Namanya Stephanus Soni. Asal Watuneso. Setamat SMAN 1 Maumere dia merantau ke Sangatta, mengikuti keluarga yang telah duluan merantau. Sebagaimana tamatan SMA lainnya yang tak punya keterampilan bekerja, dia bekerja serabutan. Salah satunya menjual air. Waktu itu Sangatta masih kesulitan air bersih. Peluang ini dimanfaatkan dengan menjual jasa penyedia air bersih.
Dua tahun berjuang bekerja apa saja agar bisa hidup, akhirnya dia mendapat kesempatan bekerja di kontraktor Daino yang bergerak di jasa bom racikan untuk membongkar tanah tambang. Dia dilatih khusus untuk meracik bahan peledak. Ketekunannya berbuah manis. Dengan cepat dia memahami komposisi bahan kimia yang digunakan untuk meracik bahan peledak.
Dia ikut dalam tim peracik sejak tahun pertama sambil terus belajar. Untuk meningkatkan skill dia diutus ikut pelatihan di Balikpapan, Bandung dan Jakarta. Lewat pelatihan itu, keterampilannya meracik bahan peledak semakin mumpuni. Secara perlahan dia menjadi orang penting di perusahaannya.

Setelah 10 rahun bergabung perusahaannya kalah bersaing dengan kompetitor pendatang baru. Akhirnya Daino meninggalkan Sangatta. Perusahaan baru Okira mengambil alih peran meledakkan tanah tambang. Okira juga menerimanya untuk bekerja dalam posisi yang sama.
Pak Soni yang akrab disapa Bapak Sandro itu bekerja dengan tim kerja yang solid. Kebutuhan bahan peledak setiap hari mencapai 60 ton. Timnya hanya bertugas meracik bahan peledak. Sedangkan di lapangan, ada petugas lain yang merancang pemasangan bahan peledak di lubang-lubang yang disiapkan sampai tahap peledakan. Takaran bom itu dikalkulasi dengan matang agar hasilnya berupa retakan tanah yang memungkinkan penggalian dengan lebih mudah.
Oleh karena pekerjaannya ini, namanya terdaftar di Polda Kaltim dan tetap dipantau di mana saja dia berada. Ketika dia berlibur ke kampung di Watuneso pun ada intel yang terus memantau keberadaan dan pergerakannnya.
Salah satu hal yang membuat dia bersama istri dan anak-anak merasa kuat menjalani hidup di tanah rantau ini adalah kecintaan mereka akan Gereja. Mereka adalah orang-oeang beriman Katolik yang menghayati imannya dengan tekun. Sipritualitas pelayanan bagi Gereja dihayati dengan militan. Kepentingan Gereja apapun dinomorsatukan. Seisi rumah selalu terlibat dalam seluruh kegiatan Gereja. Menurut kesaksiannya, pengalaman kedekatan dengan Tuhan dan Gereja membuat keluarganya sungguh mengalami aneka rahmat Tuhan dalam pekerjaan maupun pendidikan anak. Dia merasa keluarganya sungguh terberkati walaupun harus menghadapi aneka tantangan hidup yang berat. Baginya, di balik penderitan yang berat, Tuhan menyediakan aneka berkat.