KEGIATAN SEMINAR PENGABDIAN FILSAFAT SD BUDIN, 24 NOVEMBER 2025

Senin 24 November 2025– Mahasiswa/i fakultas filsafat universitas katolik widya mandira kupang dan mahasiswa/i isfit dili kelompok pengabdian filsafat memulai hari pertama kegiatan PPKM internasional yang bertempat di aula SD Budin, Batugede, Timor Leste. Kegiatan ini diawali dengan seminar yang dibawakan oleh romo DR. Leonardus mali dan prof. Inacio loila da.c.o.maia sebagai narasumber.  Kegiatan ini dihadiri oleh para mahasiswa fakultas filsafat unwira kupang dan mahasiswa/i ISFIT Dili serta masyarakat dan anak-anak sekolah dasar Budin. Kegiatan dimulai pukul 19.00 – 21.00 wit. Kegiatan seminar ini dibagi dalam dua sesi yakni sesi pertama adalah penyampaian materi oleh kedua narasumber dan sesi kedua yakni sesi diskusi dalam bentuk tanya jawab.

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman pada masyarakat perbatasan yang berada di wilayah Batugede wilayah perbatasan Timor Leste-Indonesia. Dalam dialog yang dilakukan, ada beberapa informasi yang diperoleh. Informasi atau data tersebut diperoleh dari beberapa tokoh adat, salah satunya dari bapak Antonius Dosantos Gama. Uraian dari informasi atau data-data yang terkumpul adalah sebagai berikut.

Yang pertama, informan memberikan penjelasan mengenai keberadaan agama atau religiusitas di daerah perbatasan RDTL-Batugede. Nilai-nilai penting yang disampaikan oleh informan tersebut di atas antara lain: nilai penghayatan dan menhargai kehidupan keagamaan. Informan menyampaikan bahwa, sangat sulit bagi agama lain untuk masuk ke daerah perbatasan RDTL, karena masyarakat sungguh menghayati keagamaan Katolik. Bagi mereka di daerah RDTL hanya bisa ada satu agama yakni agama Katolik, sehingga masyarakat tidak mengizinkan agama apapun untuk masuk ke daerah RDTL. Di sisi lain, masyarakat pun masih tetap menghargai nilai-nilai keagamaan tradisional yakni ritual-ritual yang sudah diwariskan oleh nenek moyang kaitannya dengan keagamaan, tidak mereka hilangkan. Meski demikian, masyarakat tetap memprioritaskan agama Kristen, kepercayaan mereka terhadap Yesus Kristus. Point kedua yang disampaikan oleh para informan dalam diskusi adalah nilai-nilai budaya di daerah perbatasan RDTL.

Dari segi budaya masyarakat yang hidup di wilayah perbatasan Indonesia (Atapupu) – Timor Leste (Batugade) memiliki kesamaan budaya yang menjadi alat pemersatu masyarakat lintas perbatasan. Kemudian masyarakat perbatasan yang terdapat pada wilayah Batugade tetap menghargai nilai-nilai tradisional yang sama dengan masyarakat Atapupu, Indonesia, yakni nilai kebersamaan, kekeluargaan, dan kerukunan.

M.B