HAUS AKAN ALLAH

Sdr….Di dalam karya dramanya yang berjudul “Sorrell and Son”, Warwick Deeping menuturkan percakapan antara Sorrel dan anaknya mengenai misteri hidup. Sorrell mengatakan kepada anaknya bahwa “berbicara tentang hidup itu ibarat meraba-raba awan yang indah. Awan itu akan tersingkap sebentar, dan anda akan melihat dua hal, yaitu bulan dan wajah gadis, yang sekaligus membangkitkan keinginan dalam hati anda untuk memeluk, atau salah satu atau kedua-keduanya. Namun, sementara anda terpana dalam kebingungan dan dilemma, awan tersebut telah kembali menutup pandangan anda, dan anda kembali meraba-raba sesuatu yang sebenarnya anda sendiri tidak tahu”.

Sdr….Penggalan kata-kata ini pada dasarnya mau mengatakan bahwa hidup manusia sesungguhnya merupakan sebuah kerinduan; kerinduan yang tak bernama sekaligus tak terobati. Kerinduan itu bisa berupa keresahan batin yang tidak menentu; bisa berupa perasaan akan adanya kekurangan dan kehampaan; juga bisa berupa rasa frustrasi. Kerinduan itu juga  ibarat hasrat memeluk lengkung-lengkung kaki langit; semakin dikejar, semakin ia lari menjauh. Dan inilah yang membuat manusia sering merasa lelah, cape bahkan frustrasi. Namun, bagaimanapun, manusia tidak mungkin hidup tanpa kerinduan itu. Inilah kerinduan yang bisa kita sebut sebagai rasa haus/dahaga manusia akan yang abadi, yang hanya dapat dipuaskan oleh Tuhan sendiri. Kerinduan semacam inilah yang dimaksudkan Santo Agustinus, ketika ia mengatakan, “Hatiku tidak tentram, sampai ia menemukan ketentraman itu di dalam Allah”. Secara afirmatif, pemazmur merumuskan kerinduan ini demikian: “Seperti rusa merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Dikau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang dan melihat Allah? (Mzm 42:2-3). Dengan ini, kita boleh tegaskan bahwa kerinduan sejati yakni rasa haus/dahaga manusia akan yang abadi itu tidak dapat dipuaskan oleh hal-ikhwal dunia ini, atau oleh hal-hal tercipta, melainkan hanya oleh Allah sendiri.

Akan tetapi, sdr……Akibat kelemahan kodratinya, manusia sering mencampuradukkan, bahkan menyamakan begitu saja kerinduan abadi akan Allah di satu pihak, dan keinginan sesaat akan hal-ikhwal dunia, di lain pihak. Inilah sejenis kerancuan nalar dan psikologis dalam diri manusia,  yang terkadang mendorong manusia untuk mencari solusi dan jawaban yang keliru atas persoalan-persoalan dalam hidupnya; atau lebih jelas, yang cenderung mencari pemenuhan atas rasa dahaganya yang abadi itu pada obyek dan tempat yang salah.

Sdr…Sesungguhnya, inilah yang telah ditunjukkan secara jelas oleh umat Israel dalam pengembaraan di padang gurun, yang mempertanyakan kehadiran serta penyertaan Ilahi, sebagaimana kita dengar dalam bacaan pertama tadi (Kel 17:3-7). Karena lelah, cape dan haus dalam kembara panjang di padang gurun yang tandus, umat Israel memang butuh air agar bisa bertahan hidup. Namun hal itu dilakukan dengan cara yang salah, yakni dengan bersungut-sungut kepada Musa, yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir yang relatif nyaman dan mapan. Dalam hal ini, secara tidak sadar, mereka sebenarnya ingin bertemu dengan Yang Ilahi dalam ukuran-ukuran serta cara-cara yang mengenakkan mereka sendiri, dan bukannya menurut ukuran dan cara Allah. Namun, bagaimanapun, melalui Musa, hambaNya, Allah menunjukkan kasih dan kesetiaanNya yang tetap terhadap umatNya yang tidak setia, dengan memberikan mereka air yang memuaskan rasa dahaga mereka. Dengan itu, Allah sekaligus bermaksud menyadarkan mereka akan perkara yang jauh lebih penting dari sekedar urusan perut atau makan-minum serta pemuasannya yang sesaat dan menyesatkan, justru karena memperbudak serta merendahkan martabat mereka sebagai umat pilihan, bangsa tertebus, kaum merdeka.

Sdr…..Selanjutnya upaya dan cara untuk mencari pemuasan atas rasa dahaga pada obyek dan tempat yang keliru pun sedikit banyaknya ditunjukkan oleh wanita Samaria dalam kisah Injil tadi. Hal ini ditunjukkan oleh kebiasaannya datang ke sumur Yakub untuk menimba air, karena menurut keyakinannya, air sumur itulah satu-satunya yang mampu memuaskan rasa haus atau dahaganya. Namun, syukurlah, bahwa keyakinan, ikhtiar serta kebiasaan keliru dari  wanita itu pada akhirnya diluruskan oleh Yesus, yang kebetulan saat itu sudah ada lebih dahulu di sumur itu. Lewat proses percakapan yang lama, panjang dan alot, Yesus akhirnya memperkenalkan diriNya sebagai “Air Hidup” kepada wanita itu. Di sini, “air hidup” seturut konsep Yahudi adalah air yang memiliki sumbernya sendiri dan senantiasa mengalir seperti sungai, yang memberikan kesegaran dan kehidupan kepada semua saja yang dialiri atau dilewatinya. Sementara air sumur Yakub bukanlah air hidup, karena ia tidak memiliki sumbernya sendiri melainkan merupakan rembesan air dari daerah sekitarnya, yang kemudian tertampung dalam sumur seperti air kolam.

