Wisuda Sarjana Universitas Katolik Widya Mandira tahun ini tidak hanya diwarnai oleh toga, orasi, dan haru bahagia, tetapi juga oleh semangkuk kesegaran sederhana: es buah. Di tengah teriknya Kota Kupang, Aula Immaculata dan halaman Penfui menjelma menjadi ruang belajar kewirausahaan yang nyata bagi mahasiswa semester I Program Studi Filsafat. Berbekal hanya sejuta, setengah dari kas angkatan dan setengah lagi pinjaman mahasiswa, sebanyak 105 mahasiswa Filsafat menyiapkan minuman segar. Ada es buah seharga Rp10.000 per cup, es teh dan es jeruk seharga Rp5.000.
Hasilnya manis, omzet Rp2.130.000, dengan keuntungan bersih Rp1.130.000. Uang itu bukan sekadar angka, melainkan benih solidaritas. Ada bagian yang disumbangkan untuk teman seangkatan yang berduka, ada juga untuk dekorasi kelas, sisanya disimpan sebagai modal usaha berikutnya pada Pameran Pesta Family Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui.

“Mau jadi imam ataupun awam, harus bisa cari uang. Supaya jangan hanya jadi beban untuk orangtua,” demikian refleksi Rm. Drs. Yohanes Subani, Pr., Lic.Iur.Can., dosen pengampu mata kuliah Kewirausahaan sekaligus dekan Fakultas Filsafat UNWIRA. Pesan sederhana itu menjadi roh kegiatan, bahwa filsafat bukan hanya seni berpikir, tetapi juga keberanian bertindak dan kemandirian

Di lapangan, semangat mahasiswa menjelma dalam rupa euforia. Ada yang menggotong dulang penuh gelas bening berisi warna-warni segar, ada yang berkeliling menawarkan pada keluarga wisudawan, ada yang berkreasi dengan jasa COD: pesan lewat WhatsApp lalu diantar langsung ke kos-kosan. Seorang mahasiswi sempat bergurau sambil membeli, “Es buah manis ke Frater pu senyum.” Gelak tawa pun pecah, mencairkan bahasa formal promosi menjadi keakraban persaudaraan.
Namun bukan tanpa tantangan. Perbedaan bahasa antara mahasiswa dan para orangtua wisudawan dari Dawan, Flores, dan daerah lain sempat membuat tawaran dagang tersendat. Tetapi dengan senyum, isyarat tangan, dan sapaan sederhana, komunikasi menemukan jalannya. Kesulitan pun berubah menjadi pelajaran hidup, bahwa berwirausaha adalah seni menjembatani perbedaan.
Gelas demi gelas berpindah tangan, bukan sekadar minuman yang dijual, tetapi juga kisah: kisah tentang kerja sama, kreativitas, dan keberanian mencoba. Manisnya es buah hari itu bukan hanya dari gula dan sirup, melainkan dari keringat dan tawa mahasiswa filsafat yang belajar bahwa ilmu mesti berpijak di bumi nyata. Maka, di balik toga wisudawan yang gagah, ada pula kesederhanaan sekelompok mahasiswa semester awal yang dengan tangan gemetar menuangkan es buah, dengan wajah ceria menawarkannya, dan dengan hati lapang merasakan: filsafat pun bisa mengecap manisnya laba. (Fr. Alex Jolong)