Mahasa Raswati Sempar di Bali, dia tidak berorientasi menjadi PNS. Sebelum selesaikan kuliah di Bali, dia sempat kuliah di Malang 3 semester. Dia hijrah ke Bali karena di Malang sulit mendapat pekerjaan sambil kuliah.

Di Bali, dia berjuang agar bisa kuliah sambil kerja. Dengan cara demikian, dia tidak menyusahkan orang tuanya soal biaya kuliah. Dia buktikan bahwa mandiri membiayai kuliah itu bisa sekali. Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Maka di bekerja apa saja di Bali untuk memperoleh uang. Kebanyakan dia ikut dalam kerja proyek pembangunan gedung hotel dll. Selain itu dengan kemampuan bahasa Inggris yang ditekuni dalam kuliah, dia juga akhirnya bisa kerja di hotel, di bagian resepsionis. Uang hasil kerja dikelola dengan bijaksana. Sebagian dipakai untuk kebutuhan hidup dan kuliah, sebagiannya ditabung untuk buka usaha di kampung. Cita-citanya adalah kembali ke kampung dan berwirausaha.

Setelah wisuda, dia kembali ke Sumba dan menetap di Rua, Wanokaka. Dia sempat pula bekerja di beberapa hotel di Sumba, mapun menangani beberapa proyek perumahan dari seorang pengusaha Prancis di Mamboro. Dengan itu dia makin menambah tabungannya untuk usaha mandiri. Dia melihat peluang usaha di bidang peternakan babi. Baginya, ternak babi menjanjikan. Babi bagi orang Sumba merupakan binatang adat yang bernilai ekonomis tinggi. Dalam urusan adat apapun, mesti ada babi. Tidak heran kalau harga babi sangat tinggi karena orang Sumba masih mempertahankan adat.

Suatu saat dia ketemu dengan seorang pengusaha dari New  Zeland. Dia berdiskusi tentang peluang usaha ternak babi. Orang New Zelan itu setuju dan siap memberikan modal usaha. Yeremias dipercaya untuk mengurus proyek peternakan babi. Baru dua tahun mengurus proyek ini, dia mampu meningkatkan kehidupan ekonominya, dan menciptakan peluang kerja bagi teman-temannya yang nganggur. Dengan hasil bisnis babi ini, dia merasa telah mapan untuk menikah. Kini Yeremias fokus pada usaha ini sambil melihat peluang usaha lain dari potensi daerahnya. Baginya, orang muda mesti berani mengubah cara berpikir yang menghambat. Jika mau maju, berani berwirausaha. Ada banyak peluang usaha di daerah sendiri. Yang penting buka hati, buka pikiran dan buka mulut. Selalu ada orang baik yang siap membantu. Di atas segalanya, dia percaya bahwa Tuhan yang dimaninya selalu ada dan memberi berkat atas setiap niat dan usaha baiknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *