“Memberi makan tanah, supaya tanah kelak memberi makan kita.”
Di balik ruang kelas Fakultas Filsafat UNWIRA, tanah merah yang biasa menjadi saksi langkah tergesa para frater kini diolah dengan cangkul, tangan, dan doa. Program 1000 Pohon resmi dimulai: sebuah gagasan sederhana namun sarat makna. “Memberi makan tanah, supaya tanah kelak memberi makan kita.”
Di bawah terik matahari siang, 66 frater komunitas St. Mikhael Penfui sibuk menggali lubang 40x40x40. Setiap lubang diisi dedaunan kering, dibiarkan terurai menjadi kompos, menanti anakan pepaya yang akan tiba dari tangan ekonom Seminari Tinggi, Rm. Leo Manlea, Pr. Tercatat lebih dari 200 lubang sudah terwujud hari pertama, sebagai janji awal menuju ribuan pohon yang kelak berbuah manis.
Bukan sekadar bercocok tanam, Romo Drs. Yohanes Subani, Pr., Lic.Iur.Can, sang pelopor, menekankan visi kewirausahaan, kemandirian pangan, dan tanggung jawab ekologis. “Kamu hitung! Kalau 1 buah pepaya kita hargai 10 ribu rupiah: satu pohon 5 buah, sudah 50 ribu rupiah. Apalagi kalau 1000 pohon?!” ujar beliau sambil mengingatkan bahwa hasil panen bisa menjadi santapan sehat bagi para calon imam sekaligus sumber pemasukan sederhana.
Tak berhenti di pepaya, kreativitas pun digantung di sekeliling kelas. Dari botol plastik bekas, lahirlah pot bunga gantung berisi tanaman hias kecil dan sayuran segar. Modalnya nol, tapi berpotensi menghasilkan rupiah sekaligus memperindah wajah fakultas. Estetika dan ekonomi berpadu indah dalam wujud sederhana yang lahir dari tangan frater-frater muda.
Suasana kerja penuh riuh rendah: canda segar menyelip di antara tanah yang terhambur. Ada yang berseloroh, “Filsafat bukan hanya teori, tapi juga gali tanah!” Ada pula tawa saat seorang frater kotor dilahap abu tanah. Meski panas menyengat, semangat tak pernah kering. Seperti kata Fr. Julio No, “Semoga capeknya merawat pepaya ini bisa menjadi berkat juga untuk para frater, agar lebih sering makan buah dan menjaga kesehatan.”
Program ini tak sekadar soal pohon atau pot. Ia adalah latihan konkret bagi para filsuf muda untuk merawat bumi, melatih keberanian memulai usaha, serta membangun kesadaran bahwa tanah yang diberi makan akan kembali memberi kehidupan. Pepaya yang kelak ranum dan pot bunga yang menyejukkan mata adalah tanda: filsafat pun bisa bertunas, berakar, dan berbuah.
Di tanah yang digali ini, harapan sedang ditanam. Di botol plastik yang tergantung ini, masa depan sedang dirawat. Filsafat memberi makan tanah, supaya tanah memberi makan manusia.(Fr Alex Jolong)
