Fondasi Metafisik, Dimensi Eksistensial, dan Pengharapan bagi Sinodalitas Gereja
Seminar STP ST Petrus KA
PENDAHULUAN
Dalam dinamika pastoral kontemporer, Gereja Katolik secara eksplisit mengarahkan perhatiannya pada realisasi sinodalitas sebagai gaya hidup Gereja di milenium ketiga. Inisiatif ini tercermin secara konkret dalam proses Sinode Para Uskup 2021–2024, yang menyerukan keterlibatan seluruh umat Allah dalam praksis syn-hodos—perjalanan bersama dalam iman dan misi.(Secretariat for the Synod of Bishops, 2021) Namun, panggilan untuk bersinodal bukan semata-mata persoalan struktural atau pastoral, melainkan menyentuh dimensi spiritual dan teologis yang lebih dalam, yakni pemaknaan tentang Gereja sebagai komunitas iman yang dibangun di atas paradoks cinta dan kerapuhan manusia.
Figur Santo Petrus menjadi ikon sentral dari paradoks tersebut. Ia adalah “batu karang” yang menjadi dasar Gereja (Mat 16:18), tetapi juga manusia rapuh yang menyangkal Tuhannya (Mat 26:69–75). Paradoks ini bukan kontradiksi, melainkan antinomi yang menggambarkan dinamika rohani khas Kekristenan: kekuatan justru lahir dari kelemahan yang ditebus dan dipulihkan oleh kasih ilahi.(Francis, 2018) Dalam pandangan ini, Gereja tidak berdiri di atas kesempurnaan manusiawi, tetapi pada partisipasi aktif dalam rahmat transenden yang bekerja melalui ketidaksempurnaan manusia.
Dalam terang itulah, refleksi teologis atas spiritualitas Petrus menjadi penting untuk memahami sinodalitas secara utuh. Spiritualitas ini bukan hanya berakar pada struktur hierarkis Gereja, tetapi juga menjelma dalam pengalaman eksistensial pribadi-pribadi yang saling mendengarkan, menopang, dan berjalan bersama dalam kasih dan kebenaran. Tesis utama artikel ini adalah bahwa spiritualitas Petrus menghadirkan sintesis antara fondasi metafisik (melalui primasi dalam terang Thomas Aquinas) dan dimensi eksistensial (melalui personalisme Karol Wojtyła), yang bersama-sama menopang sinodalitas Gereja secara integral.
Dengan menggabungkan kerangka realisme metafisik Aquinas—yang menekankan bahwa struktur Gereja memiliki basis ontologis dalam kehendak ilahi(Thomas Aquinas, n.d. S.Th III, q.21, a.1.)—dan personalisme eksistensial Wojtyła—yang melihat martabat manusia tetap utuh dalam kerapuhan(Wojtyła, 1979)—artikel ini bertujuan menawarkan sebuah kontribusi konseptual dan spiritual terhadap pemahaman sinodalitas sebagai gaya hidup Gereja yang tidak hanya berpijak pada kesatuan doktrinal, tetapi juga pada solidaritas insani.
Paradoks Petrus yang tampil dalam Kitab Suci dan penafsirannya dalam teologi tradisi menjadi sumber pengharapan bagi Gereja: bahwa kerapuhan manusia bukan halangan bagi karya keselamatan, melainkan justru medan tempat rahmat itu bekerja secara nyata. Maka sinodalitas sejati tidak mungkin dilepaskan dari dua hal: keberanian untuk berjalan bersama dalam kebenaran objektif (unitas fidei) dan kesediaan untuk memeluk kerapuhan insani dalam kasih yang menyelamatkan (communio personarum).(International Theological Commission, 2018)
- Petrus sebagai Batu: Fondasi Metafisik Primasi dalam Terang Thomas Aquinas
1.1. Fondasi Kausalitas Ilahi
Pernyataan Kristus dalam Injil Matius—“Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku” (Mat 16:18)—telah lama menjadi dasar teologis bagi doktrin primasi Petrus dalam Gereja Katolik. Dalam kerangka metafisika skolastik, Thomas Aquinas menafsirkan perikop ini bukan sekadar dalam makna simbolis, tetapi sebagai pengungkapan struktur kausalitas ilahi yang bekerja melalui perantara manusiawi. Kristus, sebagai Causa Prima (Penyebab Utama), tidak bertindak secara eksklusif melainkan memilih untuk menjalankan kehendak-Nya melalui causae secundae, yakni para rasul dengan Petrus sebagai yang utama.(Thomas Aquinas, n.d. S. Th. III, q.21, a.1, )
Menurut Aquinas, primasi Petrus bukanlah pemberian kuasa otonom secara manusiawi, melainkan partisipasi dalam otoritas ilahi yang berasal dari Kristus sebagai Kepala Gereja. Dalam komentarnya atas Injil Matius, Aquinas menulis bahwa Petrus dan para penggantinya menjadi “tanda kelihatan dari kesatuan iman” karena kuasa yang mereka terima berasal dari Kristus sendiri.(Aquinas, n.d. cap. 16, lect. 2) Dengan demikian, struktur hierarkis Gereja bersumber pada kausalitas transenden, bukan hanya pada dinamika historis atau politik.
Pandangan ini menegaskan bahwa tatanan gerejawi tidak dapat dipahami tanpa mengacu pada realitas metafisik yang mendasarinya. Dalam kerangka ini, primasi Petrus berfungsi sebagai pengikat ontologis dari kesatuan Gereja, yang menjembatani antara realitas ilahi yang tak kelihatan dan struktur sosial yang kelihatan.
1.2. Kekokohan Ontologis Gereja
Salah satu prinsip utama dalam metafisika Aquinas adalah bahwa sesuatu menjadi kokoh dan nyata sejauh ia berpartisipasi dalam esse, yaitu keberadaan yang berasal dari Allah.(Aquinas, n.d. I, q.4, a.1: “Bonum et esse sunt convertibilia” – yang baik dan yang ada bersatu dalam Allah.) Gereja, sebagai corpus Christi mysticum (Tubuh Mistik Kristus), bukanlah sekadar institusi historis, tetapi realitas ontologis yang hidup karena partisipasinya dalam kebenaran ilahi (Veritas). Oleh sebab itu, kesatuan Gereja tidak bergantung pada konsensus mayoritas atau kesepakatan sosial, tetapi pada keberakarannya dalam realitas objektif yang berasal dari Allah.
Dari perspektif ini, Petrus sebagai batu karang bukan hanya simbol stabilitas moral atau organisatoris, tetapi dasar ontologis bagi Gereja yang tidak dapat digantikan oleh sistem demokratis atau representatif apa pun. Keberadaan dan kesatuan Gereja ditopang oleh struktur yang mengakar dalam kebenaran ilahi, yang diwujudkan secara historis dalam figur Petrus dan para penggantinya.(Dulles, 1985, pp. 68–70)
1.3. Implikasi bagi Sinodalitas: Melawan Relativisme
Pendekatan Aquinas ini memiliki implikasi krusial terhadap pemahaman sinodalitas. Jika sinodalitas direduksi menjadi mekanisme demokratis atau forum konsensus belaka, maka ia kehilangan fondasi ontologisnya. Sinodalitas sejati hanya dapat berlangsung dalam kerangka kesatuan iman (unitas fidei) yang diikat oleh kebenaran objektif, bukan oleh opini mayoritas. Dalam hal ini, peran Petrus sebagai prinsip kesatuan menjadi mutlak: ia menjamin bahwa perjalanan bersama Gereja berakar pada realitas ilahi, bukan pada arus kultural atau opini sementara.(International Theological Commission, 20182.1)
Tanpa fondasi metafisik ini, sinodalitas akan mudah tergelincir ke dalam relativisme yang merelatifkan kebenaran, atau ke dalam individualisme yang memecah kesatuan. Dalam semangat Aquinas, kita ditegaskan bahwa communio Gereja bukan hasil negosiasi manusiawi, melainkan partisipasi dalam kesatuan yang sudah ada dalam Kristus dan dinyatakan melalui struktur ilahi.
- Petrus sebagai Pribadi yang Rapuh: Dimensi Eksistensial dalam Terang Karol Wojtyła
2.1. Martabat dalam Kerapuhan: Kisah Penyangkalan dan Pemulihan
Selain sebagai batu karang Gereja, figur Petrus juga mewakili sisi rapuh dari kondisi manusia. Injil menampilkan Petrus sebagai pribadi yang menyangkal Yesus tiga kali dalam situasi tekanan dan ketakutan (Mat 26:69–75). Namun, momen kegagalan ini bukan akhir dari kisahnya. Dalam Injil Yohanes, Yesus memulihkannya secara personal melalui tiga pertanyaan yang menembus lubuk hati: “Apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh 21:15–17).
Dalam pemikiran Karol Wojtyła, momen ini merepresentasikan dinamika ontologis eksistensi manusia sebagai persona—makhluk yang bebas, sadar diri, namun juga rapuh.(Wojtyła, 1979, pp. 20–25)
Sebagaimana dijelaskan dalam karya monumentalnya Person and Act, manusia memiliki martabat bukan karena ketiadaan kelemahan, tetapi karena kemampuannya untuk memilih, mencinta, dan bertanggung jawab meskipun dalam keadaan rapuh.(Wojtyła, 1979, pp. 55–57) Petrus menjadi ikon dari realitas antropologis ini: martabat manusia sebagai imago Dei tetap utuh meskipun mengalami kegagalan moral.
Pemulihan Petrus oleh Kristus bukanlah rehabilitasi sosial atau administratif, melainkan pemanggilan ulang eksistensial yang bersifat personal. Yesus tidak meminta pengakuan dogmatis, tetapi pertanyaan eksistensial tentang cinta. Di sinilah spiritualitas Petrus memperoleh kekuatan yang khas: ia adalah pribadi yang jatuh tetapi dibangkitkan bukan oleh prestasi moral, melainkan oleh cinta yang menerima dan mengutus kembali.
2.2. Eksistensi, Kebebasan, dan Tanggung Jawab
Wojtyła memandang bahwa kebebasan bukan sekadar kemampuan memilih, tetapi merupakan kapasitas untuk menyerahkan diri dalam cinta yang bertanggung jawab. Tindakan bebas manusia (actus personae) menjadi tempat terjadinya aktualisasi diri sejati.(Witek, 2008) Maka, ketika Petrus berkata “Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau”, ia bukan hanya mengafirmasi kembali relasinya dengan Kristus, tetapi juga memulai kembali eksistensinya sebagai pribadi bebas yang memilih untuk mengasihi meskipun telah gagal.
Tindakan ini diikuti oleh penugasan konkret: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” (Yoh 21:17). Dalam terang personalisme Wojtyła, hal ini menandakan bahwa eksistensi kristiani mencapai kepenuhannya bukan hanya dalam pengalaman batin, tetapi dalam keterlibatan aktif dan bertanggung jawab dalam kehidupan bersama. Gereja, sebagai communio personarum (persekutuan pribadi-pribadi), dibangun oleh pribadi-pribadi seperti Petrus: yang jatuh, diampuni, lalu diutus.
Dengan demikian, spiritualitas Petrus tidak hanya memperlihatkan kelemahan manusiawi, tetapi juga perjumpaan eksistensial dengan kasih yang membebaskan dan mengubah. Sinodalitas dalam konteks ini bukanlah perjalanan institusional semata, melainkan pergerakan dinamis pribadi-pribadi yang bertemu dengan Kristus dan diutus kembali ke tengah umat.
2.3. Implikasi bagi Sinodalitas: Solidaritas dalam Kelemahan
Paradigma sinodalitas yang dibangun di atas fondasi personalisme Wojtyła memiliki dimensi antropologis dan spiritual yang kuat. Ia menolak model sinodalitas yang semata-mata birokratis atau struktural, dan mengusulkan sebuah spiritualitas dialogis: saling mendengarkan, saling mengafirmasi, dan saling menanggung dalam kasih.
Petrus, sebagai pribadi yang pernah gagal, justru menjadi gembala yang mampu memahami kerapuhan umat. Ini memberikan pesan penting bahwa pemimpin Gereja tidak diundang untuk menjadi sempurna secara moral, melainkan untuk menjadi pribadi yang rendah hati, mampu mendengarkan, dan menghidupi solidaritas dalam kelemahan bersama.(II, 2003, Articles 43–45)
Wojtyła secara konsisten menekankan bahwa solidaritas bukanlah perasaan sentimental, melainkan kebajikan sosial yang menuntut tanggung jawab aktif terhadap martabat sesama.(Weigel, 1999, pp. 452–455) Dalam konteks sinodalitas, hal ini berarti bahwa Gereja dipanggil untuk berjalan bersama bukan karena keseragaman kekuatan, tetapi karena pengakuan bersama atas martabat dan kelemahan masing-masing anggota.