Blessing in Disguise

Rahmat terselubung. Saya ingat ungkapan ini. Salah satu topik dalam pokok bahasan keenam matakuliah Pendidikan Agama semester 1 di Prodi Admistrasi Publik, FISIP Unwira. Kepada para mahasiswa saya jelaskan tentang rahmat terselubung ini sebagai salah satu dari tiga jenis rahmat. Dua lainnya adalah rahmat umum dan rahmat khusus.

Rahmat terselubung adalah rahmat istimewa yang Tuhan anugerahkan kepada manusia secara tidak langsung. Terselubung dalam peristiwa yang terjadi tanpa dikehendaki. Ada rasa kecewa. Tetapi setelah melewati momen kekecewaan itu dan direfleksikan kembali, barulah diketahui betapa Tuhan telah merancang sesuatu yang baik untuk yang bersangkutan. Blessing in disguise. Di balik kepahitan tertentu ternyata ada rahmat istimewa yang Tuhan sediakan. Ada hikmah di balik kejadian tertentu. Maka yang dituntut itu sikap percaya penyelenggaraan ilahi. Berjalan saja dengan iman. Tetap setia berdoa dan berbuat baik. Selebihnya Tuhan akan mengatur dengan cara-Nya yang ajaib dan menakjubkan.

Hari ini saya juga mengalami blessing in disguise. Rahmat terselubung di balik kekecewaan tertentu. Kecewa pertama adalah saat mau naik pesawat ke Kuala Lumpur. Petugas minta supaya koper dialihkan saja ke bagasi karena kabin penuh. Demikian informasi dari awak kabin. Maka kami beberapa orang terpaksa merelakan koper kami beralih ke bagasi. Mau bilang apa lagi. Ternyata di kabin, masih banyak tempat lowong untuk tas dan koper. Seorang turis Eropa yang melihat itu kesal dan komplain kepada petugas, tapi tetap hal itu tidak mengubah keputusan lantaran koper sudah masuk bagasi. Saya diam saja sambil menonton mereka beradu argumen. Tak ada gunanya komplain. Belajar menerima kenyataan apa adanya. Mengalir saja dalam penyelenggaraan ilahi.

Ternyata di balik kekecewaan itu, ada keuntungan yang kemudian saya alami. Di Kuala Lumpur, kami antrian panjang di imigrasi. Menarik koper saat antrian panjang tentu merepotkan. Dengan demikian, tanpa koper, saya bisa antri sambil menulis catatan harian sampai tiba giliran saya. Keasyikan menulis sambil antri membuat saya tidak merasa bosan dalam antrian. Itulah untungnya tak ada koper. Sesudah urusan imigrasi, saya ke balai tuntutan bagasi nomor 10. Koper itu sudah berputar entah berapa kali. Saya periksa, ternyata aman dan lengkap. Tak ada yang kurang walaupun tidak dikunci. Terima kasih, Koper. Kita dua berpisah sejenak, maka saya bisa membuat sedikit catatan saat antrian panjang tadi.

Kekecewaan kedua adalah saat buka hp untuk kontak ke Miri. Ternyata paket data roaming internasional yang saya atur tidak berfungsi. Sialnya itu terjadi karena kesalahan saya. Sudah diatur untuk pukul 02.00 dinihari mulai berlaku. Tapi karena saya atur mode terbang, maka Telkomsel tidak bisa aktifkan paket data itu. Tidak bisa buka WA dll. Mau bagaimana lagi? Roaming pun berlaku. Dari pada pusing, lebih baik aktifkan kembali mode terbang dan cari makan dulu. Sudah siang. Lapar. Maka nasi lemak ayam merah dan teh tarik jadi pilihan menu terbaik. Enjoy your meal. Abaikan itu paket data. Nanti baru cari jalan. Yang penting isi perut dulu. Sesudah makan, pas pukul 12.00. Saat untuk teduh batin. Doa Angelus disusul ibadat siang. Sesudah timba kekuatan jasmani, kini timba kekuatan rohani. Semua ada waktunya.

Sesudah makan, saya pusing-pusing melihat aneka barang menarik yang dijual, sambil keker tempat jual paket data yang saya yakin ada di sekitar situ. Setelah pusing-pusing sampai benar-benar pusing sendiri, saya menyerah. Cari petugas dan tanya. Langsung diarahkan ke konter depan pintu ketibaan. Ini dia. Akhirnya solusi datang pada waktunya. Pasang paket data Malaysia untuk satu Minggu. Bereslah semuanya. Maka tulisan-tulisan saat penerbangan maupun antrian segera dikirim dan dipublikasi. Selalu ada solusi. Asal tenang, sabar dan optimis. Dengan inipun beberapa pembelajaran penting diperoleh. Tak perlu risau lagi dengan Telkomsel Roaming. Ternyata saya merenung, jika saya tetap pakai Telkomsel Roaming, maka pengalaman saat paska akan terjadi lagi. Saya tidak bisa kirim renungan dan kontak dengan dunia luar karena berada di pedalaman Lapok. Tapi dengan menggunakan paket data Malaysia ini, renungan harian tetap dikirim ke semua sahabat di manapun berada. Dan yang penting, saya bisa tetap mengirim beberapa artikel yang sudah beres ke jurnal. Tuhan itu baik.

Dengan sukacita saya menuju Balai Pelepasan Dalam Negeri di level 3. Masih banyak waktu karena Rm Kevin memilih tiket penerbangan sore pukul 18.20. Ada waktu untuk istirahat dan menulis. Saya selesaikan tulisan tentang Kerja Sistematis dan bereskan artikel jurnal bersama Fr. Sarce tentang Penerapan Hukum Taurat secara progresif perspektif Yesus. Puji Tuhan, akhirnya selesai. Tinggal diatur sesuai template dan kirim ke jurnal. Dengan paket data Malaysia, saya tetap bisa bekerja dan mengirimnya dari Lapok.

Pukul 15.00 doa Kerahiman dan koronka. Sesudah itu menuju konter Air Asia untuk check in. Antrian panjang sekali. Tapi kesabaran telah teruji. Maka nikmati saja sampai tiba giliran. Setelah dapat boarding pas, langsung masuk ke ruang tunggu di depan Gate K6. Masih banyak waktu. Saatnya untuk selesaikan tulisan ini. Tuhan itu baik. Selalu ada blessing in disguise di balik setiap peristiwa yang semula dirasa tidak mengenakkan. Itu ko tidak.

 

Sipri Senda

Ruang tunggu K6 Bandara KL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *