Dalam rangka pengabdian kepada masyarakat yang menjadi salah satu kewajiban dosen, Rm. Sipri Senda, Pr, memberikan seminar kitab suci kepada para frater OFM Dili dan beberapa umat awam (Selasa, 12/7). Bertempat di aula biara OFM Dili, dosen kitab suci Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang itu memberikan penjelasan umum mengenai kitab suci kepada 34 peserta.
Padre Niko OFM dan Padre Marciano OFM menyambut baik pelaksanaan kegiatan ini. “Kegiatan ini bermanfaat bagi para frater kami untuk mengenal kitab suci lebih baik dan tergerak untuk selalu membaca kitab suci setiap hari. Calon imam hendaknya akrab dengan kitab suci.” Demikian ungkap Padre Niko dalam sambutan awalnya.
Sementara itu, Padre Marciano menyatakan bahwa penjelasan dari Amu Sipri Senda mengingatkan dia akan materi kitab suci yang dulu dipelajarinya. “Materi ini memberikan penyegaran bagi saya untuk kembali bersemangat dalam membaca kitab suci sebagai imam. Para frater hendaknya memanfaatkan kesempatan ini untuk makin termotivasi mempelajari kitab suci. Kitab suci sangat penting bagi seorang calon imam maupun imam.”
Dalam diskusi tentang materi, muncul pelbagai pertanyaan dari peserta, di antaranya mengenai kitab suci Deuterokanonika, mengapa ada empat Injil, mengapa tulisan Paulus muncul lebih dahulu dari injil-injil. Semuanya dijelaskan tuntas oleh pemateri yang juga adalah ketua Komisi Kitab Suci Keuskupan Agung Kupang.
“Kitab suci Deuterokanonika diperuntukkan bagi umat Katolik. Umat Protestan tidak menerima tujuh kitab Deuterokanonika sebagai kitab suci. Ketujuh kitab itu adalah Tobit, Yudit, Baruk, Kebijaksanaan Salomo, Putra Sirakh, 1 Makabe dan 2 Makabe. Keempat penginjil sama-sama menulis tentang Yesus, tetapi dengan sudut pandang yang berbeda, sumber bahan yang berbeda, interese yang berbeda dan kemampuan menulis yang berbeda sesuai karakter masing-masing. Semuanya diinspirasi oleh Roh Kudus. Maka kita memiliki 4 Injil Kanonik ini. Sedangkan surat Paulus memang muncul terlebih dahulu karena sebelum Injil ditulis para rasul berkeliling menyampaikan berita Injil ke pelbagai tempat. Paulus misalnya berkeliling ke banyak kota di Asia dan Yunani. Sesudah tinggalkan kota yang satu, ia memelihara kontak dengan komunitas yang ditinggalkan itu dengan menulis surat.”
Padre Marciano berharap kegiatan ini bisa berlanjut lagi di masa depan.





