Haliwen-Kegiatan sosialisasi Lectio Divina (Bacaan Ilahi) dan Pelatihan Fasilitator Katekese Kitab Suci diselenggarakan oleh mahasiswa Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Bidang Kitab Suci Fakultas Filsafat-UNWIRA Kupang kepada umat lingkungan St. Simeon dan lingkungan Sta. Maria Ratu Surga Weraihenek pada Selasa, 08 September 2026. Masih dengan Narasumber yang sama yaitu Rm. Siprianus Soleman Senda Pr, kegiatan yang dipandu oleh Fr. Matheus Tnopo, CMF tersebut dimulai tepat pukul 18.30 WITA.

Kegiatan diawali dengan pengantar dan pretest mengenai pengetahuan dasar Kitab Suci baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Melalui pretest dapat diketahui bahwa pengetahuan umat masih minim dalam memahami Lectio Divina sebagai dialog iman dan pengajaran iman. Karena itu, pemahaman dasar mengenai Kitab Suci, Lectio Divina, dan fasilitator katekese menjadi penting agar umat tidak hanya membaca Sabda Allah tetapi juga mampu menghayati dan menerapkannya dalam kehidupan. Salah satu persoalan yang muncul ialah bagaimana menerjemahkan Sabda Allah ke dalam kehidupan sehari-hari. Umat tidak hanya diharapkan mengetahui isi Kitab Suci, tetapi juga mampu menghubungkan Sabda Allah dengan pengalaman hidup.
Rm. Siprianus menegaskan bahwa Sabda Allah harus diterjemahkan ke dalam kehidupan. Proses belajar dilakukan bersama melalui sharing dan Lectio Divina. Materi juga disampaikan secara dialogis dan interaktif melalui tanya jawab, sehingga peserta dapat saling memperkaya pengalaman dan pemahaman. Katekese bukan liturgi, bukan berdoa rorario, bukan duduk tegang, melainkan pengajaran iman, dialog iman, saling belajar sehingga bertumbuh dalam iman. “Membaca dan merenungkan Sabda Allah berarti menjadikan Sabda Tuhan sebagai pedoman hidup sehingga Kitab Suci dibaca, dipahami, direnungkan, dihayati, dan dijalankan dalam kehidupan setiap hari” ujar Rm. Siprianus. Sedangkan fasilitator bertugas memandu dan memperlancar jalannya kegiatan lectio Divina. Karena itu, fasilitator perlu mempersiapkan diri, menguasai bahan, dan menciptakan suasana dialog. Dalam proses sharing tidak perlu terjadi perdebatan; tanya jawab diarahkan untuk memperkaya pemahaman. Peserta dianjurkan menggunakan kata “saya” ketika menyampaikan pengalaman pribadi bukan pengalaman orang lain.
Ada beberapa umat berpendapat bahwa kegiatan ini sangat penting bagi mereka yang kurang mengerti mengenai langkah-langkah Lectio Divina dan bagaimana menjadi seorang fasilitator katekese. Ketua lingkungan menegaskan bahwa Orang Muda Katolik (OMK) harus mengikuti kegiatan ini dengan seksama karena merekalah yang meneruskan peran orang tua dalam hal menjadi fasilitator. (Fr. Engki Tura)