Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Gelar Sosialisasi Lectio Divina dan Pelatihan Fasilitator Katekese Kitab Suci di Paroki Haliwen

HALIWEN-Mahasiswa/i fakultas filsafat UNWIRA Kupang kelompok pengabdian kepada masyarakat (PKM) kembali menggelar kegiatan sosialisasi Lectio Divina (Bacaan Ilahi) dan pelatihan fasilitator Katekese Kitab Suci bagi umat paroki Haliwen yang melibatkan umat lingkungan Wehor, Wesasuit, Silala, dan Korbaun. Kegiatan tersebut bertempat di Aula paroki Haliwen, pada Kamis, 17 September 2026 tepat pukul 18.15 – selesai. Jenis kegiatan yang masih sama dan dipimpin oleh narasumber RD. Siprianus Soleman Senda juga moderator yang sama Fr. Matheus Tnopo, CMF. Kegiatan diawali dengan doa pembuka oleh Fr. Engki Tura. “Ina no Ama, Maun, Bin alin, mai ita neon no laran ba ida hodi tur no hanono lia fuan hosi Romo Sosialisasi Lectio Divina dan pelatihan fasilitator Katekese Kitab Suci”   Sapaan awal dalam bahasa tetun oleh MC Fr. No Bona bernuansa persaudaraan antar umat yang artinya Bapa, Mama, Kaka, Adik sekalian, marilah kita satukan hati dan pikiran untuk mendengarkan pemaparan materi oleh RD. Sipri tentang sosialisasi Lectio Divina dan pelatihan fasilitator Katekese.

Sebelum memasuki pada materi inti, narasumber melakukan pretest bagi umat berkaitan dengan pengetahuan dasar Kitab Suci, Lectio Divina dengan tujuan untuk mengetahui keadaan umat. Hasil yang diperoleh ialah bahwa umat belum memahami lebih dalam mengenai membaca Kitab Kitab Suci menggunakan metode Lectio Divina.

Narasumber menjelaskan materi dengan begitu menarik sehingga tidak menciptakan ketegangan bagi umat. Semua umat  diajak untuk bersikap rileks, sukacita untuk belajar memahami Kitab Suci.

Pada awalanya pikiran umat belum terbuka untuk memberikan pertanyaan mengenai isi teks Kitab Suci. Umat belum terbiasa membaca dan menggali isi Kitab Suci menggunakan metode Lectio Divina. Membaca teks lalu menggunakan metode 5W + 1 H. Tujuannya untuk memahami isi teks Kitab Suci.

Dalam tahap pelatihan fasilitator, narasumber memilih bacaan dari Injil Lukas 8:1-3. RD. Sipri menjadi fasilitator yang memipin dan mempraktikkan bagaimana menjadi seorang fasilitator. Dalam pelatihan dijelaskan metode Lectio Divina yang mencakup empat bagian yakni Lectio (Membaca), Meditatio (Renungan), (Oratio (doa), dan Actio (aksi nyata). Diharapkan bahwa agar umat  memahami lebih baik maka dilakukan lagi pelatihan dengan bacaan biblis Lukas 19:1-9 yang menceritakan tentang Yesus bejalan menuju Yerusalem melewati Kota Yerikho dan terjadilah Zakheus memanjat pohon untuk melihat Yesus karena orang banyak mengahalanginya. Situasi lebih hidup karena umat dipacu untuk menciptakan pertanyaan lalu menjawab pertanyaan itu sendiri. Ada beberapa umat yang berpartisipasi aktif dalam memberikan pertanyaan lalu menjawab. Beberapa pertanyaan tersebut misalnya  tentang “mengapa Yesus harus menumpang di rumah Zakheus, mengapa Zakheus lari mendahului Yesus dan orang banyak untuk memanjat pohon.”

Beranjak dari pertanyaan mendasar tentang Kitab Suci lalu umat diajak untuk menerjemahkan makna bacaan ke dalam hidup setiap hari. Makna bacaan direnungkan dan mensharingkan pengalaman yang berkaitan dengan isi bacaan Kitab Suci. Ada banyak hal yang dipelajari dari Yesus yakni rendah hati, menerima sesama yang berdosa. Sedangkan melalui Zakheus dapat dipelajari tentang perjuangan untuk keluar dari situasi sulit, masalah. Makna-makna Injil ini direnungkan oleh setiap orang bahwa bagaimana dengan saya, apakah saya sudah bersifat rendah hati, seringkali berjuang keluar dari situasi sulit dan sering kali menerima sesama yang berkekurangan.

Seusai pemaparan materi dan pelatihan, moderator memberi kesempatan bagi dua orang umat untuk menanggapi kegiatan sosialisasi Lectio Divina dan pelatihan fasilitator Katekese Kitab Suci yang telah berlangsung. “Selama ini hanya membaca Kitab Suci dan mengajarkan kepada anak tetapi tidak sampai pada tahap mendalami, merenungkan, dan mewujudkan dalam kehidupan setiap hari. Melalui kegiatan ini saya sangat bersyukur karena sudah mendapatkan bekal pengetahuan mengenai membaca Kitab Suci menggunakan metode Lectio Divina” kata Bapak Markus. Ada juga Ibu Yulia seorang ibu guru mengakui bahwa “materi ini sangat berguna bagi saya sebagai guru sehingga bisa membagikan kepada para siswa”

Diakhir kegiatan ini Fr. Matheus membuat kesimpulan bahwa Kitab Suci adalah Sabda Allah yang menjadi pedoman hidup dan sumber iman umat Katolik. Melalui Lectio Divina, kita belajar membaca, memahami, merenungkan, dan mendoakan Sabda Tuhan agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sosialisasi Kitab Suci bukan hanya tentang menambah pengetahuan, tetapi juga membangun komunikasi iman, kebersamaan, dan hubungan yang lebih dekat dengan Allah serta sesama.

Sebagai penutup ia melantunkan sebuah pantun

Buah pepaya di atas meja,

Dimakan bersama di waktu pagi.

Mari membaca Kitab Suci bersama,

Agar iman tumbuh setiap hari.

Kegiatan diakhirnya dengan doa penutup oleh Fr. Eleuterius A. Meka dan foto bersama Romo. Sipri, para umat, dan para mahasiswa-mahasiswi.