BEDAH MASALAH PARENTING DAN PERAN “UMA” OLEH TIM PKM BIDANG FILSAFAT, FAKULTAS FILSAFAT UNWIRA DI KAPELA WELIURAI

HALIWEN-Selasa, 8 September 2026, Kelompok mahasiswa dan mahasiswi PKM (Pengabdian Kepada Masyarakat) Fakultas Filsafat, untuk kedua kalinya melaksanakan kegiatan sosialisasi dan diskusi bersama masyarakat dari empat lingkungan yang berada di wilayah Kapela Weliurai. Keempat lingkungan tersebut adalah Lingkungan Weliurai, Lingkungan Bautasik, Lingkungan Manubaun, dan Lingkungan St. Yoseph Fatubesi. Kegiatan kali ini berlangsung pada pukul 18.30-21.45 WITA.

Kegiatan sosialisasi dan diskusi ini kembali dipimpin oleh dua narasumber yang kompeten, yakni Rm. Patris Neonub dan Rm. Sintus Runesi, yang sama-sama bergerak dalam bidang ilmu Filsafat. Tema yang diangkat dalam pertemuan kedua ini masih sama, yaitu “Mewujudkan Wajah Gereja Katolik Perbatasan yang Sadar Pendidikan, Iman, Mandiri, dan Teguh dalam Keutamaan Kristiani (Iman, Harap, dan Kasih).”

 Melalui sudut pandang ilmu filsafat, kedua narasumber mengajak seluruh umat yang hadir untuk memahami bahwa keluarga merupakan sel utama kehidupan manusia. Apabila secara sosial keluarga sudah hancur, maka masyarakat pun akan ikut hancur, karena keluarga adalah unsur paling dasar dalam masyarakat. Rm. Sintus mengungkapkan, “Dunia kita saat ini terpapar oleh arus tabola-bale, di mana rumah yang seharusnya menjadi tempat awal munculnya kebaikan, malah menjadi tempat awal munculnya kejahatan.” Melanjutkan argumen tersebut, Rm. Patris menegaskan bahwa kurangnya perhatian orang tua terhadap anak di dalam rumah sering kali membuat anak cenderung tidak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Anak-anak bebas melakukan apa pun yang mereka sukai tanpa mengetahui apakah kesenangan tersebut baik bagi mereka atau tidak. Rm. Patris juga menambahkan, “Bentuk penghargaan akan eksistensi manusia saat ini hanya berdasarkan pada gelar yang telah ia peroleh. Apabila ia belum memiliki gelar, maka ia belum dianggap sebagai manusia yang benar-benar eksis.”

Setelah pemaparan materi dari para narasumber, Ebed Bili, salah seorang mahasiswa Fakultas Filsafat selaku moderator membuka sesi tanya jawab dengan masyarakat yang hadir. Banyak peserta yang antusias mengajukan pertanyaan guna memperdalam pemahaman mereka tentang keluarga ideal yang mampu menjadikan rumah sebagai titik awal bagi terwujudnya kebaikan. Salah satu pertanyaan datang dari Bapak Yansen, ketua lingkungan Bautasik. Ia bertanya, “Di dalam rumah, saya sudah berusaha menjadikannya sebagai tempat awal bagi anak-anak saya untuk tumbuh menjadi pribadi yang baik dalam hidup bermasyarakat. Namun, bagaimana cara menghadapi jika lingkungan pergaulannya justru membawa pengaruh buruk ke dalam rumah?”

Menanggapi hal tersebut, Rm. Sintus menjelaskan bahwa masalah utama dalam keluarga saat ini adalah kurangnya waktu bagi orang tua dan anak untuk saling bercerita di dalam rumah. Akibatnya, anak-anak cenderung mencari cerita mereka sendiri di luar rumah tanpa mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Melanjutkan jawaban Rm. Sintus, Rm. Patris menegaskan bahwa rumah atau yang disebut “uma” dalam bahasa Tetun, adalah tempat pertemuan pribadi-pribadi, yaitu ayah, ibu, dan anak-anak. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah tersebut, orang tua harus mampu membangun komunikasi yang baik dengan anak-anak, menyediakan waktu luang untuk saling bercerita, serta memberikan pemahaman kepada anak tentang hal-hal yang boleh dan tidak boleh diterima dari lingkungan masyarakat, agar perbuatan buruk tersebut tidak benar-benar terjadi di dalam rumah.

Menutup kegiatan sosialisasi dan diskusi, Ebed Bili selaku moderator menyimpulkan materi dan diskusi yang sudah berjalan dalam satu kalimat “Guru pertama yang paling baik adalah orang tua, dan kelas pertama yang paling baik bagi anak-anak adalah keluarga”. Kegiatan pun ditutup dan dilanjutkan dengan santap malam bersama seluruh umat yang hadir. (Nandro Nadun)