KUPANG – Dalam suasana penuh khidmat dan semangat baru, Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang secara resmi membuka tahun ajaran 2025/2026 melalui Misa Pembukaan yang berlangsung pada Senin, 18 Agustus 2025 pukul 08.00 WITA. Acara sakral ini mengangkat tema mendalam “Kristus Sumber Kebijaksanaan Hidup Sejati” dan dipimpin langsung oleh Yang Mulia Mgr Dr. Dominikus Saku, Pr., Uskup Atambua.
Dalam khotbah yang penuh inspirasi, Mgr. Dominikus Saku mengajak seluruh civitas akademika Fakultas Filsafat untuk mencintai kebijaksanaan yang sesungguhnya adalah Tuhan sendiri. Beliau menekankan bahwa pencarian kebijaksanaan sejati bukanlah sekadar aktivitas intelektual, melainkan perjalanan spiritual yang mengantarkan jiwa kepada ketenangan sejati dalam Tuhan.
“Tujuan Fakultas Filsafat sejalan dengan cita-cita bangsa Indonesia yang baru merayakan kemerdekaannya, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, sehingga kebodohan perlu untuk diberantas,” tegas Mgr. Dominikus Saku. Pernyataan ini menghubungkan misi akademik dengan panggilan nasional, menegaskan bahwa pendidikan filsafat memiliki peran strategis dalam membangun peradaban bangsa.
Uskup yang berpengalaman luas dalam pastoral migran ini kemudian mengulangi pesan abadi Santo Agustinus: “Hanya pada Tuhanlah jiwa kami tenang.” Kutipan klasik ini menjadi landasan teologis bagi seluruh kegiatan akademik di Fakultas Filsafat, menegaskan bahwa segala pencarian kebijaksanaan harus bermuara pada Allah sebagai sumber ultima.
Dalam bagian khotbah yang paling menggugah, Mgr. Dominikus Saku memberikan peringatan tajam mengenai beberapa dosa yang kerap menimpa para kaum berjubah dan intelektual Katolik. Beliau menyebut secara spesifik tiga godaan utama: penyembahan berhala, kesombongan intelektual, dan pemujaan berlebihan terhadap tokoh idola.
Peringatan ini bukan sekadar nasihat moral, tetapi panggilan untuk introspeksi mendalam bagi seluruh komunitas akademik. Kesombongan intelektual, khususnya, menjadi bahaya laten bagi mereka yang mendalami filsafat tanpa landasan spiritual yang kuat. Penyembahan berhala dapat berupa absolutisasi sistem pemikiran tertentu, sementara pemujaan tokoh idola dapat mengaburkan orientasi sejati pencarian kebenaran.

Mgr. Dominikus Saku menekankan pentingnya kesesuaian antara mutu iman dan mutu pengetahuan. Dua dimensi ini tidak boleh berjalan terpisah, melainkan harus terintegrasi dalam sintesis yang harmonis. Pengetahuan tanpa iman akan menjadi steril dan tidak bermakna, sementara iman tanpa pengetahuan dapat menjadi fanatisme yang berbahaya.
Dalam konteks pelayanan masyarakat, Mgr. Dominikus Saku mengingatkan tentang pentingnya mendedikasikan pengetahuan kepada masyarakat. Hal ini merupakan implementasi konkret dari perumpamaan talenta dalam Injil, di mana setiap pemberian dari Tuhan harus dikembangkan dan dimanfaatkan untuk kebaikan bersama.
“Ilmu yang tidak didedikasikan untuk masyarakat akan tetap mati seperti talenta yang dikubur,” ujar beliau, merujuk pada perumpamaan Yesus tentang hamba yang menyimpan talentanya tanpa mengembangkannya. Pesan ini menjadi tantangan bagi seluruh mahasiswa dan dosen Fakultas Filsafat untuk tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga berkomitmen pada transformasi sosial melalui ilmu pengetahuan.
