Catatan Natal Dari Lapok (4)

0 84

Pemberkatan Rumah dan Lamin

Umat di Lapok dan Bakong rupanya memiliki kebiasaan memberkati rumah saat natal atau Krismas. Maka saya diundang singgah di rumah umat untuk memberkati rumah dan anggota rumah dengan aneka intensi serta makan siang bersama. Di hari Krismas ini, mereka selalu kumpul bersama dan memasak menu istimewa untuk dimakan bersama. Biasanya masakan tradisional Serawak dimasak pada hari ini. Satu hal yang khas adalah daging yang dimasak pakai bambu atau buluh. Daging ayam atau babi, dimasukkan dalam buluh, dengan bumbu bawang putih, sere, serta garam secukupnya. Tanpa penyedap. Tapi hasilnya sungguh sedap. Membuat lidah terus mengecap. Nasi ketan pun dimasak dalam buluh. Tapi ada pula yang dibungkus pakai daun, yakni sejenis daun pisang atau daun kunyit. Nasi pulut ini ada yang ukuran kecil maupun besar. Ada pula sayur dari pokok kelapa maupun bambu atau rebung yang direbus. Saya berusaha mencicip semua makanan khas Serawak ini dengan senang hati. Sedap rasanya.

Masa Krismas adalah kesempatan kumpul keluarga. Mereka yang merantau karena pekerjaan umumnya kembali saat natal. Mulai malam natal, setiap keluarga akan mengadakan perjamuan bersama dengan aneka makanan tradisional tadi. Selain itu, masa Krismas inipun merupakan kesempatan silahturahmi antar tetangga dan kenalan. Maka sesudah misa, biasanya mereka saling berkunjung mengucap selamat Krismas, baik antar tetangga maupun antar keluarga dan kenalan. Bahkan ada sesama yang muslim pun datang bertamu. Sesuatu yang unik dan menarik.

Uncle Paulus mengatur kunjungan rumah ini, mulai dari Bakong menuju Lapok. Setiap rumah yang dikunjungi selalu siap dengan meja kecil, yang di atasnya diletakkan salib dan lilin bernyala. Semua anggota rumah telah berkumpul dan siap menyambut kedatangan paderi alias father dan katekis. Sekitar 9 rumah kami kunjungi. Ada yang rumah sendiri, dan ada yang merupakan bagian dari rumah panjang atau Lamin. Setiap rumah menyediakan makanan dan minuman dengan banyak pilihan. Satu pilihan minuman adalah tuak beras home made. Rasanya seperti laru. Ada yang agak manis, dan ada yang sedikit pahit. Jenis kedua inilah yang biasanya disebut “bisa”. Maksudnya agak “memabukkan”.

Menjelang pukul 15.00 kami tiba di wilayah Lapok. Kami berkunjung ke rumah ibu Margareth kalau tidak salah ingat. Dia inilah yang baru keluar dari rumah sakit dan memohon berkat seusai misa di Lapok. Tepat pukul 15.00 saya mengajak mereka sekeluarga berdoa kerahiman dan koronka. Kebetulan ibu punya buku doa kerahiman berbahasa Malaysia. Maka kami gunakan buku itu. Sesudah doa, saya jelaskan sekilas tentang devosi kerahiman ilahi dan mengajak mereka bertekun berdoa kerahiman dan koronka setiap jam 3 petang. Sesudah itu, saya memberkati rumah dan semua anggota keluarga yang mendiaminya, khususnya untuk penyembuhan ibu, pekerjaan anak sulung Dorrithy dan pendidikan anak kedua Deris. Kiranya berkat Tuhan menetap dalam keluarga ini. Ibu menyediakan hidangan berupa ikan sungai Tinjar yang terkenal enak.

Pemberkatan rumah berlanjut di beberapa rumah, dan akhirnya sampai di rumah panjang atau Lamin dekat paroki. Ketua rumah panjang ini bernama ibu Agnes. Maka rumah panjang ini disebut Rumah Agnes. Satu rumah panjang itu terdiri dari 32 bilik, atau 32 keluarga. Setelah berkat umum untuk semua bilik, saya keliling satu persatu setiap bilik untuk berkat khusus dan percikkan air berkat. Ini memang merupakan pengalaman pertama bagi saya.

Dari rumah Agnes, kami menuju rumah uncle Paulus. Rumah itu merupakan rumah khusus untuk para Katekis yang disediakan oleh paroki. Uncle termasuk salah satu dari sekian Katekis yang berkarya di paroki ini. Para Katekis itu mendapat pendidikan khusus yang diberikan oleh pihak keuskupan. Kehadiran dan pelayanan mereka sangat berarti bagi pastor maupun umat. Boleh dikatakan mereka adalah tangan kanan pastor. Dalam keadaan tertentu ketika pastor tidak berhalangan melayani, merekalah yang diutus untuk melayani, termasuk memimpin ibadat sabda dengan komuni di stasi-stasi yang jauh dari paroki.

 

Uncle Paulus meminta saya untuk memberkati rumah dan istrinya yang sedang sakit. Aunty sakit pada kaki sehingga tidak bisa berdiri dan berjalan. Hanya duduk di kursi roda. Sebelum natal sempat masuk rumah sakit. Sekarang dirawat saja di rumah. Kedua kakinya luka seperti terbakar. Saya memberkatinya. Setelah itu kami diantar menuju salah satu saudara dari ibu Agnes yang juga minta berkat di rumahnya. Kami tidak lama di sana karena saya ingin istirahat sejenak. Saya tiba kembali di pastoran pukul 16.45 dalam keadaan lelah dan basah kuyup oleh keringat. Saya harus istirahat, biarpun sekejap saja, karena sore pukul 18.00 akan kembali berkeliling lagi untuk memberkati beberapa rumah. Sampai malam. Dan juga sampai kenyang. Karena menikmati hidangan khas tradisional Serawak. Akhirnya, selesailah tugas hari ini. Kembali ke pastoran dalam keadaan lelah tapi senang karena baru pernah mengalami natal seperti ini. Tuhan Yesus datang ke dunia, juga ke tengah keluarga-keluarga yang menerima berkat-Nya hari ini. Itulah berkat Natal yang istimewa. Tuhan itu baik. Amat baik.

(Bersambung)

 

RD Sipri Senda

Diselesaikan di atas pesawat Air Asia dari Kuala Lumpur menuju Denpasar, pukul 01.59 tengah malam

Comments
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More