Batugade, 24 November 2025 — Pada hari pertama pelaksanaan penelitian di wilayah Timor Leste, tepatnya di Batugade, para mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang dan mahasiswa ISFIT Dili kembali meneruskan kegiatan penelitian mengenai Sensus Communis yang sebelumnya telah dilakukan di wilayah perbatasan Indonesia. Kegiatan ini merupakan lanjutan langsung dari penelitian hari pertama di Indonesia, dengan fokus yang sama, yaitu menggali nilai-nilai dasar kebersamaan dan harmoni sosial yang hidup di masyarakat perbatasan RI–RDTL.
Seperti metode yang dilakukan sebelumnya, penelitian di Batugade dimulai dengan sesi wawancara mendalam. Bedanya, wawancara kali ini tidak lagi mengikuti keseluruhan daftar pertanyaan yang digunakan di Indonesia. Para mahasiswa hanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat penggalian, untuk memperdalam temuan sebelumnya dan memfokuskan pembahasan pada informasi yang relevan dengan konteks budaya Timor Leste. Pendekatan ini dipilih agar peneliti bisa membaca pola-pola nilai, kebiasaan, maupun simbol budaya yang mungkin serupa atau berbeda di antara kedua wilayah tersebut.
Sebelum sesi wawancara dimulai, fasilitator kegiatan, Pak Ligorio Borromeo, Ms.Fil, memberikan arahan penting kepada para mahasiswa dan para informan yang hadir. Pak Ligorio menjelaskan tujuan penelitian, pendekatan yang digunakan, serta pentingnya menggali nilai-nilai budaya melalui pengalaman langsung masyarakat lokal. Ia juga menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar mengumpulkan data, tetapi juga membangun ruang dialog antara dua komunitas yang pada dasarnya memiliki sejarah, akar budaya, dan ikatan sosial yang sangat dekat.
Hadir bersama tim penelitian terdapat 10 informan dari masyarakat Batugade. Mereka terdiri dari tokoh adat dan tokoh masyarakat, yang memahami tradisi hidup di wilayah perbatasan. Informan-informan ini berbagi pengalaman, cerita, dan nilai-nilai budaya yang mereka jalani dalam kehidupan sehari-hari. Proses wawancara berlangsung secara terbuka, akrab, dan diwarnai sejumlah pengungkapan penting yang memperkaya gambaran penelitian.
Selama wawancara mendalam, para mahasiswa menemukan banyak informasi baru yang sebelumnya belum muncul dalam sesi penelitian di Indonesia. Namun, yang paling menarik, tim juga menemukan sejumlah kesamaan nilai budaya yang sangat kuat di kedua wilayah. Mulai dari tradisi saling membantu, penghormatan terhadap adat, cara memaknai hubungan kekeluargaan lintas negara, hingga keyakinan bahwa perdamaian adalah dasar hidup bersama. Kesamaan ini menunjukkan bahwa masyarakat di kedua sisi perbatasan tidak hanya hidup berdampingan secara geografis, tetapi juga memiliki “jiwa budaya” yang serupa.
Beberapa informan juga menuturkan praktik adat yang masih dijalankan hingga kini, serta nilai-nilai universal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Cerita-cerita mengenai kebiasaan saling mendukung dalam keluarga besar, tata cara berbagi sumber daya, serta nilai religius yang menjadi penopang hubungan sosial, semakin menegaskan keberadaan Sensus Communis dalam kehidupan masyarakat perbatasan.
Seluruh proses wawancara memberikan kontribusi penting terhadap arah penelitian yang sedang dilakukan. Data yang diperoleh pada hari pertama di Batugade tidak hanya memperdalam hasil temuan di Indonesia, tetapi juga menunjukkan bahwa harmoni sosial lintas negara memiliki fondasi budaya yang kuat dan konsisten.
Dengan informasi yang semakin kaya, tim peneliti kini memiliki landasan lebih solid untuk menyusun analisis akhir dan merumuskan gambaran menyeluruh mengenai Sensus Communis di wilayah perbatasan RI–RDTL. Kegiatan di Batugade ini menandai langkah penting dalam memperluas fokus penelitian dan memperkuat dialog budaya antara Indonesia dan Timor Leste.