Misa pembukaan ini dihadiri oleh seluruh mahasiswa/i Fakultas Filsafat dalam berbagai tingkat studi, menciptakan atmosfer kebersamaan lintas generasi akademik. Kehadiran para pemimpin rumah biara dari berbagai ordo religius menunjukkan dukungan luas komunitas Katolik terhadap misi pendidikan tinggi.
Representasi ordo-ordo religius yang hadir meliputi OMD, OCD, CMF, Scolaspio, Hati Kudus, dan Komunitas Pencinta Seminari (Kontas). Keberagaman ini merefleksikan kekayaan tradisi spiritual Katolik yang menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan ilmu filsafat di UNWIRA.
Lectio Brevis: Pastoral Kontekstual untuk Zaman Migrasi
Setelah Misa, acara dilanjutkan dengan Lectio Brevis bertema “Pastoral, Migran dan Perantau: Urgensi dan Strategi Pastoral Regio Nusra” dengan narasumber Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr. Sesi akademik ini dimoderatori oleh Saudara Efronius Nggode, mahasiswa Fakultas Filsafat semester 5, menunjukkan keterlibatan aktif mahasiswa dalam kegiatan ilmiah.
Pemilihan tema ini sangat strategis mengingat pengalaman dan keahlian luas Mgr. Dominikus Saku dalam bidang pastoral migran dan perantau. Beliau menjabat sebagai Ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian-Pastoral Migran dan Perantau Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan telah aktif dalam berbagai pertemuan pastoral terkait isu migrasi di wilayah Nusa Tenggara dan Indonesia.
Dalam visinya yang progresif, Mgr. Dominikus Saku menekankan bahwa migran perantau perlu dipandang sebagai subjek evangelisasi, bukan sekadar objek pastoral. Pendekatan ini mengubah paradigma pastoral dari charity-based menjadi empowerment-based, di mana migran diberdayakan untuk menjadi agen transformasi dalam komunitas mereka.
Lectio Brevis ini menjadi jembatan antara refleksi teologis dalam Misa dan aplikasi praktis dalam kehidupan pastoral. Mahasiswa Fakultas Filsafat diajak untuk tidak hanya mendalami konsep-konsep abstrak, tetapi juga memahami bagaimana filsafat dapat menjadi alat analisis untuk isu-isu kontemporer seperti migrasi, yang menjadi realitas sosial penting di wilayah Nusa Tenggara Timur.

Pembukaan tahun ajaran 2025/2026 ini bukan sekadar ritual akademik, tetapi deklarasi komitmen untuk membangun peradaban yang berkeadaban melalui pendidikan filsafat yang terintegrasi dengan iman Kristiani. Tema “Kristus Sumber Kebijaksanaan Hidup Sejati” menjadi kompas yang mengarahkan seluruh aktivitas akademik sepanjang tahun.
Bagi mahasiswa baru, acara ini menjadi pintu gerbang memasuki dunia pemikiran filosofis yang kaya tradisi sekaligus relevan dengan tantangan zaman. Bagi mahasiswa senior, ini adalah momentum untuk merefleksikan perjalanan intelektual mereka dan mempersiapkan diri sebagai lulusan yang siap berkontribusi pada masyarakat.
Para dosen dan staf akademik juga mendapat inspirasi untuk terus mengembangkan metode pembelajaran yang tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan spiritualitas mahasiswa. Integrasi antara ratio dan fides menjadi ciri khas pendidikan di Fakultas Filsafat UNWIRA.
Dengan demikian, tahun ajaran 2025/2026 dimulai dengan fondasi yang kokoh: kebijaksanaan yang bersumber pada Kristus, komitmen pada keunggulan akademik, kepedulian pada isu-isu sosial kontemporer, dan dedikasi untuk pelayanan masyarakat. Semangat ini diharapkan akan menginspirasi seluruh civitas akademika fakultas Filsafat untuk menjadi pribadi-pribadi yang bijaksana, beriman, dan berkarya nyata bagi kemajuan bangsa dan Gereja.
Reportase: Edi
Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang