Selasa, 18 November 2025-Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang dan mahasiswa Instituto Superior de Filosofia e de Teologia (ISFIT) Dili kembali menggelar pertemuan di hari kedua dengan umat lingkungan St. Antonius Padua Paroki Atapupu Keuskupan Atambua. Kegiatan tersebut merupakan lanjutan dari kegiatan seminar pada hari sebelumnya Senin 17 November 2025.
Kegiatan yang terjadi pada hari Selasa 18 November 2025 itu fokus pada diskusi terarah atau Focus Group Discussion (FGD) untuk mengumpulkan pendapat, ide, atau presepsi sesuai tema seminar sebelumnya “In Illo Uno Unum: Kerinduan Untuk Hidup Dalam Keharmonisan”.
Peserta kegiatan Focus Group Discussion tersebut adalah umat Katolik yang ada di lingkungan St. Antonius Padua Paroki Atapupu Keuskupan Atambua. Dalam kesempatan itu umat yang terdiri dari kaum remaja, orang muda, dan orang tua dibagi kedalam kelompok-kelompok untuk melangsungkan diskusi lewat pertanyaan-pertanyaan yang telah disiapkan para mahasiswa.
Pada bagian pembuka diskusi, Fr Efron Nggode salah satu mahasiswa PPKM asal Fakultas Filsafat Unwira menegaskan bahwa diskusi terarah melalui tanya jawab seperti ini merupakan metode untuk menggali kembali pemahaman yang lebih mendalam dan memperkaya perspektif seputar kehidupan kontekstual yang dialami umat.
Usai penegasan di awal, para mahasiswa memberikan beberapa pertanyaan kepada peserta berdasarkan tema “In Illo Uno Unum: Kerinduan Untuk Hidup Dalam Keharmonisan” dengan melihat realitas yang dihadapi umat.
Ibu Yustina Seuk yang merupakan salah satu peserta diskusi menyatakan bahwa untuk menjawab pertanyaan bagaimana cara membangun kerukunan dalam lingkungan masyarakat yakni dengan saling menyapa, mengunjungi tetangga bila sakit, dan dengan melakukan hal-hal positif yang bermanfaat bagi orang lain.
Dalam kesempatan selanjutnya, Ibu Magdalena Boe Mauk salah seorang peserta lain menegaskan bahwa untuk membangun keakraban dengan masyarakat dari suku yang berbeda adalah dengan melayani seperti menjamu minuman atau makanan.
“Menurut saya beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan sesuai pertanyaan bagaimana membangun keakraban dengan suku lain adalah dengan membangun komunikasi melalui perkenalan, dan kemudian pendekatan. Cara pendekatan yang biasa dibuat oleh masyarakat disini saat upacara-upacara penting adalah dengan menyuguhkan sirih pinang, makan bersama, saling berbagi cerita atau tukar pikiran, seperti biasanya seorang tuan rumah lakukan“ ujarnya.
“Bagi saya kegiatan ini sangat bermanfaat sebab melalui diskusi kita saling bertukar pikiran. Ada hal-hal baru yang kita bisa dapatkan. Saya berharap agar pertanyaan-pertanyan dan juga jawaban-jawaban ini menjadi bahan reflektif bagaimana menghadapi setiap perbedaan. Semoga kegiatan ini terus di dilakukan sebab sangat berdampak positif bagi umat dan masyarakat” harap nya.