Mahasiswa Fakultas Filsafat Harus Menjadi Petunjuk Orientasi Yang Tepat

Haliwen — Kehadiran para mahasiswa dan frater Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang dalam perayaan Ekaristi pagi di Stasi Hati Tersuci Maria Weliurai, Haliwen, mulai memberi warna baru bagi kehidupan umat. Kehadiran mereka tidak hanya menambah semarak perayaan liturgi, tetapi juga mendorong antusiasme umat untuk semakin aktif mengikuti perayaan Ekaristi.

Hal itu terlihat dari jumlah umat yang hampir setiap pagi memenuhi kapela untuk mengikuti perayaan Ekaristi. Kehadiran mahasiswa dan para frater menjadi bagian dari dinamika kehidupan iman umat di stasi tersebut. Perayaan Ekaristi pada Rabu (9/9/2026) berlangsung istimewa karena dipimpin langsung oleh Rm. Sipri Senda, Pr., dosen Kitab Suci pada Fakultas Filsafat Unwira Kupang. Perayaan dimulai pukul 06.00 WITA, sesaat setelah doa Angelus didaraskan.

Dalam pengantarnya, Rm. Sipri mengangkat tema tentang penyerahan diri kepada Allah. Tema tersebut kemudian dikembangkan dalam homilinya melalui refleksi filosofis mengenai pentingnya memiliki orientasi hidup yang tepat.Menurutnya, manusia perlu memiliki arah yang jelas dalam menjalani kehidupan. Orientasi tersebut tidak semata-mata diarahkan pada pencapaian material, tetapi terutama pada kehendak Allah sebagai dasar kehidupan manusia.

“Keberadaan para frater dan mahasiswa di tengah umat hendaknya menjadi pijakan bagi umat sehingga dalam perjalanan hidup rohaninya, umat dapat memprioritaskan keutamaan akan kehendak Allah,” ujar Rm. Sipri.

Pesan tersebut sejalan dengan nasihat Rasul Paulus agar umat beriman tidak terikat pada perkara-perkara material, melainkan dengan penuh sukacita menaruh harapan dan perlindungan kepada Allah. Gagasan itu juga dipertemukan dengan pesan Yesus dalam bacaan Injil mengenai kebahagiaan serta peringatan terhadap bahaya keterpusatan hidup pada harta benda.

Dalam refleksi filosofisnya, Rm. Sipri juga menyinggung pemikiran Meister Eckhart (1260–1320), teolog Dominikan asal Jerman. Eckhart dikenal antara lain melalui gagasannya mengenai kebebasan batin dan pentingnya pelepasan diri dari berbagai bentuk keterikatan.

Kebebasan, dalam perspektif tersebut, tidak hanya berarti terbebas dari hal-hal yang berada di luar diri manusia. Lebih dari itu, manusia juga perlu membebaskan diri dari keterikatan batin, termasuk ego, yang dapat menghambat dirinya dalam mengarahkan kehidupan kepada Allah.

Karena itu, kehadiran mahasiswa Fakultas Filsafat di tengah umat diharapkan tidak berhenti pada keterlibatan dalam aktivitas liturgis. Kehadiran mereka juga dapat menjadi ruang untuk menghadirkan refleksi, keteladanan, dan orientasi hidup yang membantu umat semakin mengutamakan kehendak Allah dalam kehidupan sehari-hari. Perayaan Ekaristi berakhir sekitar pukul 07.00 WITA. Setelah menerima berkat, umat dan mahasiswa meninggalkan kapela secara perlahan. Suara sepeda motor dan langkah kaki pun terdengar bersamaan, menandai berakhirnya aktivitas pagi di kapela.