HALIWEN- Kamis, 10 September 2026, rangkaian kegiatan yang dijalankan oleh Tim PKM bidang Teologi Fakultas Filsafat Unwira Kupang di paroki St. Yohanes Pemandi Haliwen memasuki sosialisasi putaran yang keempat. Kegiatan ini berlangsung di Aula Paroki, dengan mengangkat tema yang tergolong berani dan mengusik kenyamanan berpikir umat, yakni “Masih Perlukah Devosi di zaman ini?”. Diskusi tajam ini dipandu oleh Fr. Marselinus Ama Ki’i selaku moderator bersama Rm. Theodorus Aloysius Silab, Pr.L.Th sebagai narasumber utama yang membedah langsung akar persoalan Devosi dalam kehidupan umat beriman. Sosialisasi ini dibawakan dengan pendekatan yang cukup kritis untuk membongkar kecenderungan umat yang kerap mencampuradukkan antara tradisi rohani dan inti liturgi Gereja. Antusiasme umat dari lingkungan Wesasuit, Wehor, Salala, Fohomea, Korbau, dan kelompok Motakiik terlihat dari deretan pertanyaan yang sangat reflektif dan menyentuh akar persoalan. Rm. Theodorus Aloysius Silab, Pr.L.Th menggarisbawahi bahwa tema sosialisasi ini sengaja dirancang provokatif agar umat tidak sekedar menjalankan rutinitas doa tanpa betul-betul paham maknanya. Selama ini, cukup banyak umat yang mengalami kekaburan iman karena tidak mampu membedakan mana hal yang utama (primer) dan mana yang sekunder. Berbagai Devosi baik berupa Doa Rosario maupun penghormatan kepada para Kudus, pada dasarnya adalah bentuk kebaktian pribadi ataupun kelompok untuk menumbuhkan rasa bakti kepada Allah, Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Namun, narasumber mengingatkan bahwa posisi Devosi selamanya berada di tingkat kedua. Devosi hanyalah sarana atau pipa penyalur yang bertugas mengantar umat menuju puncak penghayatan iman yang sejati yakni Ekaristi Kudus.
Guna meluruskan praktik umat yang selama ini keliru, Rm. Theo mengurai kembali tiga kategori penghormatan yang diatur dalam gereja katolik. Pertama adalah latria (penyembahan yang hanya diberikan kepada Allah Tritunggal), hyperdulia (penghormatan khusus kepada Bunda Maria), dan dulia (penghormatan kepada Santo-santa). Kritik tajam turut disampaikan terkait bahaya deviasi atau penyimpangan iman. Devosi justru akan menjadi sesat ketika praktik tersebut membuat wajah Allah itu semakin kabur dan tidak lagi dikenal. Narasumber menyoroti kebiasaan takhayul yang masih terus dihidupi oleh sebagian umat, seperti melilitkan rosario di tangan untuk memukul orang. Beliau menegaskan bahwa rosario atau benda rohani lainnya bukanlah benda berkekuatan magis. Apabila mengalami sakit, tindakan yang masuk akal dan benar adalah berobat ke dokter, bukan malah berpaling ke dukun kampung. Hanya di dalam perayaan Ekaristilah terdapat kehadiran nyata Tubuh dan darah Kristus atau sesuatu yang sama sekali tidak bisa digantikan oleh doa devosional mana pun. Merujuk pada dokumen Gereja Sacrosantum concilium, sosialisasi ini mengingatkan kembali bahwa tujuan dari umat berdevosi adalah memurnikan iman, menggairahkan kasih kepada Allah, serta menghasilkan buah kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. (Dimas Wungo)