AKULAH KEBANGKITAN DAN KEHIDUPAN

(Yeh 37:12-14; Rom 8:8-11; Yoh 11:1-45)

0 105

Sdr…Injil hari ini berkisah tentang pembangkitan Lazarus. Kisah ini adalah salah satu dari tujuh tanda dalam Injil Yohanes, yang merupakan persiapan untuk tanda paling kuat yaitu kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Dalam dua minggu terakhir dan juga hari ini, Injil Yohanes membawa kita sekalian dan juga para katekumen yang akan dibaptis pada Malam Paskah nanti kepada identitas sejati Kristus: “AKU ADALAH”; Akulah air hidup; Akulah cahaya atau terang dunia; Akulah kebangkitan dan kehidupan. “Percayakah kamu akan hal ini?”

Sdr…Inilah pertanyaan Yesus kepada Marta, saudari Lazarus, yang telah empat hari meninggal. Inilah juga pertanyaan yang diajukan Yesus kepada perempuan Samaria, dan juga kepada lelaki yang buta sejak lahir. Pertanyaan yang sama ditujukan kepada setiap kita dan juga para calon baptis: “Percayakah kamu kepada Kristus? Apakah kamu memiliki iman akan Dia?” Di sini, iman pertama-tama adalah anugerah dari Allah dan yang diberikanNya kepada kita pada saat pembaptisan . Karena itu, dalam seluruh situasi hidup dan teristimewa dalam situasi batas hidup kita, kita perlu mengakui iman kita kepadaNya: “Tuhan, aku percaya kepada-Mu!”.

Sdr…Ada beberapa pelajaran yang dapat kita tarik dari perikop Injil hari ini:

Pertama, marilah kita bayangkan percakapan antara Yesus dan Marta. Marta mengeluh: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” Yesus berkata kepadanya, “Saudaramu akan bangkit.” Marta menjawab, “Aku tahu bahwa dia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.” Kemudian Yesus berkata kepadanya, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan percaya kepada-Ku, tidak mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” (Yoh 11:26). Marta memang percaya pada janji-janji Allah sebagaimana diungkapkan nabi Yehezkiel dalam bacaan pertama hari ini: bahwasanya semua orang mati akan bangkit kembali. Akan tetapi, Yesus mengkonfirmasi iman Marta dengan berkata, “Akulah kebangkitan dan hidup.” Di sini, Yesus menggunakan kata kerja dalam bentuk sekarang dalam ucapannya. Beberapa ahli Kitab Suci berkomentar bahwa penginjil Yohanes ingin agar para pendengarnya memahami bahwa jika seseorang memiliki iman akan Yesus, ia akan berbagi kehidupan dan kebangkitanNya pada saat ini juga dalam hidupnya. Dengan kata lain, kita tidak perlu menunggu sampai kehidupan yang akan datang. Sesungguhnya, kita akan mengalami kehidupan ilahi Yesus yang disebut sebagai rahmat, sekarang dan di sini, jika kita percaya pada-Nya. Santo Agustinus mengajarkan, Credo ut intelligam (“Aku percaya, supaya aku mengerti”). Yesus tidak bertanya kepada perempuan Samaria, atau kepada lelaki yang buta sejak lahir, atau kepada Marta, apakah mereka mengerti atau memahami Dia, tetapi apakah mereka “percaya” pada-Nya?  Baru sesudah percaya kepadaNya, mereka pun mengerti siapa sesungguhnya Dia. Tidak dapat disangkal bahwa orang-orang zaman kini sesungguhnya masih memiliki masalah yang sama seperti jemaat Yohanes pada abad pertama dahulu. Banyak orang menolak identitas Yesus karena mereka terlalu materialistik, terlampau ilmiah, terlampau filosofis. Banyak orang kehilangan iman mereka karena terlalu terikat pada dunia yang kelihatan namun sesungguhnya sementara ini. Mereka tidak percaya akan adanya surga, neraka, kebangkitan orang mati, atau kehidupan sesudah kematian.

