Memberi Rasa pada Hidup: Daniela dan Filosofi Sebungkus Keripik Ubi

Lepaskan apa yang Tuhan ingin kamu lepaskan. Karena ke depan akan ada yang lebih baik untukmu. Teruslah melangkah dan jangan mudah menyerah,”

Di sela kesibukan kuliah filsafat yang menuntut nalar tajam dan hati bening, Daniela Bano Seran, mahasiswi semester I dari Keuskupan Atambua, menghadirkan aroma minyak goreng dan manis cabe kering di udara sore Kampus Filsafat UNWIRA. Di tengah tumpukan buku Aristoteles dan lembaran tugas tentang etika, Daniela sibuk menimbang rasa asin, manis, pedas, dan sedikit keberanian.

Usahanya sederhana, keripik ubi. Modalnya pun tak seberapa, yakni Rp50.000 hasil menyisihkan uang jajan, cukup untuk membeli minyak, gula, cabe, dan plastik. Sementara untuk ubi sebagai bahan utama merupakan hasil kebun sendiri, dikirim langsung dari Malaka. Di balik aroma gorengan itu, tersimpan niat besar untuk menghidupkan kembali bakat berjualan yang sudah ia tekuni sejak SMA, sekaligus menjawab tantangan Romo Drs. Yohanes Subani, Lic.Iur.Can, sang dosen Kewirausahaan yang mendorong mahasiswa berpikir ekonomis tanpa kehilangan nurani.

Daniela menjalankan semuanya sendiri. “Masih jomblo,” ujarnya sambil tertawa kecil, menepis panas wajan dan rasa canggung. Di balik canda itu, ada keteguhan seorang anak yang ingin mengurangi beban orangtua, walau hanya dengan menjual camilan kecil.

Tantangan datang dari berbagai arah. Ada kemasan yang masih sederhana, kritik konsumen soal ukuran isi, dan rasa percaya diri yang belum sepenuhnya matang. Namun baginya, setiap kritik adalah bahan bakar untuk tumbuh. Ia belajar bahwa berwirausaha bukan soal modal besar, tapi tentang keberanian mengambil risiko dan kejujuran memperbaiki diri.

Bagi Daniela, filsafat dan wirausaha ternyata punya akar yang sama. Keduanya menuntut refleksi dan tanggung jawab. Filsafat melatih berpikir kritis, berdagang melatih berpikir realistis. Di antara keduanya, tumbuh kesadaran bahwa hidup bukan hanya soal berpikir, tapi juga mencipta dan memberi manfaat nyata.

“Lepaskan apa yang Tuhan ingin kamu lepaskan. Karena ke depan akan ada yang lebih baik untukmu. Teruslah melangkah dan jangan mudah menyerah,” katanya dengan nada yakin, seolah berbicara pada dirinya sendiri.

Harapannya sederhana tapi menyala, yakni membangun bisnis keripik terlaris se-Indonesia, bahkan sejagat raya. Ia bermimpi menghadirkan varian rasa baru, dari pedas manis hingga gurih madu, sembari terus menimba ilmu filsafat dan menanam nilai-nilai tanggung jawab dalam tiap bungkus keripiknya.

Di tangan Daniela, sepotong ubi menjadi simbol hidup: dari tanah tumbuh umbi, dari usaha tumbuh arti. Ia sedang belajar satu hal penting yang tak diajarkan dalam buku teks mana pun, bahwa memberi rasa pada keripik juga berarti memberi rasa pada hidup. (Fr. Alex Jolong)