SOSIALISASI LECTIO DIVINA DAN PELATIHAN FASILITATOR KATEKESE KITAB SUCI BAGI UMAT STASI WELIURAI.

WELIURAI-Mahasiswa Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang kembali mengadakan kegiatan sosialisasi Lectio Divina dan Pelatihan Fasilitator Katekese Kitab Suci bagi umat Stasi Weliurai wilayah Paroki St. Yohanes Pemandi Haliwen – Keuskupan Atambua. Kegiatan ini berlangsung di wilayah Lingkungan Sta. Theresia Manubaun pada Kamis,10 September 2026 tepat pukul 18.45 – 21.50 WITA.

Rm. Siprianus Soleman Senda,Pr yang merupakan Dosen Kitab Suci di Fakultas Filsafat Unwira membawakan materi dengan Fr. Matheus Tnopo CMF sebagai moderator yang memandu jalannya kegiatan tersebut. Seperti biasanya sebelum melangkah pada materi inti, pemateri mengadakan pretest bagi umat mengenai pengetahuan dasar Kitab Suci, Lectio Divina dan fasilitator katekese. Tujuan dari pretest yakni untuk mengetahui sejauh mana umat memahami materi-materi yang akan dipaparkan nanti. Melalui pretest ini dapat diketahui bahwa umat masih belum mengetahui sama sekali mengenai materi yang akan diberikan. Oleh karena itu sosialisasi Lectio Divina dan pelatihan fasilitator katekese ini sangat relevan dan sangat dibutuhkan umat untuk memahaminya.

Pemateri membawakan materi dengan metode dialogis sehingga mempunyai kesinambungan antara pemahaman umat mengenai materi Lectio Divina dan juga bagaimana menjadi seorang fasilitator yang handal. Dalam penyampaian materinya RD. Sipri menegaskan bahwa fasilitator harus membuat suasana itu hidup dalam arti bahwa tidak membaca teks dari awal sampai akhir, dan harus membuat pertanyaan sendiri sehingga bisa memperkaya pemahaman umat mengenai isi Kitab Suci. Oleh karena itu fasilitator katekese harus mengembangkan budaya persiapan. Pada bagian aksi nyata (Actio), selain aksi komunal, juga harus membuat aksi invidual, mengubah kepribadian menjadi lebih baik.

Pemateri sangat menegaskan bahwa sharing pengalaman saat kegiatan katekese harus menceritakan pengalaman positif yang memberi inspirasi bagi orang lain. Sesi sharing bukan menjadi ruang untuk curhat, dan menggosip orang lain, juga bukan meceritakan pengalaman orang lain tetapi pengalaman diri sendiri.

Di akhir penyampaian materi, narasumber memberi kesempatan bagi umat untuk menanggapi seluruh rangkaian kegiatan yang sudah berlangsung. “Selama ini membaca Kitab Suci tetapi untuk memahami isi dan makna terdalam Kitab Suci masih minim. Namun melalui kegiatan ini menyadarkan saya untuk membaca dengan teknik-teknik yang disampaikan sehingga bisa mengerti isi Kitab Suci” kata Bapak Yohanes Seran, salah seorang umat yang hadir pada kegiatan tersebut. Selain Bapak Yohanes, tanggapan juga datang dari Ibu Nona “Membaca Kitab Suci bukan hanya bacaan liturgi tetapi sebagai bagian dari pedoman hidup sehingga sangat bermanfaat bagi kehidupan setiap hari” Ujarnya. Ada juga yang secara eksplisit mengakui bahwa Lectio Divina menjadi hal yang sangat baru, misalnya diungkapkan oleh Bapak Yansen “Secara pribadi saya baru mendapatkan pemahaman tentang Lectio Divina. Ada banyak hal baru yang dibangkitkan kembali untuk memahami tentang Lectio Divina dan Fasilitator Katekese Kitab Suci”. (Fr.Engky Tura)