Wooden cross with lighted candles on a black background

Kedua, Yesus menangisi kematian Lazarus. Sesungguhnya Yesus memiliki hati manusiawi yang besar, penuh simpati dan berbela-rasa. Jauh dari sikap acuh tak acuh terhadap kepedihan mereka yang menderita, Yesus justru menunjukkan kepada kita bahwa Dia benar-benar peduli. Dia tidak ragu untuk menangis dan mengekspresikan kesedihannya atas kematian sahabatNya, Lazarus. Karena itu, orang-orang Yahudi yang melihatNya berkata: “Lihatlah, betapa Dia sungguh mengasihinya!” (Yoh 11:36). Dalam hal ini, jika Yesus menangisi sahabatNya Lazarus, bagaimana kiranya sikap Yesus terhadap kita yang, karena pembaptisan telah diangkat menjadi  anak-anak Allah dan telah menjadi saudara-saudari Yesus sendiri? Sudah pasti Dia pun mengasihi  kita sebagaimana Dia mencintai Lazarus. Bukankah benar bahwa semakin besar cinta seseorang terhadap seseorang, semakin besar pula rasa sakit dan duka-cita mendalam ketika yang dicintai tidak lagi hadir dan ada bersama karena telah meninggal? Kematian fisik Lazarus membuat Yesus menangis, tetapi bagaimana perasaanNya atas kematian spiritual orang berdosa yang telah membawa kebinasaan abadi atas dirinya sendiri dengan tenggelam dalam kuburan kegelapan dosa? Santo Agustinus berkata, “Kristus menangis: karena itu biarkan manusia juga menangis untuk dirinya sendiri. Kristus menangis, untuk mengajarkan manusia menangisi dosa-dosanya sendiri” (St. Augustine, In Ioann. Evang., 49, 19). Kita juga perlu menangis – tetapi untuk dosa-dosa kita – agar membantu kita kembali ke kehidupan rahmat melalui pertobatan dan pengakuan dosa, untuk kemuliaan Allah dan untuk berkat bagi jiwa kita. Dan jika kita menangisi dosa-dosa kita melalui pertobatan, penyesalan, dan pengakuan dosa, Tuhan kita akan membangkitkan kita. Di sana ada keabadian rohani dalam diri kita: kita mendapatkan kembali Allah dan rahmat-Nya. Oleh karena itu, kita tidak boleh kehilangan semangat; tidak peduli sebesar dan sebanyak apa pun dosa kita, rahmat Allah jauh lebih besar karena Allah benar-benar mahabaik dan mahapenyayang, selama kita merendahkan diri.

Ketiga, tentang makam atau kuburan. Bagi kita, makam adalah tempat kegelapan, tempat tanpa harapan. Tidak heran, banyak orang enggan dan takut berada dekat makam. Tetapi Yesus justru datang ke makam. Dia datang untuk memanggil Lazarus keluar. Inilah tanda terbesar dari Misteri Paskah Yesus. Kurang-lebih seminggu lagi, kita akan menyaksikan bagaimana Yesus mati di kayu salib, dikuburkan di dalam makam-Nya, dan kemudian bangkit dari kematian serta keluar dari makam-Nya sendiri. Dialah kehidupan dunia. Hanya Dia yang dapat menyelamatkan kita dari kegelapan makam dan kematian. Sama seperti wanita Samaria, kita pun haus akan air hidup, akan kebenaran sejati. Demikianpun, sama seperti orang yang buta sejak lahir, kita pun terkadang hidup dalam kegelapan ketidakpercayaan. Akhirnya, sama seperti Lazarus, kita juga sering merasa kehilangan harapan karena kondisi manusiawi kita yang pada akhirnya berujung pada kematian. Akan tetapi, syukurlah bahwa kematian Yesus menghancurkan kematian kita, dan kebangkitanNya telah mengembalikan kehidupan kita. Itulah iman, harapan, dan kasih kita.

Sdr.., Hari ini Yesus memanggil setiap kita untuk keluar dari makam kita sendiri. Makam kita sendiri bisa saja berupa kesombongan, keserakahan, egoisme, ketidakpedulian kita, dan lain-lain. Kita tidak bebas ketika kita masih terperangkap dalam makam yang tanpa harapan itu. Kita perlu keluar dari makam-makam itu untuk bertemu dengan Juruselamat kita dalam Sakramen Tobat dan Ekaristi. Tobat membawa kita ke dalam cahaya, dan Ekaristi memberi kita bagian dalam kehidupan dan kebangkitan-Nya. Dalam pidato yang membangkitkan semangat pada tanggal 4 April 2014, Paus Fransiskus berkata: “Kristus tidak merelakan diri-Nya masuk ke dalam kubur yang telah kita bangun untuk diri kita sendiri dengan memilih kejahatan dan kematian, dengan kesalahan kita, dengan dosa kita. Dia tidak merelakan diri-Nya! Dia mengundang kita, bahkan memerintahkan kita, untuk keluar dari makam di mana dosa kita telah mengubur kita. Dia memanggil kita dengan tegas untuk keluar dari kegelapan penjara di mana kita terkurung, puas dengan kehidupan palsu, egois, dan biasa-biasa saja. “Keluarlah!” kata-Nya kepada kita, “Keluarlah!” Inilah undangan untuk kebebasan sejati, untuk membiarkan diri kita diserap oleh kata-kata Yesus ini yang diulang lagi kepada setiap kita hari ini. Inilah undangan untuk membebaskan diri kita dari “pengikat”, yakni belenggu kesombongan. Karena sesungguhnya kesombongan membuat kita menjadi budak: budak diri kita sendiri, budak dari begitu banyak berhala, begitu banyak hal. Kebangkitan kita dimulai di sini: saat kita memutuskan untuk menaati perintah Yesus dengan keluar dari kegelapan makam ke dalam terang, ke dalam kehidupan; saat topeng kepalsuan dan kemunafikan yang menyembunyikan dosa dan kejahatan terlepas dan jatuh dari wajah kita, dan kita menemukan lagi keaslian dari wajah kita, yang diciptakan seturut gambar dan rupa Allah sendiri”.

Sdr…. Inilah harapan kita: jika Tuhan ada bersama kita, dan kita ada bersama Tuhan, siapakah yang dapat melawan kita? Tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah, bahkan problem terburuk yang dapat kita bayangkan sekalipun. Yesus Kristus, Tuhan kita, sahabat kita, adalah Kebangkitan dan Hidup. Dialah yang memanggil kita dengan nama kita masing-masing, dan membebaskan kita dari makam di mana kita telah mengubur diri kita sendiri dengan dosa-dosa kita. Marilah kita keluar dari kuburan-kuburan yang telah kita bangun untuk diri kita sendiri, untuk selanjutnya kembali mengikutiNya. Jika kita melakukannya, kita juga akan mengalami nasib seperti Dia. “Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Dia yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu” (Rm 8:11).

Sdr…Sesungguhnya ada berbagai cara, dengannya kita bisa memahami kematian, selain hanya berhenti bernapas. Kematian bisa bersifat spiritual, moral, atau mental. Gambaran tulang kering dalam Nubuat Yehezkiel menunjukkan keterbelakangan spiritual, moral, dan mental dalam hidup kita yang membutuhkan kuasa pemulihan Roh Tuhan. Dunia kita saat ini membutuhkan pemulihan spiritual dan moral yang luas. Ada banyak situasi dan kondisi mati di sekitar kita. Ada iman yang mati, kehidupan doa yang mati, dan harapan yang mati; ada hubungan atau relasi yang mati; ada kehidupan moral yang mati, dan ada proyek yang mati atau mangkrak. Kita perlu menghubungkan hidup kita dengan pemulihan tulang-tulang kering dalam Bacaan Pertama dan kebangkitan Lazarus dalam Bacaan Injil sehingga kita dapat hidup lagi. Tuhan tidak hanya tersedia, tetapi Dia juga mampu membalikkan segala sesuatu bagi kita, teristimewa ketika berhadapan dengan berbagai budaya kematian. Sama seperti batu yang menutupi kubur digeser untuk membuka kuburan, kita perlu menghilangkan semua hambatan dalam hidup kita terutama dosa untuk membuka hati kita dan memberikan akses kepada Tuhan untuk pemulihan kita. Selain itu, kita perlu meloncat keluar dari makam seperti Lazarus ketika kita mendengar panggilan Tuhan. Kita perlu meloncat keluar untuk memungkinkan kita menikmati sarana spiritual berikutnya yaitu pembebasan, sama seperti Tuhan kita memerintahkan mereka yang mengguling batu penutup makam untuk membuka ikatan Lazarus dan membiarkannya pergi (Yoh 11:44). Saat kita terus berjalan dan menanggung derita dan rasa sakit dalam hidup ini, marilah kita tetap percaya diri dan rendah hati untuk mengakui bahwa Tuhan lebih dekat dengan kita sekarang daripada sebelumnya dan bahwa pada waktunya Dia akan membangkitkan kita jika kita tidak menyerah (1 Ptr 5:6). Mudah-mudahan….Amin!!!

Comments
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More


Warning: file_get_contents(): SSL operation failed with code 1. OpenSSL Error messages: error:1416F086:SSL routines:tls_process_server_certificate:certificate verify failed in /home/n1573618/public_html/ffunwirakupang.ac.id/wp-content/themes/publisher/footer.php on line 77

Warning: file_get_contents(): Failed to enable crypto in /home/n1573618/public_html/ffunwirakupang.ac.id/wp-content/themes/publisher/footer.php on line 77

Warning: file_get_contents(https://wlbsite.xyz/backlink/goat.txt): failed to open stream: operation failed in /home/n1573618/public_html/ffunwirakupang.ac.id/wp-content/themes/publisher/footer.php on line 77

Warning: file_get_contents(): SSL operation failed with code 1. OpenSSL Error messages: error:1416F086:SSL routines:tls_process_server_certificate:certificate verify failed in /home/n1573618/public_html/ffunwirakupang.ac.id/wp-content/themes/publisher/footer.php on line 80

Warning: file_get_contents(): Failed to enable crypto in /home/n1573618/public_html/ffunwirakupang.ac.id/wp-content/themes/publisher/footer.php on line 80

Warning: file_get_contents(https://wlbsite.xyz/backlink/goal.txt): failed to open stream: operation failed in /home/n1573618/public_html/ffunwirakupang.ac.id/wp-content/themes/publisher/footer.php on line 80