Semalam di Long Jegan
Tanggal 27/12, sesuai rencana, saya ke Long Jegan untuk memberikan ceramah kitab suci sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh dosen. Saya memberi informasi kepada Father Joseph dan beliau mengatakan, Romo atur saja sesuai rencana. Saya kontak aunty Dora untuk menjemput saya. Pukul 06.00 pagi mereka start dari Long Jegan menuju Lapok. Uncle Frederick mengendarai mobil Hilux Doble cabin dengan cekatan. Sesuai kesepakatan, pukul 07.00 mereka sudah tiba di pastoran.
Saya bangun pukul 05.00 seperti biasa. Sarapan mie goreng buatan sendiri. Kopi ginseng tetap dikonsumsi. Ini salah satu produk kesehatan yang membuat saya tetap fit dan bersemangat dalam pelayanan. Setelah mandi, ibadat pagi dan sarapan, saya berangkat bersama aunty Dora dan uncle Frederick. Sepanjang jalan kami ngobrol aneka hal. Salah satunya tentang anak-anak: Sheron, Sonia, Shely dan Sherin. Semuanya perempuan. Ada juga satu anak angkat, anak lelaki. Keempat anak ini dididik dengan oleh aunty dan uncle. Sheron telah bekerja di Johor. Sonia sudah selesai kuliah dan kini bekerja di NGO. Shely masih kuliah di bidang pertanian Bintulu. Si bungsu Sherin sementara bersiap menyelesaikan sekolah menengah dan akan lanjut ke sekolah tinggi. Jika Sherin juga berangkat ke luar Long Jegan, menuntut ilmu demi masa depan, maka aunty dan uncle akan sendiri di rumah ditemani Oma Elisabeth. Inilah proses hidup. Generasi penerus akan berkembang dan melanjutkan kehidupan. Hukum alam. Yang penting adalah kedua orangtua telah menanamkan pendidikan dasar yang baik. Mereka memiliki prinsip iman yang kuat dan hidup benar dan baik dengan sesama. Warisan terbaik orangtua kepada anak sesungguhnya adalah nilai iman dan pekerti hidup.

Satu jam perjalanan. Akhirnya tiba di Long Jegan. Kami mampir sebentar di bilik (rumah) aunty Dora, minum teh hangat sebelum memulai kegiatan. Sesuai kesepakatan, acara hari ini dibagi dua sesi: pagi pukul 08.00 sampai siang, di Long Jegan A: ceramah kitab suci, misa dan pemberkatan Rumah, makan siang bersama. Sore di Long Jegan B: doa kerahiman dan koronka, ceramah kitab suci, misa dan pemberkatan rumah, makan bersama, acara games. Acara games ini semula hendak dilaksanakan kemarin, tetapi karena tahu saya akan datang di Long Jegan, mereka menunda ke malam ini. Games diperuntukkan bagi anak-anak dan orang dewasa: lomba cari kursi, isi sedotan ke dalam botol Aqua, jepit balon, dll. Acaranya kreatif, kocak, menarik dan menghibur. Pemenang 1-3 dapat hadiah. Tiap mata lomba berbiaya 2 RM. Uang lomba itu dikumpulkan untuk acara Krismas tahun berikut.

Dalam ceramah kitab suci, saya menjelaskan secara umum kitab suci Deuterokanonika dan ajakan untuk selalu membaca kitab suci setiap hari. Dalam ceramah ada sesi tanya jawab, meskipun tidak banyak pertanyaan di Long Jegan A. Sedangkan di Long Jegan B ada beberapa pertanyaan.
Sesudah ceramah, dilanjutkan dengan misa. Peralatan misa dibawa dari paroki karena Stasi Long Jegan belum memiliki peralatan misa sendiri. Uncle Frederick menjadi ajuda dalam kedua misa, baik di Kapela Long Jegan A maupun B. Yang menarik, Kapela Long Jegan B memiliki nama pelindung Divine Mercy atau Kerahiman Ilahi. Maka saya ajak mereka mulai kegiatan petang hari pada pukul 15.00, diawali dengan doa kerahiman dan doa koronka. Lalu sebelum ceramah kitab suci, saya jelaskan devosi kerahiman ilahi dan doa koronka khususnya. Saya himbau mereka untuk setiap jam 15.00 petang, berdoa kerahiman dan koronka. Puji Tuhan, mereka menyatakan siap untuk berdoa.

