Cerita kebun sayur kami di Biara OMD Kupang
Oleh:
Fr. Wilhelmus Lamabertus Bean
Fr. Ardianus Manek
Fr. Fransiskus Saverius Ado
Fr. Dominikus Dosi
Di sekitar biara kami ada lahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan. Sekilas tampak biasa saja, tetapi bagi kami lahan itu menyimpan peluang: ia bisa menjadi kebun sayur yang memberi makan komunitas, membantu perekonomian bersama, sekaligus melatih kami hidup mandiri. Bertani adalah usaha yang sudah lama dikenal dan dijalani masyarakat kita. Usaha ini menambah pendapatan, mencukupi kebutuhan pokok, dan melatih kami yang kelak akan bertugas di tempat misi.
Biara adalah tempat hidup bersama yang berlandaskan doa, persaudaraan, kedisiplinan, dan pelayanan kepada Tuhan serta sesama. Namun hidup sehari-hari tetap menuntut banyak hal: bahan makanan, biaya pendidikan, kesehatan, perawatan rumah, dan kebutuhan pelayanan lainnya. Karena itu, pengelolaan ekonomi yang baik menjadi bagian penting dari keberlangsungan komunitas. Salah satu jalan yang kami tempuh adalah bertani sayur: mengubah lahan kosong menjadi kebun produktif, lalu mengonsumsi sebagian hasilnya sendiri dan menjual sisanya kepada umat.
Berwirausaha ala biara
Secara sederhana, kewirausahaan adalah kemampuan mengenali peluang, memanfaatkan sumber daya, mengembangkan usaha, dan menghasilkan nilai, baik ekonomi maupun sosial. Peter F. Drucker menekankan pentingnya inovasi dalam kewirausahaan (Drucker, Innovation and Entrepreneurship: Practice and Principles, New York: Harper & Row, 1985). Bagi kami, inovasi itu hadir dalam bentuk yang sederhana: lahan yang tadinya tidak produktif kami ubah menjadi kebun sayur yang bermanfaat bagi komunitas.
Berwirausaha tidak berarti biara harus menjadi perusahaan besar. Menanam sayur, merawat tanaman, mengatur waktu panen, menentukan harga, dan memasarkan hasilnya kepada umat sudah merupakan bagian dari proses kewirausahaan. Dengan kata lain, kewirausahaan di biara adalah usaha produktif yang memanfaatkan sumber daya komunitas untuk kebutuhan bersama, tanpa meninggalkan nilai-nilai spiritual dan semangat pelayanan.
Langkah pertama: melihat lahan yang ada
Kami memulai dengan mengidentifikasi lahan yang bisa digunakan. Lahan kosong di sekitar biara dapat dijadikan bedeng, kebun sederhana, atau, bila lahan terbatas, tempat menanam dalam pot dan wadah. Sebelum menanam, kami memperhatikan kesuburan tanah, ketersediaan air, paparan sinar matahari, dan kemudahan merawat tanaman. Jenis sayur pun harus sesuai dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan umat. Dengan memanfaatkan lahan secara produktif, komunitas memperoleh bahan pangan sekaligus mengurangi pengeluaran untuk membeli sayur.
Memilih sayur yang mudah dirawat
Kami memilih jenis sayur berdasarkan kemudahan perawatan, waktu panen, kondisi lingkungan, dan permintaan umat. Saat ini kami menanam kangkung, sawi, terung, dan tomat, jenis-jenis yang mudah dirawat dan tidak menguras isi dompet.
Kami tidak langsung menanam banyak. Kami memulai dengan beberapa jenis sayur dalam jumlah kecil, lalu melihat mana yang paling diminati dan paling cocok dengan lahan. Setelah itu, produksi kami kembangkan sedikit demi sedikit. Penanaman juga dilakukan bergiliran supaya panen tidak menumpuk pada satu waktu.
Usaha ini tentu tidak bisa dikerjakan sendirian. Kami membagi tugas: ada yang menyiapkan lahan dan menanam benih, ada yang merawat dan menyiram, ada yang mengurus penjualan, dan ada pula yang mencatat biaya produksi serta pendapatan. Pembagian ini membuat kegiatan berjalan teratur dan mencegah seluruh beban jatuh pada satu orang. Lebih dari itu, berkebun melatih karakter kami: kesabaran, ketekunan, kedisiplinan, dan tanggung jawab atas pekerjaan bersama. Berkebun juga menumbuhkan penghargaan terhadap alam.
