Seminar Internasional Fakultas Filsafat Unwira: Filsafat dan Peradaban

Seminar Internasional bertajuk “Philosophy and Civilization” digelar oleh Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 2 Desember 2023 ini bertempat di Ballroom Santo Hendrikus Gedung Rektorat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang dan dihadiri oleh dosen dan mahasiswa/i Fakultas Filsafat serta semua mahasiswa/i yang ingin berpartisipasi dalam seminar ini dan kalangan umum yakni akademisi, ilmuwan, praktisi sosial, peneliti dan spesialis yang berasal dari dalam dan luar negeri. Seminar Internasional ini terbuka bagi kalangan umum di dalam maupun luar negeri yang dapat mengikutinya secara daring maupun luring. Seminar yang bertema “Philosophy and Civilization” ini menghadirkan empat keynote speaker yang berasal dari dalam dan luar negeri. Mereka adalah Dr. Hab. Wojciech Lewandowski dari The John Paul II Catholic University of Lubin, Polandia; Dr. Winibaldus Stefanus Mere dari Nanzan University, Nagoya Jepang; Fransisco da Costa, Ms. Phil. dari Superior Institute of Philosophy and Theology D. Jaime

Garcia Goulart, Dili Timor Leste dan Dr. Watu Yohanes Vianney, M. Hum. dari Fakultas Filsafat Unwira Kupang Indonesia. Seminar ini bertujuan untuk menanggapi krisis global yang sering terjadi dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu seminar ini juga merupakan bentuk kepedulian Fakultas Filsafat terhadap empat persoalan yang terus terjadi dalam peradaban manusia yakni revolusi ganda teknologi dan bioteknologi yang telah memicu tirani dataisme, demokrasi di berbagai negara yang dihantui oleh kebangkitan populisme kanan dan politik identitas, peradaban manusia yang tengah dirusakkan oleh perang dan terorisme serta krisis ekologis dan produksi hoaks yang terus menghantui manusia serta terjadinya disorientasi pada kebenaran dan kemanusiaan.

Seminar Internasional ini dibuka dengan sambutan dari P. Dr. Philipus Tule, SVD selaku Rektor Universitas Katolik Widya Mandira Kupang. Dalam sambutannya, Pater menerangkan bahwa zaman peradaban ini kita dihadapi dengan peningkatan kriminalitas yang terjadi di berbagai Negara khususnya terhadap anak-anak dan perempuan. Banyak permasalahan yang sedang dihadapi seperti ujaran kebencian, pelecehan, hoaks yang tersebar dimana-mana, intoleransi antar sesama dan sebagainya merupakan gambaran yang menjadi tantangan pada masyarakat sekarang ini. Maka dalam menghadapi situasi ini filsafat dan peradaban perlu melihatnya lebih dalam untuk mencari jalan keluarnya. Filsafat dilihat dalam pemikiran yang lebih kritis dan mampu menciptakan kebenaran pengetahuan tersebut. Di akhir sambutan, Pater Rektor mengucapkan terima kasih kepada keempat keynote speaker yang telah bersedia menjadi pembicara dalam seminar internasional ini dan ke-17 pemakalah yang telah memberi diri untuk membagikan pengetahuannya dalam menghadapi krisis global yang terjadi sekarang ini. Setelah itu Pater membuka seminar internasional ini secara resmi diiringi tepuk tangan meriah dari para audiens yang hadir.

Kegiatan ini dimoderasi oleh RD. Kornelis Usboko, L. Ph., di mana pada awal kegiatan Romo menegaskan bahwa Filsafat berarti mencintai kebijaksanaan, Filsafat berkontribusi dalam memampukan seseorang untuk berdaya kritis dalam situasi global yang terus berkembang. Selanjutnya Dr. Hab. Wojciech Lewandowski dalam pemaparan materi, menjelaskan bahwa ada dua prinsip dalam kehidupan manusia. Prinsip yang pertama ialah prinsip solidaritas yakni, kita semua bertanggung jawab atas nilai moral dari setiap orang. Prinsip yang kedua ialah prinsip tanggung jawab diri sendiri yakni, hanya saya sendiri yang bisa dan harus menjadikan diri saya sebagai orang yang baik secara moral. Kemudian melalui dua prinsip ini, Dia menjelaskan kerentanan moral pada kedua prinsip ini. Selanjutnya pada pembicara kedua, Dr. Winibaldus Stefanus Mere menjelaskan tentang tiga poin penting. Poin pertama tentang kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan, poin yang kedua tentang permasalahan HAM dan hukum artificial intelligence yang timbul dari pertanyaan filosofis tentang martabat manusia dan poin yang ketiga tentang beberapa pendekatan nyata untuk mengatasi dampak buruk artificial intelligence. Dia menjelaskan bagaimana perkembangan artificial intelligence dari tahun ke tahun hingga saat ini serta menjelaskan tentang Human Intelligence dan Artificial Intelligence. Pada pembicara ketiga Dr. Watu Yohanes Vianney, M. Hum. menjelaskan tentang tiga poin penting yang meyakinkannya bahwa budaya adalah filsafat yakni pathos, ethos dan logos. Kemudian Father Fransisco da Costa, Ms. Phil. selaku pembicara keempat menjelaskan bahwa demokrasi hadir bukan hanya untuk melibatkan partisipasi masyarakat tetapi juga sebagai institusi yang hadir untuk membela hak-hak kaum lemah. Dia membagikan demokrasi ke dalam dua bentuk yakni formal democration dan substansial democration. Setelah pemaparan materi dari keempat keynote speaker, dilanjutkan dengan diskusi bersama yang dipandu oleh moderator. Diskusi tersebut berjalan dengan baik di mana para audiens yang hadir secara luring dan daring begitu antusias untuk memberikan pertanyaan kepada para pembicara.

Kegiatan ini kemudian mendapat apresiasi dari beberapa pihak yang menyatakan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat dalam pendalaman ilmu pengetahuan yang kemudian bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Riki Tefa, seorang mahasiswa semester 3, mengatakan bahwa melalui kegiatan ini memampukannya untuk lebih kritis dan tanggap terhadap krisis global yang terjadi sekarang ini. Di akhir kegiatan, RD. Yohanes Subani, Lic. Iur, Can., selaku Dekan Fakultas Filsafat menyerahkan sertifikat dan plakat kepada keempat keynote speaker dan moderator yang telah memandu keberlangsungan seminar tersebut. Kemudian Romo mengucapkan terima kasih kepada panitia penyelenggara dan semua yang berpatisipasi dalam menyukseskan seminar internasional ini bahwasanya ini merupakan seminar internasional pertama yang digelar oleh Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang. Romo berharap agar kegiatan ini terus berlanjut di tahun berikutnya di mana kegiatan ini menjadi wadah bagi para akademisi dalam menumbuhkan semangat ilmiah akademis serta berkontribusi dalam memecahkan persoalan-persoalan global yang terjadi dewasa ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *