MEWUJUDKAN WAJAH GEREJA PERBATASAN: PKM FAKULTAS FILSAFAT UNWIRA GAUNGKAN KEUTAMAAN KRISTIANI DI DESA KABUNA

Senin, 7 September 2026-     Mahasiswa/mahasiswi Fakultas Filsafat kembali bersua dengan masyarakat desa Kabuna, yang terdiri dari umat lingkungan St. Yohanes-Haliwen, lingkungan Sta. Maria Fatima, dan lingkungan Railaku guna melaksanakan sosialisasi dan diskusi bersama di Kantor Desa Kabuna. Kegiatan sosialisasi dan diskusi ini berlangsung pada pukul 18.00-21.15 WITA, di mana kegiatan ini menjadi tanggung jawab penuh dari kelompok mahasiswa/mahasiswi PKM (Pengabdian Kepada Masyarakat)-Bidang Studi Filsafat. Kegiatan sosialisasi dan diskusi kali ini dipimpin oleh dua narasumber yaitu Rm. Patris Neonub dan Rm. Sintus Runesi. Keduanya berstatuskan sebagai Imam sekaligus sebagai dosen filsafat di Fakultas Filsafat UNWIRA-Kupang.

            “Mewujudkan Wajah Gereja Katolik Perbatasan Yang Sadar Pendidikan, Iman, Mandiri, Dan Teguh Dalam Keutamaan Kristiani (Iman, Harap, Dan Kasih)” menjadi tema hangat yang dibicarakan pada kesempatan kali ini melalui lensa kacamata ilmu filsafat. Masyarakat yang turut berpartisipasi dalam kegiatan ini pun sangat berantusias untuk mengikuti kegiatan ini, di mana mereka ingin memahami bagaimana cara menjadi keluarga kristiani yang mampu menghidupi nilai-nilai keutamaan kristiani di tengah zaman modern yang penuh tantangan saat ini, khususnya dalam lingkup keluarga mereka sendiri. Rm. Patris dan Rm. Sintus sama-sama menegaskan bahwa rumah adalah tempat pertama bagi seorang Kristiani sejati untuk menghidupi nilai-nilai keutamaan Kristiani yaitu iman, harap, dan kasih. Kedua narasumber mengungkapkan bahwa di zaman modern ini nilai perjumpaan (face to face) antar manusia sudah semakin melemah, bahkan di dalam keluarga setiap orang asik dengan dunianya sendiri. Pengaruh media sosial milenial ini hanya sekedar meningkatkan konektivitas semata tetapi menurunkan nilai perjumpaan bersama dalam keluarga.

Seusai dengan pemaparan materi, Fr. Febry Darwin sebagai moderator dalam diskusi kali ini memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk bertanya secara langsung kepada dua narasumber yakni Rm. Patris Neonub dan Rm. Sintus Runesi. Banyaknya pertanyaan yang diberikan menandakan bahwa masyarakat sangat antusias dan sungguh-sungguh aktif dalam kegiatan sosialisasi dan diskusi tersebut. Salah satu pertanyaan misalnya datang dari Derisna (Mahasiswi Prodi Keperawatan-UNIMOR), “Bagaimana jika rumah yang seharusnya adalah tempat ternyaman bagi setiap orang malah menjadi tempat yang sulit untuk menemukan kebaikan?” Menjawab pertanyaan tersebut Rm. Sintus menegaskan bahwa banyak orang yang sebenarnya belum siap untuk membentuk keluarga menjadi rumah ternyaman bagi diri mereka sendiri. Ayah dan ibu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, anak diberikan gadget sebagai teman bermain mereka di rumah. Melanjutkan jawaban Rm. Sintus tersebut, Rm. Patris menjawab pertanyaan tersebut dengan sebuah analogi: “Rumah yang porak-poranda dan rubuh karena diterpa oleh angin atau tertimpa bencana tak boleh hanya berhenti pada rasa kekesalan dan kesedihan saja, tetapi harus berusaha agar bisa dibangun kembali lagi”. Rm. Patris mengajak semua hadirin agar berani membangun “rumah” kita sendiri, berani mencari siapa saja yang dapat kita anggap sebagai keluarga yang mampu menjadi “rumah ternyaman” bagi hidup kita semua.

Menutup kegiatan sosialisasi dan diskusi tersebut, para mahasiswa/mahasiswi dan kedua narasumber pun melangsungkan acara santap malam bersama-sama dengan semua masyarakat yang hadir dalam kegiatan tersebut. (Nadro Nadun)