Sdr…Setelah memperkenalkan diri sebagai Air Hidup, Yesus juga mengantar wanita itu kepada pemahaman yang benar tentang diriNya sebagai “Roh dan Kebenaran”, sebagai satu-satunya dasar yang sejati dari setiap ibadat yang benar kepada Allah. Untuk mengerti hal ini, kita perlu lebih dahulu tahu bahwa orang Samaria menjadikan gunung Gerizim yang ada di dalam kota Samaria itu sebagai tempat pemujaan terhadap dewa-dewa, sekaligus pemujaan terhadap Allah Israel. Sementara orang-orang Yahudi baik di Yudea maupun Galilea yang adalah musuh bebuyutan orang Samaria menjadikan gunung Sion atau kota Yerusalem sebagai tempat beribadah kepada Yahweh. Dengan ini Yesus mengatakan bahwa saatNya telah tiba di mana baik orang Yahudi maupun Samaria, juga segala bangsa, akan memuja Allah, bukan lagi di gunung Sion atau Gerizim, bukan lagi di tempat ini atau itu, melainkan di dalam Roh dan Kebenaran, yaitu di dalam Yesus Kristus sendiri yang adalah Anak Allah, sumber Air Hidup.

Sdr…Selanjutnya menarik juga bahwa setelah Yesus menyatakan siapa diriNya, pada akhirnya wanita Samaria itu juga menyatakan siapa dirinya, dengan segala masa lalunya yang gelap,  di hadapan Yesus. Pernyataan Yesus tentang status wanita itu, yang sudah bersuamikan lima orang lelaki, dan yang sekarang bersama dia bukanlah suaminya, secara alegoris ingin menunjukkan status kota Samaria yang telah dijajah oleh kurang lebih oleh lima bangsa kafir dengan segala dewa-dewi sembahannya. Kelima bangsa kafir itu kini telah pergi, dan Samaria mau tidak mau harus kembali ke asalnya sebagai bangsa pilihan juga, yang Allahnya adalah Yahweh sendiri, namun yang sayangnya telah mereka khianati dan tinggalkan, justru karena ketidaksetiaan mereka. Dalam hal ini, pertemuan pribadi manusia dengan Yesus, mampu membuka kedok masa lalu manusia yang gelap dan carut-marut akibat ketidaksetiaan manusia terhadap perjanjian dengan Tuhan, sebagai syarat untuk memulai suatu hidup yang baru, yakni hidup dalam persatuan serta persekutuan cinta dengan Allah yang Mahakasih dan Mahasetia.

Sdr…Sesungguhnya permintaan Yesus kepada wanita Samaria, ’Berikanlah Aku air !’, yang mengawali percakapan mereka, kiranya akan menemukan gema dan pemenuhan maknanya di atas Salib, ketika Yesus berseru, ‘Aku haus !’ Di sini, permintaan dan juga seruan Yesus ini mengungkapkan sejenis rasa dahaga yang unik dan mendalam, yang lebih dari sekadar rasa haus jasmani yang dialami seseorang yang sedang sekarat. Inilah dambaan Yesus untuk menganugerahkan “air hidup”, yakni air hidup Rohani dan Cinta Allah kepada wanita itu dan seluruh rakyat Samaria. Yesus menjanjikan bahwa Air Hidup Rohani ini akan menjadi mata-air hidup dalam dirinya yang akan terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal, dan yang memampukan dia untuk menyembah Allah dalam Roh dan Kebenaran.

Sdr… Selama masa hidupNya, Yesus memiliki kerinduan mendalam untuk memberikan air hidup dari Kehidupan dan Cinta Allah kepada semua orang yang memandang Dia dengan mata iman. Dan menurut penginjil Yohanes, inilah makna dari darah dan air yang mengalir dari lambung Yesus yang ditembusi tombak. Air pemberi hidup dari Roh Cinta Allah ini pertama-tama akan dicurahkan ke atas semua yang berhimpun dalam iman di bawah kaki salib: ke atas Ibu Maria, ke atas murid yang dikasihi, ke atas Nikodemus, ke atas Yusuf dari Arimatea, ke atas para rasul dan para murid, ke atas wanita Samaria dan segenap kaum Samaria, dan akhirnya ke atas kita semua yang menghampiri Tuhan yang tersalib dengan hati yang terbuka. Sudah sejak awal hidupNya, Yesus mengundang semua dan setiap orang yang percaya untuk minum dari mata air hidup ini. “Barangsiapa yang haus, datanglah kepadaKu; dan barangsiapa percaya kepadaKu, minumlah. Karena sesungguhnya dari hatiKu akan mengalir air hidup yang kekal!”.

Karena itu, sdr….Belajar dari wanita Samaria, yang rindu untuk bertemu dengan Tuhan, kiranya kita pun senantiasa dahaga akan Allah, satu-satunya yang mampu menjamin perubahan radikal dalam hidup kita, dan yang sanggup memberikan kehidupan yang sejati dan kekal bagi kita…..Mudah-mudahan…Amin!!!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *