Mahasiswa Fakultas Filsafat Bangun Taman Baca dari Sampah di SMP Negeri Satu Haliwen

HALIWEN– Gerakan literasi menjadi agenda tetap dalam kegiatan KKBM mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang. Melalui program kerja membuat taman baca dan perbaikan tanda pengenal sekolah (Kamis, 10/09/26), para mahasiswa menunjukkan bahwa nama sebagai sebuah identitas dan literasi sebagai dialog pembebasan pada prinsipnya tidak dapat dilepaskan dari ruang lingkup sekolah.

Sekolah adalah ruang pembebasan utama, maka identitas sekolah sekaligus wahana belajar jelas menjadi tuntutan pertama untuk menciptakan iklim belajar yang baik. Karena itu, melalui dialog panjang antara kepala sekolah SMPN Haliwen Ibu Stefania Maria Nahak dengan para koordinator kegiatan KKBM, disepakatilah pembuatan taman baca.

Para mahasiswa membagi diri menjadi dua kelompok. Sebanyak 15 mahasiswa mengerjakan perbaikan papan nama sekolah. Sementara 15 mahasiswa lainnya membangun taman baca di SMP Negeri Haliwen. Pembagian kelompok ini dimaksudkan agar pekerjaan lebih cepat dan menghemat waktu pengerjaan.

Awalnya, ide tentang pembangunan taman baca lahir dari kegelisahan Ibu Stefania selaku kepala sekolah terkait kecenderungan siswa datang terlambat ke sekolah.   Hukuman apa yang paling tepat untuk anak yang terlambat? menjadi pergulatan besar agar aturan dapat tetap ditegakan tanpa mengabaikan nilai kemanusiaan.

Kecintaan Kepala Sekolah akan nilai kemanusiaan pada akhirnya menghadirkan dialog praktis yang dilakukan pada Selasa 08/09/26, dan selanjutnya para mahasiswa mulai membangun taman baca sebagai jawaban paling ideal agar siswa yang terlambat tetap menyatakan kebebasan sebagai manusia tanpa ditindas oleh aturan sekolah.

“Saya berpikir bahwa memberi hukuman terhadap siswa yang terlambat misalnya memungut sampah keliling sekolah bukanlah cara yang tepat. Maka saya ingin membuat taman baca sebagai tempat bagi mereka untuk menulis alasan keterlambatan mereka sekaligus mengenal alam melalui kegiatan membaca. Walaupun cara ini sederhana, tetapi saya merasa bahwa metode ini akan membawa dampak positif untuk untuk kehidupan siswa ke depan” ujar Ibu Stefani.

Penegasan ini, menjadi wujud nyata bahwa sekolah adalah ruang pembebasan, dimana harkat dan martabat manusia tetap di prioritaskan. Karena itu, penegasan akan dialog panjang ini menjadi bukti bahwa rasa hormat terhadap manusia itu lebih besar nilainya dari pada hukuman atas dasar kebijakan.

Pembuatan taman baca, pada prinsipnya adalah kesadaran mahasiswa akan pentingnya kenyamanan pada saat membaca. Sebagai mahasiswa filsafat, tentunya program ini menjadi ruang transformasi akan kegelisahan kurangnya semangat membaca di wilayah perbatasan. Melalui pembuatan taman baca, diharapkan adanya ketertarikan para siswa untuk sejenak mencari waktu luang membaca di taman baca.  Sebagaimana membaca membebaskan bagi para pelajar filsafat, maka upaya ini sebenarnya menjadi ajakan bahwa membaca adalah satu-satunya ruang yang paling ideal untuk melawan kebodohan, kemiskinan dan penindasan.

Berbeda dengan taman baca lainnya, taman baca yang dibuat oleh mahasiswa filsafat benar-benar menggunakan bahan bekas pakai yakni sampah plastik, ban, dan botol bekas minuman. Pertama-tama, botol dan sampah plastik dikumpulkan  lalu digunting membentuk bunga dan diberi warna. Sementara ban bekas dibuat menjadi pot besar untuk menyimpan tangkai bunga yang telah dibuat. Adapun  meja yang dibuat dari ban, yang diletakkan di tengah taman sebagai tempat menyimpan makanan saat siswa datang berkumpul di taman baca.  Walaupun prosesnya rumit, namun pekerjaan tersebut tetap dapat diselesaikan.

Dengan demikian, di tengah krisis kebersihan akibat sampah yang berserakan, memanfaatkan barang-barang bekas memiliki nilai filosofis tersendiri. Bagi mahasiswa Fakultas  Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, persoalannya utama bukan tentang bagaimana menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga bagaimana manusia belajar memperlakukan alam sebagai bagian dari kehidupan yang harus dirawat.  Di tangan para mahasiswa Fakultas  Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, sampah-sampah yang tidak berguna diolah menjadi bagian dari taman baca. Di sini, kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti pada sebuah gagasan, tetapi diwujudkan dalam tindakan sederhana yang dapat dilihat dan digunakan bersama terutama siswa SMPN Haliwen.

Pada saat yang sama, taman baca ini sebenarnya juga menjawab kegelisahan  mahasiswa pembelajar filsafat yang sering dipandang hanya hidup di ruang abstrak, tanpa menyentuh realitas. Melalui kegiatan ini, para mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira, justru ingin menunjukkan bahwa pembelajaran di kelas tidak harus berakhir pada  konsep. Pengetahuan memperoleh maknanya ketika berjumpa dengan realitas.  Meskipun sederhana namun di situlah letak keistimewaannya bahwa ide tidak pernah lepas dari realitas.  (Fr. Febry Nahas)