Jumpa Keluarga Paga di Paroki Sangatta

0 149

Tak disangka pelayanan asistensi Paska tahun ini mengantar saya untuk berjumpa dengan keluarga Paga yang merantau ke Sangatta sejak tahun 90-an. Mereka mencoba mengadu nasib memperbaiki hidup ekonomi di kota pertambangan batu bara terbesar di Indonesia ini. Memang ada yang ikut program transmigrasi dan tinggal di wilayah yang ditetapkan pemerintah. Tapi kebanyakan datang atas inisiatif sendiri. Sebagiaan besar bekerja di pertambangan.

Ada beberapa kisah yang sempat saya rekam. Minggu Palem saya rayakan misa di daerah transmigrasi. Dua stasi yaitu SP 3 dan SP 6. SP adalah Satuan Pemukiman. Ini sebuah cara penamaan wilayah transmigrasi. Di SP 3 saya berjumpa dengan keluarga yang berasal dari Wolowiro. Di SP 6 saya berjumpa dengan orang Maumere yang berasal dari Nita, Kewapante, Bola dll. Misa di kedua tempat ini serasa misa di kampung halaman.

Di SP 3 ada pastoran dan gedung gereja permanen yang bagus, hasil pembangunan umat secara swadaya. Begitu pula di SP 6. Tanah gereja dihibahkan oleh pemerintah. Meski dengan kekuatan 20 KK di SP 3, umat berjuang dalam koordinasi dengan pastor paroki sampai bangunan gereja dan pastoran didirikan. Semangat militansi iman mereka patut diacungi jempol.

Di SP 3 ini ada dua mama yang berjiwa Marta. Mama Emon dan mama Eka. Emon dan Eka merupakan nama anak sulung mereka. Begitu mendapat informasi bahwa paator akan datang untuk perayaan Minggu Palma dan menginap di pastoran, keduanya segera menyiapkan akomodasi dan konsumsi. Gerakan cepat dan rapi. Selama berada di pastoran, kami para pastor dan driver benar-benar dijamu dengan baik. Pelayanan berspirit Marta ini sungguh luar biasa. Di mana-mana, selalu ada para mama seperti Mama Emon dan Mama Eka yang selalu siap melayani di pastoran dengan akomodasi dan konsumsi yang baik. Para pastor yang datang melayani sakramen dapat fokus melaksanakan tugas pelayanan tanpa kuatir soal makan minum. Tuhan memberkati para Marta yang setia melayani tanpa pamrih ini.

Sesudah misa di SP 3, saya dijjemput untuk misa di SP 6. Di sini mayoritas orang Maumere. Ada sekitar 100 KK. Gerejanya yang baru adalah gedung permanen dan dapat menampung 200 lebih umat. Gereja lama yang terbuat dari kayu dipakai untuk aula dan ruang sekolah minggu bagi anak-anak Sekami.

Yang menjemput saya adalah bapak Ajutor yang berasal dari Kewapante. Dia berkisah tentang perjuangannya di daerah transmigrasi. Tahun awal katanya selalu penuh penderitaan. Dia mengolah lahan menjadi tanah pertanian untuk padi, jagung, singkong, dan aneka tumbuhan lain. Hasilnya memang luar biasa. Panen berlimpah. Bisa dimakan untuk setahun bahkan lebih. Tapi tidak ada uang. Karena hasil panen yang lebih tidak bisa dijual. Semuanya berlimpah panenan. Mau jual ke kota, tidak ada transportasi.

Kehidupan berubah ketika semua beralih ke tanaman sawit. Lahan padi dan jagung berubah menjadi lahan sawit. Di tahun keempat sesudah tanam sawit, kehidupan mereka berubah. Mereka akhirnya bisa memiliki uang untuk membeli kebutuhan hidup lainnya. Uang juga bisa dikirim ke kampung untuk bangun rumah atau sekolahkan anak dll.

Bapak Ajutor kemudian membeli mobil pick up yang digunakannya untuk mengangkut hasil sawit. Menurut pengakuannya, panen sawit dari kebun sawitnya seluas 5 hektar itu menghasilkan uang per bulan 5 sampai 10 juta.

Di Sangatta sebagai ibukota Kabupaten Kutai Timur, ternyata banyak pula keluarga Paga, Mauloo, Wolowiro, Watuneso. Dikoordinir oleh bapak Wiwin yang dipercayakan sebagai ketua paguyuban, mereka meminta saya datang ke rumah untuk jumpa keluarga dan ibadat syukur. Setelah disetujui oleh pastor paroki, saya mengiyakan dan datang ke rumah bapak Wiwin sebagai tempat kumpul. Kami ibadat syukur dan makan bersama. Dalam ibadat itu saya memberikan renungan berdasarkan bacaan hari itu yang menginspirasi mereka untuk menyadari kehadiran mereka sebagai sebuah perutusan. Dengan demikian, mereka hendaknya selalu akrab dengan Tuhan, aktif dalam kehidupan menggereja sebagai sebuah kesaksian iman yang diberkati Tuhan. Dalam bincang-bincang, ternyata mereka lebih mengenal Guru Da dan kae Broni. Rumah mereka di Paga di dekat mesjid dan kantor desa. Mereka pernah mendengar tentang saya yang 25 tahun lalu misa syukur imamat di Seroara. Waktu itu mereka telah merantau ke Sangatta sehingga tidak ikut. Kisah itu mereka dengar dari orangtua mereka yang ikut misa di Seroara.

Akhirnya saya berjumpa dan mengenal keluarga saya di Sangatta ini. Semuanya karena penyelenggaraan Tuhan. Beberapa nama saya ingat: Bapak dan Mama Eka, serta anak-anak yakni Eka, Lia, Rani dan Eca. Lalu ada Bapak dan Mama Echa, Bapak dan Mama Sandro, Bapak dan Mama Rasti, Bapak dan Mama Susan. Dan lain-lain. Kami semua larut dalam sukacita, dalam sharing hidup, ubadat syukur dan perjamuan makan malam bersama. Tuhan memberkati semua keluarga saya ini.

Comments
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More