MAHASISWA FILSAFAT UNGGUL, KREATIF DAN TANGGAP TERHADAP PERSOALAN KEMASYARAKATAN

MAHASISWA FILSAFAT UNGGUL, KREATIF DAN TANGGAP TERHADAP PERSOALAN KEMASYARAKATAN

 

 

Senin, 21 Agustus 2023, Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang membuka tahun akademik 2023/2024. Pembukaan tahun akademik yang baru ini diawali dengan perayaan ekaristi bersama yang dipimpin oleh ketua Yayasan Pendidikan Katolik Arnoldus (YAPENKAR), P. Dr. Yulius Yasinto, SVD bertempat di Kapela Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui Kupang. Perayaan ekaristi ini mengusung tema “Mahasiswa Filsafat unggul, kreatif dan tanggap terhadap persoab  lan kemasyarakatan”.

Dalam homilinya, Pater Yulius menggaris bawahi makna dari kata “unggul”, yang mana, untuk menjadi seorang pribadi atau lembaga yang unggul maka peribadi atau lembaga tersebut harus mampu melakukan segala sesuatu yang baik tanpa harus diawasi atau di jaga.

Hal ini diungkapkan oleh Pater sebagai kontekstualisasi dari peristiwa bangsa Israel yang berpaling dari Allah ketika Yosua wafat. “Bangsa Israel, ketika Yosua ada bersama mereka, mereka begitu taat kepada Allah, namun setelah Yosua wafat, mereka malah menyembah allah-allah lain” ujar Pater Yulius. Lanjutnya, “Mahasiswa Filsafat juga hendaknya jangan melakukan suatu tindakan baik seperti taat aturan ketika dijaga oleh Pembina atau pimpinan, melainkan mahasiswa/i Filsafat harus mampu melakukan hal-hal baik tanpa harus diawasi atau dijaga. Sebab itulah yang menggambarkan keunggulan dari manusia tersebut”.

Selanjutnya, sebelum berkat penutup, Dekan Prodi Filsafat, Romo Yohanes Subani memberikan sambutan dengan penekanan utama tentang prestasi yang telah di capai oleh Prodi Ilmu Filsafat sendiri. Yakni bahwa saat ini Prodi Ilmu Filsafat menempati urutan ke tiga sebagai Prodi dan Fakultas terbaik di Unwira. Harapan Dekan ke depannya ialah, Fakultas Filsafat harus mempu untuk sampai kepada peringkat pertama. Oleh karena itu, dalam semester ini akan dibuat banyak gencatan. Salah satunya ialah melakukan kegiatan hubungan internasional yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat desa.

Selesai perayaan ekaristi, sesi selanjutnya ialah kegiatan kuliah umum bersama seluruh civitas academica Fakultas Filsafat Unwira yang bertempat di aula Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui Kupang dibawah tema “Filsafat dan Tanggung Jawab Kemanusiaan Dalam Pembangunan Masyarakat Desa”. Kuliah umum ini dipandu oleh Fr Mario Leltakaeb sebagai moderator dan  P. Dr. Yulius Yasinto, SVD sebagai pemateri. Materi yang di paparkan tersebut adalah hasil dari disertasi yang dibuat oleh pater sendiri dengan judul “Pembangunan Infrastruktur Pertanian dan Kesejahteraan Petani Analisis Livelihood Petani Kawasan Irigasi Bena”.

Dalam pemaparan materi, Pater Yulius menjelaskan tentang latar belakang disertasi ini dibuat. Beliau menekankan bahwa hampir 80% masyarakat NTT berprofesi sebagai petani. Oleh karena itu, “masyarakat-masyarakat kita yang notabene adalah petani ini perlu untuk diberdayakan” ujar pater Yulius. “Kita juga perlu mengacu pada Ajaran Sosial Gereja yang di dalamnya termuat aturan mengenai kehidupan social masyarakat. Dalam artian Injil digunakan untuk melihat realitas nyata yang sedang dihadapi oleh masyarakat. Jadi bukan hanya ajaran moral dan iman yang ditekankan tetapi peristiwa-peristiwa social yang terjadi di dalam Gereja pun harus mampu untuk dilihat. Berbagai usaha untuk memberdayaan masyarakat desa juga harus menjadi prioritas agar bukan hanya iman saja yang matang tetapi secara social dan ekonomi pun masyarakat harus matang, dalam hal ini harus ada keseimbangan antara yang jasmani dan yang rohani”, sambung Pater Yulius.

Setelah pemaparan materi dari Pater Yulius, moderator memberi kesempatan kepada seluruh peserta yang hadir untuk meberikan tanggapan dan juga pertanyaan terkait materi tersebut. Terlihat banyak sekali antusias dari peserta untuk bertanya.

Ada beberapa pertanyaan menarik seperti bagaimana hubungan antara tiga elemen perihal keseimbangan kosmik, yakni Tuhan, Ekologi, dan manusia. Menanggapi pertanyaan ini, Pater mengungkapkan bahwa masyarakat Timor pada umumnya memiliki kekhasan dalam hal penghormatan mereka kepada ke tiga elemen tersebut. Dalam hubungan dengan Tuhan, orang Timor lebih khusus masyarakat desa Bena, mempunyai sebutan untuk Tuhan dengan Kata Uis Neno. Uis Neno dianggap sebagai pencipta, oleh karena itu penghormatan mereka kepada Uis Neno lebih tinggi. Selain itu, mereka juga memberi penghormatan kepada bumi sebagai penyedia segala sesuatu bagi mereka. Oleh karena itu mereka menyebut bumi dengan sebutan Uis Pah. Cara penghormatan mereka biasa terjadi pada saat musim panen, musim tanam dan acara-acara syukuran lain dengan berbagai ritual yang telah menjadi kebiaasaan mereka.

Selanjutnya ada juga pertanyaan berkaitan dengan bagaimana peranan Gereja dalam hal pemberdayaan masyarakat itu sendiri. Pater menjawab “berkaitan dengan sumbangsi apa yang diberikan oleh Gereja, sebenarnya tidak perlu di pertanyakan. Sebab, jika kita melihat, sumbangsi Gereja terhadap masyarakat itu sudah sangat banyak, misalnya dari bidang pendidikan. Berkat Gereja, banyak masyarakat kita yang memperoleh pendidikan.

Namun, pada kenyataannya sampai saat ini masih banyak daerah-daerah kita yang terbelakang. “Lantas apa yang harus kita buat?” Ujar pater. Satu pesan yang menarik dari pater ialah bahwa “kita semua yang hadir di aula ini adalah Gereja dan juga misonaris. Oleh karena itu, kita mempunyai tugas utama yang bukan hanya berkaitan dengan pengajaran iman dan moral tetapi berkaitan juga dengan peristiwa Gereja dalam hal kehidupan nyata. Kita harus mampu untuk memberdayakan masyarakat dengan cara memberikan contoh-contoh dan teladan yang baik dan bermanfaat demi kemajuan hidup mereka.”

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *