Haliwen, 10 September 2026 -Semangat dan keceriaan siswa mewarnai kunjungan kedua sejumlah mahasiswa di SD Negeri Haliwen, Kamis, 10 September 2026. Kunjungan tersebut merupakan kelanjutan dari kegiatan sebelumnya yang telah dilaksanakan di sekolah yang sama. Pada kesempatan kedua ini, para mahasiswa membawa materi mengenai bullying serta memberikan pendampingan literasi membaca dan menulis kepada siswa-siswi kelas I dan II. Kegiatan berlangsung dalam suasana edukatif, tetapi tetap menyenangkan karena penyampaian materi diselingi dengan berbagai kegiatan ice breaking. Kegiatan kunjungan ini dilaksanakan sebagai salah satu bentuk keterlibatan mahasiswa dalam mendukung proses pendidikan di sekolah dasar. Kehadiran mahasiswa tidak hanya dimaksudkan untuk menyampaikan materi, tetapi juga membangun interaksi langsung dengan siswa melalui kegiatan yang mendidik dan menyenangkan. Pendidikan pada dasarnya bukan hanya tentang seberapa banyak pengetahuan yang dapat diberikan kepada seorang anak, melainkan juga tentang bagaimana anak tersebut belajar mengenal dirinya, menghargai orang lain, dan hidup bersama dalam lingkungan sosial.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan persiapan dan penyambutan para siswa. Setelah itu, para mahasiswa mulai menyampaikan materi mengenai bullying kepada siswa. Materi tersebut diberikan dengan bahasa yang sederhana dan disesuaikan dengan tingkat pemahaman anak-anak sekolah dasar. Para mahasiswa menjelaskan bahwa tindakan mengejek, menghina, memukul, mengucilkan, atau memperlakukan teman secara tidak baik bukanlah bentuk permainan yang dapat dianggap biasa. Setiap tindakan yang dilakukan terhadap orang lain dapat meninggalkan pengaruh, terutama apabila dilakukan secara berulang dan membuat seseorang merasa takut, sedih, atau tidak diterima dalam lingkungan pergaulannya.
Penyampaian materi tentang bullying menjadi penting karena lingkungan sekolah merupakan salah satu ruang utama bagi anak-anak untuk belajar membangun hubungan dengan sesamanya. Sekolah bukan hanya tempat untuk memperoleh pengetahuan melalui buku dan pelajaran, tetapi juga tempat bagi siswa untuk belajar mengenai persahabatan, penghargaan, tanggung jawab, dan kehidupan bersama. Karena itu, membangun lingkungan sekolah yang aman dan nyaman merupakan tanggung jawab bersama, baik siswa, guru, maupun seluruh warga sekolah.
Dalam penyampaian materi, para mahasiswa juga mengajak siswa untuk memahami pentingnya menghargai teman. Siswa diarahkan untuk tidak menjadikan perbedaan fisik, kemampuan belajar, latar belakang keluarga, maupun karakter sebagai alasan untuk merendahkan orang lain. Setiap anak memiliki keunikan dan kemampuan masing-masing. Perbedaan tersebut seharusnya menjadi alasan untuk saling mengenal dan membantu, bukan menjadi dasar untuk melakukan tindakan yang dapat menyakiti sesama. Agar materi tidak terasa berat bagi siswa, kegiatan pembelajaran kembali diselingi dengan ice breaking. Permainan dan aktivitas sederhana dilakukan untuk menciptakan suasana belajar yang lebih santai. Para siswa terlihat antusias mengikuti kegiatan tersebut. Keceriaan mereka menjadi salah satu bagian penting dalam proses pembelajaran karena suasana yang menyenangkan dapat membantu siswa lebih mudah menerima materi yang disampaikan.
Antusiasme siswa juga terlihat ketika para mahasiswa berinteraksi secara langsung dengan mereka. Anak-anak mengikuti kegiatan dengan penuh semangat dan menunjukkan rasa ingin tahu terhadap materi yang diberikan. Keadaan tersebut menciptakan hubungan yang lebih dekat antara mahasiswa dan siswa sehingga kegiatan tidak berlangsung seperti pembelajaran satu arah, tetapi menjadi sebuah proses perjumpaan dan belajar bersama. Selain materi mengenai bullying, kunjungan kedua ini juga diisi dengan kegiatan literasi membaca dan menulis bagi siswa-siswi kelas I dan II. Para mahasiswa memberikan pendampingan kepada siswa dalam mengenal dan membaca kata-kata sederhana serta melatih kemampuan menulis.
Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk perhatian terhadap kemampuan dasar siswa yang menjadi fondasi penting dalam proses pendidikan selanjutnya. Literasi membaca dan menulis memiliki peranan penting dalam perkembangan seorang anak. Kemampuan membaca membuka jalan bagi seseorang untuk mengenal dunia yang lebih luas, sedangkan kemampuan menulis memberikan ruang bagi seseorang untuk mengungkapkan pikiran dan pengalamannya. Dalam konteks pendidikan dasar, kemampuan tersebut tidak hanya menjadi tuntutan akademis, tetapi juga menjadi bekal bagi anak untuk belajar secara mandiri pada masa yang akan datang. Para mahasiswa berusaha memberikan pendampingan secara perlahan sesuai dengan kemampuan masing-masing siswa. Siswa yang mengalami kesulitan dalam membaca maupun menulis dibantu dan diarahkan agar tidak merasa takut untuk mencoba. Pendekatan tersebut dilakukan dengan suasana yang ramah sehingga siswa dapat belajar tanpa merasa tertekan. Semangat untuk mencoba kembali menjadi bagian penting dari proses tersebut karena kemampuan tidak selalu lahir dari sekali percobaan, tetapi tumbuh melalui latihan dan ketekunan.
Kegiatan literasi juga memperlihatkan bahwa pendidikan tidak selalu harus berlangsung dalam suasana yang kaku. Anak-anak dapat belajar melalui permainan, percakapan, pendampingan, dan pengalaman bersama. Ketika pengetahuan diberikan dengan cara yang dekat dengan dunia anak, proses belajar dapat menjadi pengalaman yang lebih bermakna. Kunjungan kedua para mahasiswa di SD Negeri Haliwen pada akhirnya bukan sekadar kegiatan penyampaian materi. Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan antara mahasiswa dan siswa untuk sama-sama belajar. Para siswa memperoleh pengetahuan mengenai bahaya bullying sekaligus mendapatkan pendampingan dalam membaca dan menulis, sementara para mahasiswa memperoleh pengalaman untuk berhadapan secara langsung dengan dunia pendidikan dasar.
Keceriaan anak-anak selama mengikuti kegiatan menjadi gambaran bahwa pendidikan dapat tumbuh dari suasana yang sederhana. Sebuah materi mungkin dapat dilupakan, tetapi pengalaman ketika seorang anak merasa didengarkan, dihargai, dan didampingi dapat meninggalkan kesan yang lebih panjang. Sebab, pendidikan pada akhirnya bukan hanya soal mengisi pikiran dengan pengetahuan, tetapi juga membentuk cara seseorang memandang dan memperlakukan sesamanya. Melalui kunjungan kedua ini, para mahasiswa berharap siswa-siswi SD Negeri Haliwen semakin memahami bahwa sekolah adalah tempat untuk belajar dan bertumbuh bersama. Mereka diharapkan mampu menjauhi tindakan bullying, membangun persahabatan yang sehat, serta terus mengembangkan kemampuan membaca dan menulis. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa menanamkan nilai kebaikan kepada anak sejak dini berarti sedang mempersiapkan kehidupan bersama yang lebih manusiawi di masa depan.