Mahasiwa UNWIRA-ISFIT Paparkan Hasil Wawancara Soal Sensus Communis

Rabu, 19 November 2025-para mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang dan ISFIT Dili, kembali berkumpul di aula Stasi St. Mikhael Saroja untuk memaparkan hasil wawancara lapangan yang telah dilakukan  pada hari sebelumnya. Pemaparan ini bertujuan mencocokan data dari setiap kelompok, merapikan temuan awal, serta rangkuman final yang akan dibawah ke Seminar Internasional Teologi dan Filsafat besok.

Seriap kelompok mahasiswa mendapat kesempatan untuk menyampaikan hasil wawancara mereka secara runtut dan sistematis. Data yang dipaparkan berisi pengalaman warga perbatasan RI-RDTL yang berkaitan denfa nilai-nilai Sensus Communis, yakni nilai-nilai universal yang hidup dalam komunitas dan menjadi dasar bagi harmoni social. Dalam presentasi tersebut, muncul pentik seperti pola kebersamaan, kerja sama lintas budaya, nilai religious, serta praktik adat yang masih bertahan kuat dalam kehidupan masyarakat perbatasan.

Proses pemeparan ini tidak hanya bertujuan untuk mrlapotkn hasil, tetapi juga untuk mencocokan data dari setiap kelompok dan memastikan akurasi temuan. Ada banyak kesamaan yang ditemukan setiap kelompok, namun ada juga kelompok yang menemukan data yang unik yang bisa melengkap data dari kelompok lain, sehingga memperkaya perspektif dalam penelitian.

Fasilitator penelitian, P. Peter Tan SVD menegaskan bahwa meskipin data yang diperoleh sudah cukup luas, masih terdapat beberapa point penting yang perlu ditamba dan diperluas untuk memperkaya analisis. Salah satu aspek yang paling penting adalh nilai perdamaian yang diwariskan olah tradisi suku di wilayah perbatasan. Nilai bukan hanya menjadi ajaran moral, tapi juga menjadi mekanisme social untuk menjaga hubungan yag harmonis di tengah keberagaman etnis, budaya dan agama. Fasilitator meminta agar meminta agar mahasiswa mengkaji lebih dalam bagaiman nilai perdamaian ini dijarkan, diterapkan, dan diwariskan kepada generasi muda, terutama dalam konteks kehidupan dua negara yang bertetangga.

Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menyatukan sudut pandang, mengubah temuan lapangan menjadi analisis yang tajam, dan memastikan bahwa kajian yang dibawah ke forum seminar internasional memiliki kedalaman akademis yang memadai.  Selain itu melalui kegiatan ini para mahasiswa semakin meperkuat pemahaman mengenai dinamikan social masyarakat perbatasan, sekaligus menegaskan nilai-nilai universal yang menjadi dasar relasi harmonis antara Indonesia dan Timor Leste. Hasil yang telah disnkronkan diharapkan mampu memberikan kontribusi signifikan dalam dialog ilmiah lintas negara serta menjadi inspirasi bagi penelitian lanjut di bidang social, budaya dan filsafat. (AloyNw)*