Siapa itu Mahatma Gandhi?
Mohandas Karamchand Gandhi dilahirkan pada tanggal 2 Oktober 1869 di Porbandar, Gujarat. Ayahnya, Kaba Gandhi adalah seorang diwan di Pengadilan Rajasthanik, sedangkan ibunya, Putlibai seorang ibu rumah tangga biasa. Keluarga Gandhi tergolong kasta Bania dan menganut agama Hindu dari sekte Vaishnav.
Gandhi menempuh pendidikan dasar dan menengah di kota Rajkot, karena ia harus mengikuti ayahnya yang pindah ke kota ini. Pada saat ia menempuh pendidikan menengah atau berusia kurang lebih tiga belas tahun ia telah dinikahkan dengan Kasturbai. Perkawinan Gandhi adalah hal yang biasa karena pada masa ini perkawinan di bawah umur merupakan tradisi. Keluarga baru ini nantinya dikaruniai tiga putra (Gandhi 1985: 23-24).
Pada tahun 1887, Gandhi lulus ujian masuk universitas di Ahmedabad dan kemudian ia memutuskan untuk kuliah di Samaldas College. Namun akhirnya ia keluar karena mendapat kesulitan dalam mengikuti kuliah di universitas tersebut. Selanjutnya, Mavji Dave, seorang Brahmana dan sahabat keluarga menganjurkan Gandhi untuk kuliah hukum di Inggris, mengingat pengacara lulusan Inggris akan mudah mendapat pekerjan di India. Anjuran ini tentu saja tidak serta merta disetujui keluarga Gandhi karena selain masalah biaya juga karena Gandhi adalah satu-satunya anggota kasta Bania yang akan ke luar negeri. Tak mengherankan bila sebagian anggota kasta mengucilkannya. Ibunya sendiri akhirnya merestui setelah mendengar janji Gandhi untuk tetap menjadi vegetaris dan setia pada istri (Gandhi 1985: 49-52).
Bhagavagita
Bhagavagita yang disingkat Gita mengajarkan tentang manusia ideal yakni manusia yang memiliki pekerti harmonis, mengabdi pada kemanusiaan, mengupayakan emansipasi bagi jiwanya, memiliki pengetahuan tentang Atman dan berbakti pada Tuhan. Perlu diketahui bahwa bagi seseoarang yang menalami Gita, maka dalam hidupnya akan selalu memandang sama terhadap sesama makhluk, baik itu seorang Brahmana orang hina tanpa kasta bahkan terhadap hewan. Artinya bahwa segala makhluk yang ada di semesta ini adalah saudara. Gandhi adalah seorang yang sangat berpegang teguh terhadap Gita. Tidak heran jika dalam setiap ajarannya selalu menginginkan agar setiap orang harus menyayangi kehidupan dan betapa pentingnya menghargai kehidupan.
Ahimsa
“Hanya dia, yang tersentuh anak panah kasih mengetahui kekuatan itu”. Sepenggal hymne ini terasa begitu dalam maknanya bagi Gandhi kecil. Saat itu ia sudah pasrah bila ayahnya murka, mengetahui anaknya berbuat salah, namun ketika Gandhi berterus terang yang muncul dari sang ayah adalah rasa kasih sayang. Bagi Gandhi, Ahimsa, pertama dialami sebagai suatu kekuatan. Kekuatan yang mencakup semuanya, tiada batasnya dan apapun yang disentuhnya akan berubah (Gandhi 1985:43).
Sebagai seorang yang meyakini Ahimsa, Gandhi juga menyadari akan keberadaan himsa. Apabila ditinjau lebih lanjut dapat dikatakan bahwa adanya ahimsa pengaruhi oleh himsa. Himsa adalah kebalikan dari ahimsa. Himsa artinya membunuh hidup sedangkan ahimsa ialah tindakan kebaikan yang menyayangi makhluk hidup. Tentang hal ini terlihat jelas bilamana dalam masyarakat bangsa terjadi perang, maka seseorang akan menghadapi dilema antara Ahimsa dan himsa. Untuk itu, Gandhi yang pernah berpartisipasi sebagai anggota korps ambulan dalam Perang Boer, Perang Zulu dan hampir terjun pada Perang Dunia I menyatakan bila dua bangsa bersengketa maka kewajiban penganut Ahimsa adalah menghentikan sengketa.
Kesimpulan
Dari beberapa uraian di atas, dapat dipahami bahwa alasan Gandhi menekankan ahimsa dan menjadikannya sebagai prinsip hidup karena dipengaruhi oleh himsa sebagai tindakan yang dilakukan dalam kehidupan di zamannya. Sehingga melalui hal ini dengan sendirinya kita tahu bahwa Gandhi adalah seorang pecinta kehidupan dan baginya hidup sangatlah berharga. Karena baginya, penyerangan terhadap orang merupakan penyerangan terhadap diri sendiri karena semua manusia adalah putra Pencipta yang sama. Jadi menghina satu orang berarti menghina Pencipta dan hal demikian bukan saja merugikan orang tersebut karena melalui dia merugikan seluruh dunia (Nasionalisme Humanistis Mahatma Gandhi, Wacana Vol. 9:2).
Apabila dibandingkan dengan kehidupan masyarakat dalam konteks sekarang, perlu diterapkan juga ahimsa dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu disebabkan karena kehidupan zaman sekarang, menyamakan kehidupan manusia dengan binatang. Masyarakat lebih memperjuangkan harta tanpa memandang betapa pentingnya menghargai kemanusiaan.