DESA KABUNA– sebanyak 127 umat katolik dari lingkungan St. Yoseph Haliwen, St. Elisabeth Railaku, St. Veronika Manubure, dan St. Maria Fatima Haliwen, Paroki Santo Yohanes Pemandi Haliwen, Desa Kabuna, mengikuti kegiatan sosialisasi yang dibawakan oleh tim PKM bidang Teologi, Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang, pada Selasa (8/9/2026) pukul 18:00-Selesai. Kegiatan yang berlangsung di kantor Desa Kabuna ini mengusung tema yang cukup prospektif, yakni “ Masih perlukah Devosi di zaman ini?”. Dosen Teologi Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang sekaligus narasumber utama dalam kegiatan tersebut, Rm. Gregorius Antonio Mario Kanaf, Pr menegaskan bahwa Devosi tetap memiliki peran yang cukup efektif sebagai sarana yang menampakkan cinta Allah Bapa kepada manusia selama ditempatkan secara proporsional dalam tatanan liturgi Gereja. Menurut beliau, Devosi bukan sekadar bentuk dedikasi pribadi, melainkan sarana yang harus menghantarkan umat untuk semakin mengenal Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus secara utuh.

Sosialisasi ini digelar guna merespons maraknya kecenderungan Devosionalisme di kalangan umat, di mana bentuk kesalehan pribadi dijalankan secara berlebihan hingga mengaburkan inti iman katolik yang sejati. Minimnya pemahaman teologis mengenai batas antara hal yang primer dan sekunder menjadi alasan utama diadakan kegiatan edukatif ini. Kegiatannya berjalan interaktif dan mendapat respons antusias dari umat yang hadir. Selama sesi diskusi, umat cukup aktif berkonsultasi mengenai kedudukan doa rosario, penghormatan kepada oang-orang kudus, hingga penggunaan benda-benda rohani dalam tradisi yang sudah berkembang sejak abad pertengahan. Mengutip pandangan Prof. Dr. Jan Van Paasen, MSC, narasumber memperingatkan agar Devosi jangan sampai berubah menjadi deviasi (penyimpangan) yang membuat gambaran Allah semakin tidak dikenal.
Dalam pemaparannya, Rm. Gregorius secara runtut meluruskan hierarki ibadat dalam Gereja Katolik, beliau menegaskan bahwa meskipun doa Rosario sangat berguna untuk memupuk kesalehan, nilainya tidak dapat disetarakan dengan perayaan Ekaristi yang merupakan puncak dari seluruh iman katolik. Menjawab keraguan umat mengenai penggunaan benda-benda rohani, beliau menjelaskan bahwa umat Katolik sama sekali tidak sedang menyembah berhala, melainkan menyembah apa yang ditampakkan oleh benda tersebut. Melalui prinsip Per Mariam Ad Christum (melalui Maria sampai kepada Kristus), ditekankan bahwa seluruh praktik Devosi hanyalah sarana penuntun yang pelaksanaannya harus selalu diungkapkan secara selaras dengan masa-masa liturgi Gereja.
Materi yang disampaikan cukup memberikan pencerahan dan evaluasi mendalam bagi umat dari keempat lingkungan yang hadir. Banyak di antara yang memperoleh warna baru mengenai makna terdalam dari Devosi kepada Bunda Maria. Mereka menyadari pentingnya menempatkan Devosi sebagai sarana pemurnian iman. Keselarasan pemahaman ini pula diakui sangat membantu umat dalam menjadi kebajikan Teologi seperti iman, harap, dan kasih sebagai dasar utama dalam menyerahkan seluruh hidup kepada Allah. (Dimas Wungo)