Dari kebun ke meja umat
Sebelum menentukan berapa banyak sayur yang ditanam, kami lebih dulu mendekati umat di sekitar untuk mengetahui sayur apa yang biasa mereka beli. Caranya sederhana: percakapan ringan atau pemesanan awal. Dengan begitu kami bisa menyesuaikan jumlah tanaman dan mengurangi risiko panen yang tidak terjual. Hubungan dengan umat pun terbangun lewat komunikasi yang ramah dan pelayanan yang baik.
Harga jual kami tentukan dengan menghitung biaya benih, pupuk, air, dan tenaga. Kami menawarkan sayur segar dengan harga wajar dan kualitas baik. Penjualan utama kami lakukan setelah perayaan Ekaristi: sayur disiapkan dalam ikatan sederhana dan disediakan di tempat penjualan yang baik. Selain itu, kami menerima pesanan lebih dulu melalui umat dan lewat pengumuman setelah Ekaristi.
Apa yang kami petik
Kemandirian ekonomi. Hasil penjualan menjadi pendapatan tambahan bagi komunitas. Jumlahnya memang tidak besar, tetapi cukup membantu memenuhi kebutuhan tertentu dan mengurangi sebagian pengeluaran.
Pengeluaran pangan yang lebih ringan. Sayur yang dipanen juga dipakai untuk dapur komunitas. Tidak semua hasil kebun harus dijual: sebagian kami konsumsi sendiri, sisanya dijual kepada umat.
Keterampilan dan tanggung jawab. Lewat kegiatan ini kami belajar tentang pertanian, pemasaran, dan pelayanan kepada pembeli. Yang paling penting, kami melatih tanggung jawab sebagai bekal ketika kelak bermisi.
Hubungan yang lebih dekat dengan umat. Penjualan sayur mempertemukan kami dengan umat dalam cara yang baru. Umat tidak hanya menerima pelayanan rohani, tetapi juga dapat mendukung kegiatan produktif komunitas dengan membeli hasil kebun. Semua ini berjalan tanpa paksaan: umat bebas membeli atau tidak, sehingga kegiatan ekonomi tumbuh dalam suasana saling menghargai dan saling mendukung.
Untung bukan satu-satunya ukuran
Ada pertanyaan yang terus kami renungkan: apakah keberhasilan usaha hanya diukur dari uang yang masuk, atau juga dari manfaatnya bagi kehidupan komunitas? Pertanyaan ini sejalan dengan gagasan kewirausahaan sosial, yakni usaha yang tidak semata mengejar laba, tetapi juga menciptakan nilai sosial (J. Gregory Dees, “The Meaning of Social Entrepreneurship”, Duke University, The Fuqua School of Business, 1998).
Jika hanya mengejar pendapatan, komunitas bisa melupakan pembagian tugas yang adil, waktu istirahat, dan keseimbangan hidup rohani. Sebaliknya, bila dikelola dengan baik, kebun ini menghasilkan manfaat ekonomi sekaligus membangun karakter, persaudaraan, dan tanggung jawab.
Keberhasilan juga tidak harus diukur dari luas lahan atau banyaknya sayur yang terjual. Usaha kecil yang mampu menutup biaya produksi, mengurangi pengeluaran dapur, menyediakan sayur segar bagi umat, dan berjalan tanpa mengganggu kehidupan komunitas sudah memberi manfaat yang berarti. Keuntungan memang penting, tetapi harus berjalan bersama kejujuran, kerja sama, kepedulian terhadap lingkungan, dan penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual.
Menanam untuk melayani
Menanam dan menjual sayur kepada umat adalah bentuk kewirausahaan sederhana yang kami jalani di Biara OMD. Dengan memanfaatkan lahan yang ada, kami menghasilkan sayur untuk dapur sekaligus memperoleh pendapatan dari penjualan kepada umat. Agar usaha ini berjalan baik, kami perlu memilih jenis sayur yang sesuai, merawat tanaman dengan teratur, menentukan harga yang wajar, menjaga kualitas panen, serta mencatat seluruh pemasukan dan pengeluaran. Penjualan setelah Ekaristi dan sistem pemesanan pun merupakan cara pemasaran yang sangat baik.
Pada akhirnya, kebun sayur ini bukan hanya soal ekonomi. Ia adalah ruang belajar tentang kerja keras, kesabaran, tanggung jawab, dan kebersamaan. Bila dikelola secara transparan dan sesuai dengan nilai-nilai komunitas, kegiatan ini dapat membantu kami membangun kemandirian ekonomi tanpa mengabaikan kehidupan spiritual dan semangat pelayanan kepada Tuhan serta sesama.
