BATUGADE-Rangkaian kegiatan penelitian kolaboratif antara tim Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) dan Instituto Superior de Filosofia e Teologia (ISFIT) Dili resmi dimulai pada Minggu (13/9). Pembukaan agenda akademik ini ditandai dengan perayaan Misa hari Minggu bersama umat setempat yang dilangsungkan di Kapela Batugade.
Perayaan Ekaristi tersebut dimulai tepat pada pukul 08.30 TLT dan dipimpin oleh RD Louis Gouveia Leite sebagai selebran utama dan didampingi oleh tiga konselebran, yakni RD Siprianus S. Senda, RD Theodorus A. Silab, serta RD Patrisius Neonub. Misa berlangsung khidmat dengan kehadiran umat Kapela Batugade serta para mahasiswa dari Fakultas Filsafat UNWIRA dan ISFIT Dili.

Dalam homilinya, Romo Louis menekankan pentingnya menanamkan nilai cinta kasih dan pengampunan dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyampaikan pesan reflektif bahwa karena Tuhan telah terlebih dahulu mengasihi dan mengampuni manusia, maka sudah menjadi panggilan setiap orang beriman untuk senantiasa mengampuni sesama di sepanjang perjalanan hidup mereka. Menjelang akhir perayaan, para imam yang juga sebagai dosen peneliti memperkenalkan diri kepada umat yang hadir. Mereka memohon doa serta dukungan moril demi kelancaran seluruh rangkaian kegiatan penelitian yang akan dihelat di wilayah tersebut.
Setelah perayaan Misa, tim peneliti gabungan segera bergegas menuju Dusun Lotan, Desa Maudeku, untuk memulai agenda observasi lapangan. Di lokasi ini, tim dibagi menjadi tiga kelompok peneliti untuk mewawancarai dan mengumpulkan data dari empat narasumber kunci, yakni ketua suku, tokoh pemuda, tokoh masyarakat, dan warga yang bermukim di dekat lokasi yang dikeramatkan.
Dalam sesi wawancara, salah satu narasumber yakni Bapak Joao Tallo yang berstatus sebagai tokoh adat suku Batugade memberikan penjelasan mendalam mengenai konsep “Lulik”. Ia memaparkan berbagai hal terkait tradisi tersebut, mulai dari tempat dan benda yang dianggap lulik, hingga kriteria hal apa saja yang dapat dikategorikan sebagai lulik. Seusai sesi wawancara dan pengumpulan data, tim peneliti langsung mengadakan pertemuan kecil untuk merapikan dan mensistematisasi temuan awal yang telah terkumpul.

Penelitian hari pertama ini menjadi semakin istimewa karena bertepatan dengan prosesi awal pembangunan rumah adat dari suku Mane Hat. Prosesi sakral tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Suku Mane Hat, Bapak Luís Pires, serta dihadiri oleh pihak uma mane, pihak mane foun, dan sejumlah tokoh masyarakat setempat. Tim peneliti tidak hanya berfokus pada wawancara narasumber, tetapi juga mendapatkan kesempatan berharga untuk menyaksikan langsung prosesi budaya yang sarat makna tersebut. (Fr. Joaquin Fahik)