Catatan Harian Dari Lapok (2)

Misa Malam Natal di Bakong

Siang ini saya tidak bisa istirahat di kamar. Terlalu panas, walaupun pakai kipas angin. Saya turun ke ruang tamu dan duduk mempersiapkan diri untuk misa malam Natal pakai bahasa Iban. Berlatih membaca teks misa dan bacaan Injil. Kurang 5 menit pukul 15.00, saya menuju gereja untuk berdoa kerahiman dan koronka. Saya doakan pula semua orang yang membutuhkan bantuan doa, terutama yang sakit dan menderita. Sesudah doa koronka, saya lanjutkan dengan doa rosario 5 peristiwa.

Pukul 16.00 saya kembali ke pastoran dan mencuci pakaian. Lalu masak. Kebetulan seorang anak muda bernama Marselo yang biasa bantu Father Joseph muncul di pastoran. Saya tanya dia, cara menyalakan kompor gas. Dia tunjukkan dan menyiapkan pula beras dan keperluan masak lainnya. Puji Tuhan. Saya bisa masak sendiri untuk makan. Uncle Paulus semula mau pesan makan di warung tapi saya katakan, tidak apa-apa. Saya bisa masak. Saya masak nasi lalu goreng telur. Menu sederhana saja. Yang penting perut terisi. Makan mie saja tidak kenyang. Maklum perut nasi. Setelah masak, saya mandi. Lalu ibadat sore dan makan.

Pukul 18.00 sore saya sudah siap di pastoran. Uncle Paulus bersama ibu Elisabeth menjemput saya dan kami berangkat ke Bakong lagi untuk misa malam Natal. Umat telah membludak. Gereja penuh. Sebagian umat mengatur bangku dan kursi untuk duduk di teras dan halaman depan gereja. Umumnya mereka itu dari ladang sawit. Dari wajah mereka saya bisa menerka, ini orang-orang dari NTT.

Perarakan masuk didahului dengan tarian khas suku Iban. Empat penari putri dengan pakaian daerah. Satu penari putra di depan, menari sambil memimpin perarakan masuk, diiringi musik tradisional suku Iban. Setelah tiba di depan altar, barulah lagu pembukaan dinyanyikan oleh koor dan umat. Semua umat ikut bernyanyi, karena lagu ditayang pakai infokus. Begitu semangat sampai ada yang bernyanyi sambil bertepuk tangan. Partisipasi umat dalam menyanyi memang luar biasa. Nyaris tak ada umat yang hanya menonton. Semua ikut bernyanyi dengan gembira. Semua lagu dalam misa. Dari pembuka sampai penutup. Luar biasa. Inilah sukacita Natal. Natal di pedalaman Serawak.

Dalam kotbah, saya jelaskan tentang peristiwa Inkarnasi, Allah menjadi manusia, berdasarkan teks dari ketiga bacaan. Cahaya keselamatan hadir bagi manusia dalam diri Yesus Kristus yang dilahirkan Bunda Maria. Para malaikat bersukacita. Umat manusia pun bersukacita. Tuhan Yesus lahir di tengah suasana sederhana, apa adanya. Dibaringkan di palungan (dalam bahasa Iban: dulang sapi). Kiranya Dia juga lahir di palung hati kita, dan hidup kita memancarkan cahaya damai sejahtera di manapun berada.

Sehabis misa beberapa umat minta berkat. Yang dari NTT juga datang bertemu, salam natal sambil menjelaskan asal daerah masing-masing. Mereka gembira sekali. Kami sempat berfoto ria sejenak dan bertukar cerita. Ternyata ada yang berasal dari Eban. Marga Naben. Namanya saya lupa. Dia pernah bersekolah di SMPK Santo Yoseph Freinademetz Kapan. Seangkatan dengan adik saya Hengky Senda. Kami tak banyak berbincang-bincang. Waktu terbatas.

Saya harus kembali ke Lapok untuk misa pukul 09.00 malam. Umat sudah menunggu di gereja pusat paroki. Beberapa keluarga di Bakong pun telah membooking untuk besok, sesudah misa mampir ke rumah mereka dan makan siang bersama. Saya hanya mengiyakan sambil menunjuk uncle Paulus untuk mengaturnya. Saya ikut saja. Kami kembali ke Lapok. Ibu Elisabeth mengendarai mobilnya dengan agak laju karena kami sudah terlambat. Ini semua gara-gara seorang umat yang memarkir mobilnya di tengah jalan keluar, sehingga macet. Ibu Elisabeth sendiri harus bergerak menuju orang itu supaya segera pinggirkan mobilnya, jika belum mau keluar dari halaman gereja. Dia sempat kesal. Saya tersenyum saja dan maklum. Hidup ini begitu sudah. Ada yang tanggap, ada yang tidak tanggap. Kelahiran Yesus saja demikian pula. Ada yang tanggap, ada yang tidak tanggap. Para gembala tanggap dan segera pergi mendapati bayi Yesus. Spiritualitas tanggap untuk kebaikan bersama juga merupakan sebuah pesan natal yang bermakna. Allah tanggap terhadap kebutuhan manusia maka Dia mengutus Putra-Nya menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia.

Kami terlambat 20 menit. Tapi sukacita Natal membuat keterlambatan itu diabaikan. Wajah-wajah sukacita menyambut kami di depan gereja. Segera semua bersiap untuk merayakan malam natal.

 

Misa Malam Natal di Lapok

 

Saya segera ke sakristi dan bersiap memimpin misa. Misdinar hanya dua orang. Tak ada ukup karena tidak disiapkan. Uncle Paulus yang biasanya siapkan, tidak bisa mengurusnya karena ikut saya ke Bakong. Tak mengapa. Yang penting misa.

Perarakan dari pintu depan gereja. Banyak umat juga sudah hadir. Termasuk para pekerja migran asal NTT. Mereka datang bersama keluarganya. Lagu pembukaan, semua umat bernyanyi penuh semangat. Ada tayangan teks di infokus pula. Gitaris memainkan gitar yang disambung ke sound system. Semua larut dalam sukacita Natal. Partisipasi umat dalam bernyanyi patut diapresiasi. Ini baru benar. Semua umat terlibat menyanyi, sehingga tidak terkesan menonton konser lagu.

Misa di Lapok menggunakan bahasa Indonesia. Tata perayaan Ekaristi dipakai TPE dari Indonesia yang diterbitkan komisi Liturgi KWI. Karena di sini belum ada kebiasaan imam menyanyikan bagian imam seperti tanda salib, salam, kemuliaan, pengantar doa Bapa Kami dll, maka semuanya didaraskan saja. Pernah sekali saya tanpa sadar, langsung melagukan tanda salib seperti di Kupang: Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Jawaban umat, “Amin” ternyata beragam dalam nada dasar dan melodi. Saya terkejut dan langsung sambung salam liturgis dengan pendarasan biasa saja, tanpa melagukannya. Semua bagian selanjutnya saya hanya mendaras.

Dalam misa, saya mengulangi kotbah di Bakong. Saya jelaskan tentang kerelaan Allah untuk menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus yang lahir di kandang, dibungkus dengan lampin dan dibaringkan dalam palungan. Sebuah kelahiran seorang Manusia istimewa dalam suasana sangat sederhana, di tempat sederhana. Bukan di istana, bukan di rumah sakit. Disambut pula oleh para gembala. Bukan para bangsawan. Semoga kita menjadi orang sederhana, orang pilihan yang mau menyambut Dia dalam palung hati kita. Alangkah indahnya bila mengalami Dia dalam hati dan hidup kita. Cahaya Natal bernyala dalam hati kita, dan kita memancarkan damai sejahtera dalam hidup.

Selesai misa, banyak umat sudah menunggu untuk berjumpa. Terutama mereka yang datang dari ladang sawit. Perayaan natal adalah kesempatan berlibur yang diizinkan kumpeni (perusahaan sawit). Mereka bisa merayakan Natal di gereja terdekat.

Ada umat yang datang meminta berkat. Seorang ibu yang baru keluar dari hospital (rumah sakit) berusaha ketemu saya dan memohon berkat. Dia juga mengharapkan saya besok siang singgah di rumahnya. Saya memberkati mereka semua yang memohon berkat. Tuhan mengetahui harapan hati mereka. Tuhan itu baik.

Setelah itu kami foto bersama di depan pohon natal. Bergiliran, bagi keluarga-keluarga yang mau foto. Ungkapan di sini adalah “ambil gambar”. Terjemahan lurus dari take picture. Maka saat-saat sukacita seperti ini, selalu terdengar ungkapan umat, “Father, boleh ambil gambar?”. Dengan senang hati kami ambil gambar. Semua mendapat giliran. Sukacita seperti ini memang langka. Syukur bisa mengalaminya bersama umat di pedalaman Serawak ini. Terima kasih juga kepada Bishop Richard yang memutuskan supaya saya tidak di kota Miri saja, tetapi lanjut ke paroki pedalaman yang memang sangat membutuhkan pastor dalam perayaan besar seperti ini.

Tak terasa telah pukul 23.00. Umatpun telah berpamitan satu persatu ke rumah. Saya kembali ke pastoran untuk beristirahat. Sunyi. Sendiri. Tapi menyenangkan. Natal yang indah di pelosok Serawak. Tuhan itu baik. Sungguh terasa damai Natal di hati. Terima kasih, Tuhan Yesus.

(Bersambung)

 

RD Sipri Senda

Diselesaikan di atas pesawat Air Asia dari Miri ke Kuala Lumpur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *