Belajar dari Spiritualitas Pagi Maria Magdalena, Tatkala Pagi adalah Momen Rahmat untuk Seluruh Hari

 

Renungan VII | Yohanes 20:1-2.11-18

Oleh: Rm. Yudel Neno, Pr.

Dalam pengalaman iman, pagi tidak sekadar menandai pergantian waktu, tetapi juga membuka kemungkinan baru bagi manusia untuk keluar dari keterkungkungan batinnya. Perspektif inilah yang mengemuka dalam Renungan VII berdasarkan Yohanes 20:1-2.11-18, sebagaimana diuraikan Rm. Sipri Senda, Pr dalam retret para imam. Maria Magdalena tampil sebagai “perempuan pagi” yang bertransformasi menjadi “perempuan Paskah”. Peralihan ini bukan pergantian sebutan yang bersifat retoris, melainkan perubahan mendasar dalam cara memahami kehilangan, mengolah kecemasan, dan menghayati perjumpaan dengan Kristus yang bangkit.

Pada mulanya, Maria Magdalena merupakan figur kemuridan yang terluka oleh kehilangan. Kubur kosong tidak serta-merta menghadirkan kabar sukacita, tetapi justru menimbulkan prasangka bahwa jenazah Yesus telah diambil orang. Artinya, fakta yang sama dapat melahirkan pemahaman berbeda bergantung pada kedalaman pengenalan iman. Bagi Maria, kubur kosong mula-mula adalah tanda ketiadaan; setelah perjumpaannya dengan Tuhan, ia menjadi pintu masuk kepada kepastian kehidupan. Di sinilah Paskah bekerja sebagai transformasi substansi pemahaman: dari kesimpulan yang dikuasai kecemasan menuju pengakuan yang diterangi kebangkitan.

Perlu diperhatikan bahwa langkah Maria menuju kubur berlangsung “pagi-pagi benar, ketika hari masih gelap”. Rm. Sipri membaca keterangan waktu ini dalam latar tradisi Yahudi yang menghormati Sabat sebagai hari perhentian. Setelah masa Sabat berlalu, Maria memilih pergi pada pagi hari pertama minggu itu. Ia tidak membiarkan penundaan, suasana genting, ataupun risiko perjalanan memadamkan kerinduannya. Dengan demikian, pagi tampil bukan semata kategori kronologis, melainkan kategori spiritual: saat ketika kerinduan kepada Yesus mendahului berbagai urusan lain.

Akan tetapi, spiritualitas pagi tidak boleh direduksi menjadi kebiasaan bangun lebih awal. Banyak orang bangun pagi tanpa pernah sungguh mencari Tuhan. Nilai rohaninya justru terletak pada orientasi batin yang menggerakkan seseorang untuk mendahulukan perjumpaan dengan Kristus. Maria berangkat ketika jawaban belum tersedia. Ia mencari dalam ketidakpastian, bahkan ketika kesedihan masih menguasainya. Maka kegigihannya memperlihatkan bahwa kemuridan sejati bukanlah iman yang hanya bergerak setelah semuanya menjadi mudah, melainkan kesetiaan yang tetap melangkah ketika pengalaman justru menyisakan pertanyaan.

Dalam konteks para murid yang dibayangi ketakutan setelah peristiwa salib, keberanian Maria memperoleh daya profetisnya. Ketika berbagai kekhawatiran dan kabar tentang jenazah yang hilang dapat memperbesar kebingungan, Maria tidak memilih menghilang. Ia bergerak, mencari, menangis, tetapi tetap tinggal di dekat kubur. Tangisnya tidak menghapus keberanian; sebaliknya, keberaniannya tumbuh di tengah tangis. Inilah progres misioner yang menarik: kecemasan tidak lagi menjadi alasan untuk berhenti, tetapi ruang pergulatan tempat kesetiaan diuji dan dimurnikan.

Dalam kisah yang sama, hubungan Maria dengan Petrus dan murid yang dikasihi mengungkapkan dimensi lain kemuridan, yakni penghargaan terhadap persekutuan dan otoritas. Maria memberitahukan apa yang dilihatnya; Petrus dan murid yang lain kemudian datang menyaksikan kubur kosong. Kendati pengertian mereka tentang kebangkitan belum sepenuhnya matang, gerak bersama ini mengingatkan bahwa pengalaman iman tidak seyogianya dipakai untuk meniadakan tatanan komunio. Namun penghormatan kepada otoritas juga tidak boleh mengaburkan kenyataan bahwa seorang perempuan dipercayakan menjadi pewarta pertama kabar kebangkitan.

Karena itulah tradisi Gereja menyebut Maria Magdalena sebagai Rasul bagi para Rasul. Sebutan tersebut menyingkapkan koreksi penting terhadap setiap kecenderungan diskriminatif dalam kehidupan menggereja. Tuhan yang bangkit tidak menjadikan jenis kelamin sebagai ukuran kelayakan bersaksi. Ia memanggil Maria dengan namanya, dan sapaan personal itu mengubah seluruh cakrawala batinnya. Ketika Maria menjawab “Rabuni!”, relasi yang semula dibayangi pengalaman kehilangan menjadi perjumpaan yang memulihkan. Dari perempuan yang menangis karena merasa terpisah dari Guru, ia menjadi perempuan yang diutus untuk mewartakan kehidupan.

Transformasi psiko-rohani ini memiliki akar pada inisiatif kasih Allah. Maria memang mencari Yesus, tetapi akhirnya ia menemukan kepastian karena Yesus terlebih dahulu menyapanya. Dengan demikian, kebangkitan bukan hadiah bagi prestasi pencarian manusia semata. Kebangkitan adalah tindakan Allah yang membebaskan orang yang dikasihi-Nya dari kekuasaan ketakutan. Maria, yang dalam kesaksian Injil pernah dibebaskan dari tujuh roh jahat, kini mengalami pembebasan dalam cakrawala baru: kesedihan dan kebingungan tidak lagi menentukan arah hidupnya. Ia diutus, bukan dibiarkan menetap dalam kecemasan.

Dari titik inilah pesan Rm. Sipri menemukan relevansinya bagi spiritualitas imamat. Seorang imam tidak cukup mengandalkan identitas tahbisan sambil membiarkan orientasi hariannya ditentukan oleh kesibukan, kecemasan, atau kepentingan diri. Ia membutuhkan spiritualitas pagi: kesediaan menyediakan saat rahmat untuk berjumpa dengan Yesus dan menimba kekuatan sebelum menjalankan tugas pastoral. Pagi menjadi energi rohani bagi seluruh hari bukan karena waktu itu memiliki daya magis, tetapi karena perjumpaan dengan Kristus memperbarui motivasi, meneguhkan keberanian, dan menata kembali arah pelayanan.

Di tengah situasi genting, spiritualitas ini menguji kualitas kegigihan seorang imam. Paskah tidak berarti mengabaikan persoalan, apalagi menutup mata terhadap penderitaan umat. Sebaliknya, semangat Paskah menuntut keberanian menghadapi kenyataan tanpa menyerahkan diri kepada ketakutan. Maria tidak memperoleh kabar kebangkitan dengan menjauh dari tempat dukanya; ia justru bertahan dalam pencarian. Demikian pula imam dipanggil menghadirkan harapan bukan melalui janji kemudahan, melainkan melalui kesetiaan yang tetap bekerja ketika keadaan tidak memberikan jaminan kenyamanan.

Tantangannya nyata, baik secara internal maupun eksternal. Egosentrisme dapat membuat pelayanan berubah menjadi sarana pemuliaan diri, sementara mentalitas cari aman melumpuhkan keberanian profetis. Pada saat yang sama, arus hiburan media sosial, godaan viralitas, dan pengejaran popularitas dapat mencuri perhatian dari kehidupan doa. Persoalannya bukan pada teknologi itu sendiri, melainkan pada hilangnya disiplin rohani ketika perhatian lebih mudah diserahkan kepada penilaian publik daripada kepada suara Kristus. Spiritualitas pagi mengundang imam melakukan reorientasi sebelum tuntutan dunia yanv hadir melalui wajah kuantitatif tontonan instant mengambil alih pusat batinnya. Sebab, apabila tontonan dibiarkan menggerogoti kerohanian, tontonan akan menjadi tuntunan, dan ketika tontonan menjadi tuntunan, kerohanian imamiah akan terjebak dalam cengkeraman popularitas dan viralitas.

Lebih jauh, pengalaman Maria menyuarakan kritik terhadap diskriminasi dan eksploitasi dalam pelayanan. Imam yang membeda-bedakan umat berdasarkan kedekatan, pengaruh, atau keuntungan sebenarnya sedang membiarkan ego menguasai panggilannya. Begitu pula ketulusan umat tidak boleh diperlakukan sebagai modal untuk memenuhi kepentingan pribadi. Bila Yesus mempercayakan pewartaan Paskah kepada Maria yang sering luput dari pusat perhatian sosial, maka pelayan Gereja justru wajib menghormati martabat setiap pribadi. Otoritas gerejawi menemukan legitimasi rohaninya dalam pelayanan, bukan dalam privilese.

Akhirnya, Maria Magdalena mengajarkan bahwa pagi dan Paskah memiliki hubungan batin yang tidak terpisahkan. Orang yang sungguh memiliki semangat pagi akan terus mencari Kristus hingga menemukan makna Paskah bagi hidupnya; sebaliknya, orang yang menghayati Paskah akan mempertahankan kegigihan untuk memulai kembali dengan arah yang benar. Kebahagiaan Maria tidak lahir karena ia menyangkal air matanya, melainkan karena ia setia mencari sampai mendengar namanya dipanggil. Bagi seorang imam, setiap pagi karenanya adalah kesempatan untuk membiarkan Kristus memanggil kembali, membebaskan dari ego, dan mengutusnya kepada umat. Tatkala pagi menjadi momen rahmat, seluruh hari dapat berubah menjadi kesaksian Paskah.