Batugede, 25 November 2025 – Mahasiswa Program Pengabdian kepada Masyarakat (PPKM) Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang bekerja sama dengan Institut Superior Filosofia e Teologia (ISFIT) Dili menyelenggarakan kegiatan pengabdian budaya bertajuk “Menanamkan Nilai Komunikasi dan Komunio Kultural dalam Semangat In Illo Ulo Unum di Wilayah Perbatasan RI–RDTL”. Kegiatan tersebut berlangsung pada Selasa, 25 November 2025, bertempat di Aula Kantor Desa Batugede.
Kegiatan dipandu oleh Alia Reis dan menghadirkan dua narasumber, yakni Rm. Oktovianus Y. Pramana Pr., S.Fil., M.Fil., serta Serlio Verdial Maria Borges, M.Psi. Peserta terdiri atas masyarakat Desa Batugede dan sekitarnya, termasuk para tokoh adat yang memiliki peranan dalam keberlangsungan budaya lokal. Pelaksanaan kegiatan dimulai pukul 20.00 dan berakhir pada 22.00 waktu setempat.
Dalam penyajian materi, Rm.Yudha menekankan urgensi peran keluarga, khususnya orang tua, dalam mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi muda. Ia menegaskan bahwa keberagaman merupakan kekayaan, kesatuan adalah panggilan, dan wilayah perbatasan seyogianya berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antarkomunitas.
Pemateri kedua, Serlio Verdial Maria Borges, M.Psi., memberikan perspektif psikologis mengenai pentingnya komunikasi yang efektif dalam kehidupan masyarakat perbatasan. Ia menyoroti bahwa bahasa memiliki fungsi fundamental sebagai alat pemersatu dan sarana membangun interaksi yang harmonis. Pemahaman terhadap peran bahasa disebut mampu mengurangi potensi kesalahpahaman serta memperkuat kohesi sosial.
Materi disampaikan melalui metode presentasi interaktif yang dilanjutkan dengan sesi diskusi. Peserta diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan, menyampaikan pandangan, serta bertukar pengalaman terkait dinamika komunikasi dan praktik budaya di lingkungan mereka. Selain itu, panitia menyebarkan kuesioner untuk memperoleh data empirik mengenai kondisi sosial-budaya masyarakat Batugede, yang selanjutnya dianalisis sebagai bahan kajian.
Tim pengabdian menyebutkan bahwa kegiatan ini memberikan manfaat signifikan, terutama dalam memperkuat komunikasi antarwarga yang memiliki latar belakang budaya beragam serta dalam membangun komunio kultural di wilayah perbatasan RI–RDTL. Sejumlah peserta menyatakan bahwa materi yang disampaikan menambah wawasan dan meningkatkan kesadaran mereka tentang pentingnya nilai komunikasi dan pelestarian budaya lokal.
Salah satu peserta diskusi menegaskan bahwa bahasa dan budaya merupakan unsur utama yang berperan sebagai jembatan penghubung antaranggota masyarakat perbatasan. Menurutnya, kedua unsur tersebut menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari dan memastikan kelancaran berbagai kegiatan sosial.
Secara keseluruhan, kegiatan berlangsung dengan tertib dan mendapat apresiasi positif dari para peserta. Panitia berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkesinambungan guna memperkuat nilai komunikasi, memperdalam pemahaman budaya, serta meningkatkan kualitas relasi sosial masyarakat di wilayah perbatasan.