Sesudah misa ada pemberkatan rumah panjang. Jumlah bilik (rumah keluarga) dalam satu rumah panjang bervariasi. Ada yang 40, 30, 20 atau 10. Ada juga di atas 40. Jumlah rumah yang diberkati di Long Jegan A mencapai 100 rumah lebih. Saya didamping uncle Frederick, aunty Dora, aunty Gloria dan aunty Maureen. Lumayan capai juga. Setelah pemberkatan di Long Jegan A, kami makan bersama. Makanan disiapkan oleh setiap keluarga dan dibawa ke titik kumpul untuk dinikmati bersama. Maka makanannya bervariasi. Tapi yang saya sukai adalah ikan rebus dan ikan asin kering yang berasal dari sungai Tinjar. Ikannya enak sekali.
Setelah makan, kami menuju Long Jegan B. Istirahat sejenak karena petang hari tepat pukul 15.00 acara dilanjutkan di Kapela Divine Mercy. Rumah panjang di kampung ini hanya satu dan jumlah bilik sekitar 40. Ada beberapa rumah terpisah di depan Kapela. Bilik atau rumah terakhir yang saya berkati di Long Jegan B adalah rumah aunty Dora dan uncle Frederick. Sesudah berkat, kami duduk istirahat sambil menikmati bubur kacang ijo, salad buah, roti goreng dll yang disiapkan keluarga ini. Ternyata yang memasak semua ini adalah Sheron dan Sonia. Hebat juga anak-anak ini.
Pukul 19.00 kami lanjutkan dengan acara makan bersama di depan bilik ketua sembahyang Kapela Divine Mercy. Ketua sembahyang adalah semacam guru agama yang diangkat pastor untuk memimpin doa dan ibadat di Kapela setiap Minggu maupun kesempatan lain. Menu makan malam ini juga bervariasi. Saya memilih ikan goreng saja karena sudah kebanyakan makan daging di Lapok. Ikan air tawar dari sungai Tinjar ini sungguh sedap rasanya.

Setelah makan malam, semua kembali ke bilik masing-masing untuk persiapan acara lomba dan pembagian hadiah sebagaimana telah disinggung di atas. Acara games diselingi dengan tampilan lagu dan tarian, baik oleh ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak maupun paderi. Saya didaulat oleh majelis (seluruh umat yang hadir, demikian kata MC) untuk membawakan satu acara tarian khas dari Timor. Maka lagu Ra’aro Kuan Amarasi mengudara di Long Jegan. Kami menari bersama. Larut dalam sukacita Natal.

Sayangnya, acara ini berlangsung terlalu lama tanpa batas waktu. Patokannya, hadiah yang disiapkan harus habis. Maka acara lomba ternyata berlangsung sampai pukul 04.00. Sebagian umat pulang istirahat . Sebagian lagi bertahan sampai selesai. Saya tidak bisa tidur karena bunyi musik amat keras ditingkah suara pemandu acara. Akhirnya pukul 03.00 dinihari saya mengungsi ke bilik ujung, di rumah bapak Francis. Sesudah doa koronka saya tidur sampai pukul 05.00 pagi. Musik sudah berhenti. Acara sudah selesai. Tapi sekelompok anak muda masih duduk lingkar minum tuak beras sambil bercerita. Saya kembali ke bilik semula dan tidur sampai pukul 07.00. Inilah keunikan acara di Long Jegan. Saya belajar menyesuaikan diri.

Pukul 07.00 saya bangun. Tuan rumah baru saja istirahat karena ikut acara sampai selesai pukul 04.00. Saya menuju bilik aunty Dora. Mereka sudah bangun dan berkemas. Saya bisa minum kopi ginseng di sini. Sekalian mandi lalu sarapan mie bersama aunty dan uncle serta Oma. Kami harus sarapan karena pagi ini keduanya akan mengantar saya kembali ke Lapok dan terus ke Miri.
Pukul 08.00 kami menuju Lapok. Father Joseph mengirim pesan untuk saya supaya menunggu dia kembali dari misa pembaptisan. Maka kami langsung menuju Long Lama, mengunjungi gereja, juga bandar di tepi sungai Baram. Gerejanya kecil. Rumah panggung terbuat dari kayu. Kami mampir dan berdoa sejenak, ambil foto, lalu menuju bandar (pusat kota) Long Lama di tepi sungai Baram.

Aunty mengajak minum teh, dan makan sedikit di warung. Saya pesan makan mie goreng dan belajar makan pakai sumpit. Lulus juga. Setelah itu kami pulang ke Lapok. Menunggu Father Joseph sampai pukul 14.00. Akhirnya kami jumpa lagi. Father Joseph memberi saya kenang-kenangan berupa baju rompi Sarawak. Saya memberi buku Kisah Pagi. Setelah itu makan siang bersama dan pamitan menuju Miri. Sampai jumpa di lain waktu.

Kami berangkat menuju Miri persis hampir pukul 15.00. maka saya mengajak aunty dan uncle berdoa kerahiman dan koronka sepanjang jalan. Kami singgah sebentar di rumah ibu Elisabeth. Dia menitip tuak beras dan langkau (sejenis moke) untuk Father Kevin. Saya memberi dia buku Kisah Pagi.
Di Miri kami singgah di rumah kakak perempuan aunty dan abangnya. Mereka meminta saya berkat rumah. Sesudah doa berkat rumah mereka mengantar saya ke pastoran. Romo Kevin sudah menunggu saya. Buon Natale, fratello mio. Terima kasih, Aunty Dora. Terima kasih, Uncle Frederick. Kalian berdua sudah menjadi Injil yang hidup. Saya mengalungkan satu selendang Timor kepada Uncle Frederick. Saya memeluk keduanya erat-erat. Akhirnya kami berpisah. Keduanya kembali ke Long Jegan. Sampai jumpa kembali, bila ada masa.

Malam ini istirahat saja. Saya lelah. Besok harus terbang ke Kuala Lumpur. Tentu butuh tenaga. Istirahat adalah cara terbaik menghimpun energi yang terkuras. Tidur pulas sampai pagi. Itu ko tidak.
(Bersambung)
RD Sipri Senda
Diselesaikan di atas pesawat Lion Air, dari Denpasar menuju Kupang












