Lewat Lectio Divina, Mahasiswa PKM Kitab Suci UNWIRA Latih Umat Haliwen Jadi Fasilitator Katekese

HALIWEN — Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bidang Kitab Suci Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang menggelar sosialisasi Lectio Divina dan pelatihan fasilitator katekese Kitab Suci bagi umat Kapela Sa’o Miguel Arcanja Stadion Haliwen, Senin, 7 September 2026.

Kegiatan yang berlangsung pukul 18.30–20.30 WITA di pelataran Kapela Sa’o Miguel Arcanja tersebut menghadirkan Rm. Siprianus Senda, Pr., selaku narasumber. Kegiatan dipandu oleh Fr. Falen Mau Siri sebagai pembawa acara dan Fr. Mateus Tnopo sebagai moderator. Sebelum penyampaian materi, Rm. Siprianus mengawali kegiatan dengan dialog bersama umat. Ia mengajukan sejumlah pertanyaan mengenai pemahaman umat terhadap Lectio Divina, kebiasaan membaca Kitab Suci, pengalaman memimpin katekese, serta penggunaan buku panduan dalam pelaksanaan katekese.

Pertanyaan tersebut digunakan untuk mengetahui pengalaman dan pemahaman awal umat sebelum memasuki sesi sosialisasi dan pelatihan. Dalam pemaparannya, Rm. Siprianus menjelaskan mengenai Lectio Divina, tahapan katekese berdasarkan buku panduan, serta peran dan tugas seorang fasilitator dalam memimpin katekese Kitab Suci. Ia juga memberikan penjelasan mengenai pengetahuan dasar Kitab Suci, khususnya Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Dalam konteks pelaksanaan katekese, Rm. Siprianus menegaskan bahwa “Katekese adalah ajaran iman, dialog iman. Katekese bukan liturgi, sehingga tidak menimbulkan ketegangan saat kegiatan berlangsung.” Penyampaian materi dilakukan dengan metode dialogis. Setelah materi disampaikan, umat diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan. Antusiasme terlihat dari keterlibatan umat yang terdiri atas orang dewasa, remaja, dan anak-anak dalam sesi tanya jawab.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pelatihan fasilitator katekese. Dalam sesi ini, umat diajak memahami cara menyusun dan mengembangkan pertanyaan berdasarkan unsur 5W+1H, yakni what (apa), who (siapa), when (kapan), where (di mana), why (mengapa), dan how (bagaimana). Pendekatan tersebut diperkenalkan sebagai salah satu cara untuk membantu fasilitator membangun dialog selama proses katekese.

Selain materi dan pelatihan, Rm. Siprianus juga menampilkan sejumlah gambar yang berkaitan dengan tempat dan peristiwa penting dalam kehidupan Yesus Kristus, mulai dari kelahiran hingga pemakaman-Nya. Gambar-gambar tersebut digunakan sebagai media pendukung untuk membantu umat memahami materi yang disampaikan.

Pada bagian akhir, Fr. Mateus Tnopo selaku moderator menyampaikan kesimpulan mengenai pentingnya membaca dan merenungkan Kitab Suci dalam kehidupan sehari-hari. Ia menegaskan bahwa “Kitab Suci adalah Sabda Allah yang diberikan kepada kita untuk mengenal Tuhan dan semakin dekat dengan-Nya. Karena itu, kita tidak cukup hanya mendengarkan Kitab Suci pada hari Minggu, tetapi perlu membacanya dan merenungkannya dalam kehidupan sehari-hari.”

Fr. Mateus juga menjelaskan bahwa Lectio Divina dapat dilakukan melalui empat langkah, yakni Lectio (membaca), Meditatio (merenungkan), Oratio (berdoa), dan Actio (melakukan tindakan nyata). Keempat tahap tersebut membantu umat menghubungkan Sabda Allah dengan kehidupan sehari-hari.

“Mari membuka Kitab Suci, berjumpa dengan Tuhan melalui Sabda-Nya, lalu mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari,” demikian ajakan yang disampaikan Fr. Mateus dalam penutup materinya. Sebagai penutup kegiatan, Fr. Mateus menyampaikan sebuah pantun:

Ke pasar beli kemiri,
Jangan lupa beli sirih.
Mari buka Kitab Suci,
Berjumpa Tuhan lewat sabda.

Kegiatan kemudian ditutup dengan doa dan berkat yang dipimpin oleh Rm. Siprianus Senda, Pr. Setelah itu, mahasiswa PKM bersama umat melakukan foto bersama dan makan malam bersama sebagai bagian dari rangkaian kegiatan. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa PKM bidang Kitab Suci Fakultas Filsafat UNWIRA berupaya mendampingi umat dalam memperdalam pemahaman tentang Kitab Suci, Lectio Divina, serta keterampilan dasar dalam memfasilitasi katekese di tingkat umat. (Fr. Engky Tura)