PIKAT Terpikat Sabda Tuhan dalam Kitab Suci

 

Paguyuban PIKAT (Pendalaman Iman Katolik) Kupang yang kini berusia 19 tahun menyelenggarakan kegiatan pendalaman iman kesekian kalinya dengan tema Orang Katolik dan Kitab Suci dalam Perspektif Kitab Suci (27/4). Bertempat di aula Hotel Naka, pendalaman iman kali ini menghadirkan Rm Sipri Senda, dosen kitab suci pada Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang.

 

Di hadapan anggota PIKAT yang hadir sejumlah 23 orang, Rm Sipri menjelaskan secara ringkas 4 hal yaitu sejarah penulisan kitab suci Perjanjian Lama dan Baru, kanonisasi kitab suci, pemakluman sabda Tuhan kepada umat Katolik dalam liturgi dan anjuran untuk membaca kitab suci secara pribadi.

Pada poin pertama, para peserta menyimak sejarah pembentukan kitab suci yang dimulai dari Perjanjian Lama dalam tradisi Ibrani sampai tahap Septuaginta yaitu kitab suci Perjanjian Lama yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani. Dari Septuaginta inilah, Gereja Katolik sejak abad IV menetapkan kanonisasi Perjanjian Lama yang mencakup 46 kitab termasuk kitab-kitab yang ditolak oleh Martin Luther. Sedangkan Perjanjian Baru semuanya ditulis dalam bahasa Yunani dan berjumlah 27 kitab. Sejak abad IV hingga munculnya Martin Luther, Gereja Katolik memiliki 73 kitab dalam keseluruhan kitab suci, yakni 46 dalam Perjanjian Lama dan 27 dalam Perjanjian Baru. Oleh karena Martin Luther membuat kanonisasi untuk Protestan mengikuti kanon Ibrani, maka jumlah kitab salam PL menjadi 39. Tujuh kitab yang dikeluarkan adalah Tobit, Yudit, Barukh, Kebijaksanaan Salomo, Putra Sirakh, 1 Makabe dan 2 Makabe. Gereja Katolik menegaskan untuk kedua kalinya sehingga disebut Deuteeokanonika bahwa kitab suci katolik tetap seperti yang sudah dikanonisasi sejak abad IV yakni 46 kitab PL dan 27 kitab PB. Penetapan inilah yang dikenal dengan nama Deuterokaninika. Dalam alkitab edisi bahasa Indonesia dikenal dengan nama Alkitab Deuterokanonika yang diperuntukkan bagi Umat Katolik Indonesia.

 

Umat katolik memang tertinggal dalam membaca kitab suci secara pribadi. Namun tidak berarti umat Katolik tidak berjumpa dengan kitab suci. Perjumpaan umat dengan kitab suci terutama dalam liturgi, khususnya sakramen Ekaristi. Salah satu bagiannya adalah liturgi sabda. Komisi Liturgi Kepausan telah mengatur bacaan liturgi dan diterbitkan dalam kalender liturgi setiap hari sepanjang tahun. “Ada tiga lingkaran tahun bacaan yaitu Tahun A, Tahun B dan Tahun C. Tahun A dibacakan injil daei Matius, Thun B Markus dan tahun C Lukas. Sedangkan Yohanes dibacakan pada masa Natal, masa Paska dan sebagian hari Minggu Tahun B. Sedangkan bacaan pertama misa harian diatur dalam lingkaran tahun genap dan ganjil. Dengan pengaturan demikian, maka dalam waktu 3 tahun, 73 kitab itu telah diperdengarkan kepada umat katolik. Jadi umat Katolik lebih mendengarkan sabda Tuhan dalam liturgi, mendapat penjelasan dalam homili dan menerapkannya dalam kehidupan.”

Tentang membaca kitab suci secara pribadi, Rm Sipri menjelaskan amanat Konsisli Vatika II melalui dokumen Dei Veebum 22 dan 25 bahwa aksws kepada kitab suci dibuka selebar-lebarnya baginjmat beriman, dan konsili mendesak dengan sangat dan istimewa agar umat beriman membaca dan merenungkan kitab suci untuk mendapat pengertian tentang Kristus Tuhan. Santo Hironimus menegaskan, siapa tidak mengenal kitab suci tidak mengenal Kristus. Maka anjuran pastoral untuk umat katolik adalah mulai membaca setiap hari dengan berpedoman pada kalender liturgi.

Dalam sesi tanya jawab, beberapa peserta bertanya antara lain tentang Deuterokaninika, cara membaca yang benar, serta kesulitan memahami perikop yang dibaca. Alkitab Deuterokanonika memang merupakan edisi ekumene di Indonesia, yang diterbitkan dalam kerjasama antara Lembaga Biblika Indonesia dan Lembaga Alkitab Indonesia. Ini merupakan keputusan para uskup Indinesia untuk terbitan Alkitab bagi umat Katolik Indonesia. Mengenai cara baca kitab suci, bisa sesuai kalender liturgi dan ini sangat dianjurkan, kedua bisa secara berurutan dari Kejadian sampai Wahyu, setiap hari satu atau dua bab, dan ketiga baca secara acak, saat kitab suci dibuka. Mengenai kesulitan mengerti apa yang dibaca, Rm Sipri menganjurkan agar bisa lihat kamus di bagian belakang, atau bertanya melalui WA Grup tentang hal yang tidak dimengerti dan akan dijelaskan oleh romo.

 

Di akhir pertemuan para anggota PIKAT menyatakan kemauan untuk membaca kitab suci setiap hari. Bila ada yang tidak dimengerti akan ditanyakan kepada Rm Sipri melalui grup WA PIKAT atau japri. Bisa juga dibuat pembelajaran kitab suci bersama setiap bulan. Kiranya dengan cara demikian, harapan Konsili Vatikan makin terpenuhi, bahwa makin banyak umat Katolik membaca kitab suci dan menimba inspirasi untuk kehidupan kristiani yang sejati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *