Filsafat Berwirausaha: Kopi, Kue, dan Persaudaraan di Pesta Family

Di pelataran halaman Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui, di bawah cahaya lampu yang memantul lembut dari dinding kapela, musik dan tawa berkolaborasi. “Merajut Persaudaraan, Menyebarkan Harapan” menjadi tema besar Pesta Family tahun ini. Namun di antara tarian, konser Mikhael Idol, lawakan penyanyi favorit, dan musikalisasi puisi, ada sebuah kisah sederhana: mahasiswa Filsafat semester I belajar berwirausaha dengan secangkir kopi dan sepotong kue.

Stan mereka tampak sederhana, namun semangat yang menghidupinya sungguh besar. Malam pertama mereka menawarkan kopi panas, kue kukus dua warna, dan pisang goreng. Malam kedua, menu berubah: kopi tetap menjadi primadona, didampingi keripik ubi pedas manis dan donat. Semua ludes terjual. Bahkan buku Antara Jubah dan Kamu ikut mewarnai etalase, membuktikan bahwa filsafat bisa hadir dalam wujud gagasan dan gula.

Berbekal uang belanja Rp505.500, murni dari kas kelas, mahasiswa filsafat menjelma pedagang dadakan. Dua malam penuh kreativitas, mereka mengubah pengeluaran menjadi hasil Rp694.000, dengan keuntungan bersih Rp188.500. Kalau sama-sama mau kerja dengan bahagia, semua terasa ringan. Itulah semangat mereka. Keuntungan itu disimpan, sehingga menambah kas angkatan menjadi Rp521.200, untuk modal usaha berikut, termasuk tawaran berdagang pada kegiatan kepolisian.

Suasana pameran meriah. Umat berbaur dengan frater, romo, dan karyawan seminari. Namun justru di tengah keriuhan itulah kreativitas promosi mahasiswa filsafat mencuri perhatian. “Kue dicelup ke kopi, dimakan malam-malam itu rasanya surga,” seru Frater Kristo sambil menawari pembeli. Yang lain menambahkan gombalan: “Kak, minum kopi lebih enak kalau dengan pisang goreng.” Gelak tawa pecah, pembeli pun berdatangan.

Saking semangatnya, stan mereka sempat tak terlihat karena dipenuhi para promotor dadakan yang menjemput pembeli langsung. Seorang mama berkomentar sambil tertawa, “Ade, karmana katong mo beli? Ini berdiri di depan semua ni.” Persaingan dengan stan lain, kesulitan mencari air panas, hingga keterbatasan logistik, semuanya diatasi dengan cara sederhana: dispenser frater dan hati yang gembira.

Rm. Gabriel A. I. Benu, Pr., S.Fil., memberikan apresiasi: “Semangat mahasiswa semester satu dalam mengelola uang dan berwirausaha patut diapresiasi.” Sementara itu, Fr. Gregorius Talaen, ketua kelas, menuturkan: “Sangat luar biasa partisipasi saudara-saudari yang telah berbagi cinta dan kasih melalui jual beli sajian sederhana ini. Semoga rasa dan perasaan yang telah berlalu tetap teringat di dalam hati kita semua.”

Pesta Family bukan sekadar ajang hiburan. Ia menjelma sekolah persaudaraan: tempat di mana filsafat bertemu wirausaha, di mana kopi menjadi jembatan perjumpaan, dan di mana kue kukus yang manis meninggalkan kesan lebih dalam daripada sekadar rasa. Di tengah halaman Seminari St. Mikhael, filsafat belajar mengecap arti kemandirian, dengan secangkir kopi, sepotong kue, dan hati yang penuh persaudaraan. (Fr Alex Jolong)