Di Bawah Tatapan Bunda

Perempuan itu menghapus air matanya. Dikuatkan hatinya. Cukup. Aku tak boleh menangis lagi. Tak ada gunanya. Tangisan tak kan mengubah keadaan. Aku harus bangkit dari keterpurukan ini. Batinnya mengarahkan dia untuk berdoa. Sesuatu yang sudah lama dia tinggalkan. Ya, doa. Entah kenapa, dia terdorong untuk berdoa. “Tuhan, tunjukkan orang yang kepadanya saya bisa berbagi beban ini.” Lalu dia tertidur dengan nyenyak.

Esok pagi. Hari baru. Pikirannya yang sumpek telah berlalu. Seperti ada kekuatan baru. Dan dia ingat kawannya. Kawan lama yang selalu membantu dia di saat kesulitan. Hari ini aku harus ketemu dia, batinnya. WA. Jarinya segera bermain di HP.

“Selamat pagi. Posisi di?”

“Selamat pagi. Di Kupang.”

“Sibuk hari ini?”

“Tidak. Belum ada kegiatan di kampus. Saya di rumah saja.”

“Saya mau ke situ.”

“Mari su.”

Hari itu dia tumpahkan semua beban batinnya kepada sahabatnya. Tak ada yang tersisa. Juga tak ada lagi air mata yang tersisa. Semua tumpah. Hanya satu keinginannya. Bangkit dan berdiri tegak. Kawannya mendengarkan dengan sabar dan penuh perhatian. Setelah selesai semuanya, dia mengajak perempuan terluka itu berdoa. Lalu disarankannya untuk bertemu dengan seorang pastor.

“Mengapa harus ketemu pastor?” Tanyanya seperti enggan. Ia merasa malu harus berhadapan dengan seorang pastor.

“Jiwamu membutuhkan sesuatu yang lebih dari kelegaan psikologis. Sesuatu yang hanya bisa diterima lewat sakramen. Engkau seorang katolik, bukan?”

Dia terdiam dan merenung. Ada secercah cahaya dalam benak. Bertahun-tahun dia tidak menerima sakramen pengakuan. Tiba-tiba ada rasa rindu yang kuat akan sakramen ini.

“Saya harus ketemu pastor siapa?”

“Ada beberapa, dan silakan pilih sesuai kata hatimu. Tapi kalau boleh, saya sarankan yang ini. Silakan kontak dia.” Temannya menyebutkan beberapa nama dan memberi saran.

“Terima kasih.” Dia ikuti saran kawannya. Kata hatinya juga memilih nama yang sama.

*


Sebulan telah berlalu. Dia telah bertemu pastor dan merayakan sakramen tobat. Ada rasa damai di hati. Dia berdamai dengan Tuhan, dengan sesama dan terutama dengan dirinya. Tak ada lagi rasa mempersalahkan diri. Tak ada lagi rasa tak berarti. Tak ada lagi rasa putus asa. Nasihat rohani yang diterimanya kian memacu semangat untuk bangkit dari keterpurukan ini. Doa dan refleksi menjadi sarana. Dia mencoba menjalani hidupnya dengan sikap baru. Wajahnya tak lagi murung. Ada cahaya. Cahaya dari batin yang damai.

Dua bulan berlalu. Ada luka. Tapi batinnya sudah lebih kuat. Doa yang dihayati membuat dia kuat. Penyembuhan terus berjalan. Dan kekuatan doa membuat dia tidak tumbang lagi. Dia yakin, Tuhan Yesus dan Bunda Maria menyertainya. Tuhan adalah keselamatan. Bunda Maria adalah penolong abadi.

Luka yang dialami lagi dibawa dalam untaian rosario suci. Refleksi iman yang dijalaninya dengan intens membuka selalu perspektif baru dalam melihat persoalan hidup. Ternyata semua ada hikmah. Ternyata penyelenggaraan ilahi itu nyata. Senandung lagu rohani tetap bergema di hati. Lagu syukur dan pujian. Lagu permohonan dan harapan. Semua menyatu dalam doa diam dan refleksi mendalam.

“Tuhan itu baik. Ternyata Dia baik sekali pada saya.” Pengakuan itu meluncur saat bertemu pastor untuk sharing hidup. Dia merasa ada perkembangan luar biasa dalam dirinya. Rahmat bekerja dalam senyap. Buahnya kentara dalam kekuatan batinnya mengolah luka dan derita jadi pengalaman rahmat. Semua itu tersimpul dalam pernyataan itu. Tuhan itu baik.

Hari-hari hidupnya kini terasa indah. Dia merasa tak ada lagi beban yang menindih. Yang ada malah sukacita memikul beban. Baginya itu salib yang diterima dan dipikul dengan bahagia. Ini sesuatu yang menakjubkan. Ternyata memikul salib dengan perspektif seperti ini, malah membahagiakan. Sungguh aneh tapi nyata. Paradoks tapi itulah kenyataannya.

Perlahan tapi pasti dia memandang semua di sekitar dengan mata kasih. Itu membuatnya semakin merasakan keajaiban Tuhan. Ternyata seperti ini ketika selaras dengan cara Tuhan memandang kita. Demikian dia membatin. Sungguh ajaib dan dahsyat kekuatan kasih.

Dengan cara pandang baru ini, dia membersihkan batinnya dari sisa-sisa egoisme, kesombongan dan gengsi. Kini dia semakin bebas mencintai walau dilukai. Kasih mengalahkan segalanya. Kasih memulihkan segalanya. Luka-luka baru tak kuasa membuatnya sakit. Dia sama sekali tidak lagi terluka. Seberapa besar pun serangan dan tikaman.

Dalam doa dan refleksi sunyi, dia bersujud syukur. Tuhan itu baik. Kasih kini memancar dari hatinya. Memancar melalui kata-katanya yang tak lagi ketus dan sinis. Melalui tindakan yang lembut dan penuh perhatian tulus. Pancaran kasih itu mengubah suasana dalam rumah. Ada keceriaan. Ada sukacita. Semua memantulkan gema yang sama: kasih dan sukacita. Alangkah indahnya hidup dalam kasih.

*


Suatu hari. Dia datang lagi pada pastor. Ingin merayakan sakramen tobat yang menyembuhkan. Dia berbicara banyak. Tuhan mendengarkan semuanya dengan kerahiman tak terbatas. Selesai. Kerahiman ilahi telah memenuhi jiwanya. Dia telah mencapai tahap kasih agape. Kasih tak terluka. Oleh apapun dan sampai kapanpun. Dengan kasih agape ini, dia melangkah ke masa depan. Tanpa keraguan sedikitpun. Di batinnya terus bergema suara itu: Tuhan itu baik. Tuhan itu baik.

Di suatu senja, dia berdiri di gua Maria, di samping gereja paroki. Dia memandang Bunda Maria dan mendaras Salam Maria. Matanya menangkap sebuah senyuman di wajah Bunda Maria. Dia pun tersenyum. Ada lesung pipit. Dia yakin, dia tak berjalan sendiri. Bunda Maria juga seorang istri dan mama. Dia tahu isi hati perempuan yang sedang berdoa itu. Dan perempuan itu mengakhiri doa dengan menunduk hormat. Di bawah tatapan Bunda, dia membuat tanda salib. Di bawah tatapan Bunda, dia melangkah pergi. Berjalan menuju masa depan yang cerah.

 

Prim Nakfatu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *