Batugade. 24 November 2025-Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang bersama dengan mahasiswa Instituto Superior de Filosofia e de Teologia (ISFIT) Dili gelar seminar dengan umat lingkungan stasi Batugade Paroki Balibo Keuskupan Maliana dengan tema besar In Illo Uno Unum yang dilanjutkan dengan fokus pada diskusi terarah atau Focus Group Discussion (FGD) untuk mengumpulkan pendapat, dan ide peserta
Seminar dan FGD pada hari senin, 24 November itu merupakan pelaksanaan dari program penelitian dan pengabdian kepada masyarakat atau PPKM dari mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira dan ISFIT Dili. Peserta kegiatan pelatihan tersebut adalah umat Katolik stasi Batugade, Paroki Balibo, Keuskupan Maliana yang terdiri dari kaum remaja, orang muda dan orang tua.
Rm. Dr. Oktovianus Naif Pr yang adalah Narasumber pertama dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa untuk mencapai kesatuan dan harmoni dalam hidupnya, orang harus hidup dalam kerukunan yang dimulai dari lingkungan rumah tangga. Semangat In Illo Uno Unum “Di Dalam Yang Satu, Kita Menjadi Satu”, mengajak kita untuk melihat bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan sebuah keunikan. Ketika kita kembali pada Yang Satu, pada sumber kesatuan sejati, kita menemukan bahwa setiap perbedaan memiliki tempatnya dalam harmoni. Ia menegaskan bahwa dalam hidup berkeluarga, seorang suami ataupun istri tidak boleh saling memaksa untuk mengikuti karakter masing-masing sebab semua harus hidup di bawah keunikan masing-masing yang punya cita-cita luhur agar keluarga hidup harmonis.
Dalam kesempatan selanjutnya Bapak Francisco Assuncao Carceres Ms.Psi yang adalah Narasumber kedua, menegaskan bahwa dalam kehidupan keluarga misi gereja untuk mewujudkan keharmonisan perlu di wujudkan. Seorang suami atau istri wajib saling menghormati dan berbela rasa. Tegasnya.
Mama Dores, sapaan akrabnya yang adalah seorang peserta dalam seminar tersebut menyatakan bahwa untuk menjawab pertanyaan bagaimana cara membangun kerukunan dalam lingkungan masyarakat yakni dengan saling menghargai setiap perbedaan. Misalkan saja dalam kehidupan bertetangga, seseorang perlu saling menyapa dan hendaknya saling mendengarkan satu sama lain.
”Kegiatan ini sangat membantu para mahasiswa terutama bagaimana mengenal realitas umat. Kegiatan ini sangat bermanfaat sebab kita diarahkan untuk mengenal kesatuan yang hidup dalam perbedaan. Umat Batugade yang berada persis di perbatasan antara Timor Leste dan Indonesia menjadi contoh bagaimana kesatuaan itu sangat indah walau memiliki perbedaan. Tegas Efron Nggode seorang mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA ketika di wawancara.